Lestarikan dan Mainkan
Afifatuz Zuraidah (14/366083/SA/17540)
“Music is not only socially
constructed, but society is partly musically constructed”
(Thomas Turino)
Musik dihidupkan
untuk mewarnai hidup masyarakat yang bersangkutan, berbagai rupa musik
diciptakan untuk melengkapi sajian aktivitas hingga ritual masyarakat setempat.
Termasuk musik etnik yang tumbuh dan berkembang dari budaya masyarakat
setempat, yang jika ditelaah secara mendalam setiap elemen dan lirik yang
mengisi musik etnik tersebut merupakan pengungkapan dari fenomena-fenomena yang
dijadikan lagu dengan nada sedemikian rupa. Musik etnik selalu mempunyai ciri
khas, baik itu nada, lirik bahkan alat musik yang digunakan. Itulah mengapa
musik etnik harus selalu dilestarikan karena memang selalu berhubungan dengan
penggambaran sejarah masa lalu. Dan sekarang saya akan mengulas beberapa contoh
musik etnik sekaligus makna reflektif apa yang terkandung didalamnya.
Yang pertama
adalah musik etnik dari daerah Maluku yang berjudul “Oh Beilohy” atau lebih
mudahnya disebut dengan Tanah Maluku yang Kucinta. Dalam lagu yang berdurasi
05.39 tersebut memiliki beberapa elemen musik didalamnya. Seperti vokal yang
terdiri dari beberapa jenis suara, ada sopran, tenor dan alto. Karena jika
didengarkan dengan seksama dalam lagu Oh Beilohy ternyata dinyayikan oleh
beberapa orang dengan satu suara yang mendominasi. Penggunaan alat musik dalam
lagu yang mendayu-dayu ini menggunakan gitar akustik dan alat musik yang
dipukul semacam ketipung, sehingga terasa damai selama mendengarkan lagu
kebanggaan masyarakat Maluku tersebut. Lagu Oh Beilohy ini bercerita tentang ungkapan
rasa cinta terhadap tanah kelahiranya meskipun berada ditempat yang jauh. Walaupun
dalam lagu ini menggunakan bahasa maluku namun cukup mudah dipahami artinya
karena banyak persamaan dengan bahasa indonesia yang biasa kita gunakan. Lagu
yang terkesan melankolis ini memberikan gambaran bagaimana semangat kesukuan
masyarakat Maluku dan memberikan sisi lain dari masyarakat Maluku yang berwatak
keras namun mempunyai sisi yang romantis pula.
Yang kedua adalah lagu yang
dibawakan oleh Alif S dan Nanik Wijaya yang berjudul “Malaikat Loro” atau dalam
bahasa Indonesianya adalah dua malaikat. Ketika mendengarkan lagu ini, sekilas
seperti pujian-pujian sholawatan namun sudah dimainkan dengan cara yang lebih
modern. Pada awal main, musik ini menggunakan alat musik semacam rebana yang
dipukul secara bersamaan dengan tempo yang cepat, kemudian setelah itu
terdengan suara orjen dan kendhang yang khas yang biasanya saya dengarkan pada
musik sholawatan lainnya misalnya musik sholawatan dari Langitan, namun bedanya
dengan lagu yang ini adalah temponya yang lebih cepat dan banyak perumpamaan
yang digunakan dalam lirik lagu Malaikat Loro tersebut. Kemudian yang membuat
saya menikmati lagu ini adalah penggunaanya alat musik gamelan seperti gong,
bonang dan kendhang, sehingga terkesan
Jawa sekali apalagi ditambah ada suara seruling. Cukup menyenangkan
dalam mendengarkan lagu yang berdurasi 09.26 tersebut, karena selain musiknya
yang menenangkan kita juga bisa mengambil banyak pesan moral dari lagu ini.
Pada awal syair lagu memang banyak menggunakan perumpamaan, kemudian
ditengah-tengah hingga akhir baru tertangkap jelas maknanya apa. Sebenarnya
lagu Malaikat Loro ini menggambarkan bahwa kita harus selalu ingat dengan Yang
Maha Kuasa dan kita sebagai menusia jangalah sembrono atau hidup
sembarangan karena disamping kanan kiri kita ada yang menjaga, yaitu malaikat
rakib dan atid yang akan mencatat segala amal ibadah kita. Lagu ini seperti
syair-syair wali yang sarat dengan makna dan lirik lantunannya cocok sekali
dengan kultur orang Jawa. Pada zaman dahulu lagu-lagu seperti ini memang sangat
cocok digunakan untuk menyebarkan agama islam oleh para wali, kemudian ari
aspek psikologis, lantunan syair yang indah itu dapat menambah semangat
dan mengkondisikan suasana. Dan jika kita bisa mencermati dengan seksama,
penggunaan perumpamaan dan banyak kiasan bahasa pada awal lagu bisa diartikan
sebagai gambaran kepribadian orang jawa yang terkenal suka tak enak hati dan
lebih menyembunyikan unek-uneknya dibelakang. Selain itu lagu Malaikat
Loro berfungsi sebagai spiritual karena
sebagian lirik yang terkandung didalamnya sebagai upaya penghambaan diri (ibadah)
kepada Tuhan yakni untuk mempertebal rasa keimanan dan ketakwaan.
Yang ketiga adalah
lagu dari Sunda yang berjudul Kecapi Priangan, sebenarnya musik ini termasuk
musik instrumental yang menggunakan irama kecapi dan suara seruling khas sunda.
Mendengarkan paduan dua alat musik ini pikiran terasa sudah melanglang buana ke
Sunda, karena gabungan irama dari dua alat musik ini memang khas sekali dengan
suasana di Bandung seperti yang sudah pernah saya alami beberapa bulan yang
lalu ketika berkungjung ditanah orang Sunda tersebut. Biasanya isi ungkapan
yang diketengahkan dalam tembang Sunda salah satunya adalah tentang
keindahan-keindahan alam priangan. Kecapi merupakan alat musik tradisional
untuk musik klasik yang biasanya mewarnai beberapa kesenian di tanah Sunda, dan
cukup sulit untuk membuatnya karena harus menggunakan kayu kenanga yang
direndam selama tiga bulan terlebih dahulu. Sedangkan senarnya, kalau ingin
menghasilkan nada yang bagus, harus dari kawat suasa (logam campuran emas dan
tembaga), seperti kecapi yang dibuat tempo dulu. Nada dalam kecapi sunda
memiliki 5 ( pentatonis ) tangga nada yaitu Da, Mi, Na, Ti, La,. Kecapi sunda
sendiri ada beberapa macam seperti Kacapi Parahu dan Kecapi
Siter. Sedangkan menurut fungsinya dalam mengiringi musik, kecapi dimainkan
sebagai 1. Kacapi Indung (kacapi
induk); dan
2. Kacapi Anak atau Kacapi Rincik (Keunikan Alat Musik Tradisional Sunda)
dan menurut saya kecapi memang sangat pas jika dimainkan dengan suling
sunda/suling bambu. Suling Sunda sendiri terbuat dari bambu Tamiang, salah satu
jenis bambu yang tipis dan diameter kecil sehingga cocok untuk dibuat seruling.
Perpaduan dua alat musik tradisional ini seperti pada musik instrumental Kecapi
Priangan memang sangat menggambarkan suasana tanah Sunda. Damai dan
menenangkan, seperti itulah kesan yang saya dapatkan ketika mendengarkan lagu
tersebut. Ketika mendengarkan musik Kecapi Priangan ini, saya sangat familiar
dengan beberapa iramanya, seperti ada pada tembang-tembang jawa namun saya lupa
judul lagunya apa.
Dari penjelasan
saya diatas, sangatlah tidak rugi jika kita memang harus melestarikan
musik-musik etnik seperti yang sudah saya uraikan diatas. Khususnya bagi kaum
remaja, yang benar-benar harus peka terhadap kebudayaan yang kita miliki,
jangan sampai ketika sudah diklaim oleh pihak lain kita baru bertindak.
Alangkah baiknya kalau melestarikan itu bukan ketika akan mulai punah namun
ketika kita masih mempunyai kekayaan kebudayaan mari kita lestarikan dari awal.
Namun tak cukup hanya sekedar melestarikan, hal tersebut juga membutuhkan
generasi yang paham akan seni dan kepemilikan. Jika kita sudah andil dalam
melestarikan mari selanjutnya kita mainkan, bukan hanya menjaga alat musiknya
saja, melainkan mari kita mainkan kemudian siapa tahu bisa kita pentaskan
sebagai sarana promosi budaya. Karena sebenarnya yang perlu dilestarikan itu
bukan sekedar alatnya namun juga kemampuan manusianya untuk menjaga kebudayaan
mereka sendiri. Musik etnik juga bisa menjadi identitas bangsa kita, Indonesia.
Maka mari lestarikan dan mainkan. Salam Budaya.
Daftar Pustaka :