Kamis, 01 Januari 2015

APRESIASI MUSIK ETNIK

Lestarikan dan Mainkan
Afifatuz Zuraidah (14/366083/SA/17540)
“Music is not only socially constructed, but society is partly musically constructed”
(Thomas Turino)
            Musik dihidupkan untuk mewarnai hidup masyarakat yang bersangkutan, berbagai rupa musik diciptakan untuk melengkapi sajian aktivitas hingga ritual masyarakat setempat. Termasuk musik etnik yang tumbuh dan berkembang dari budaya masyarakat setempat, yang jika ditelaah secara mendalam setiap elemen dan lirik yang mengisi musik etnik tersebut merupakan pengungkapan dari fenomena-fenomena yang dijadikan lagu dengan nada sedemikian rupa. Musik etnik selalu mempunyai ciri khas, baik itu nada, lirik bahkan alat musik yang digunakan. Itulah mengapa musik etnik harus selalu dilestarikan karena memang selalu berhubungan dengan penggambaran sejarah masa lalu. Dan sekarang saya akan mengulas beberapa contoh musik etnik sekaligus makna reflektif apa yang terkandung didalamnya.
            Yang pertama adalah musik etnik dari daerah Maluku yang berjudul “Oh Beilohy” atau lebih mudahnya disebut dengan Tanah Maluku yang Kucinta. Dalam lagu yang berdurasi 05.39 tersebut memiliki beberapa elemen musik didalamnya. Seperti vokal yang terdiri dari beberapa jenis suara, ada sopran, tenor dan alto. Karena jika didengarkan dengan seksama dalam lagu Oh Beilohy ternyata dinyayikan oleh beberapa orang dengan satu suara yang mendominasi. Penggunaan alat musik dalam lagu yang mendayu-dayu ini menggunakan gitar akustik dan alat musik yang dipukul semacam ketipung, sehingga terasa damai selama mendengarkan lagu kebanggaan masyarakat Maluku tersebut. Lagu Oh Beilohy ini bercerita tentang ungkapan rasa cinta terhadap tanah kelahiranya meskipun berada ditempat yang jauh. Walaupun dalam lagu ini menggunakan bahasa maluku namun cukup mudah dipahami artinya karena banyak persamaan dengan bahasa indonesia yang biasa kita gunakan. Lagu yang terkesan melankolis ini memberikan gambaran bagaimana semangat kesukuan masyarakat Maluku dan memberikan sisi lain dari masyarakat Maluku yang berwatak keras namun mempunyai sisi yang romantis pula.
            Yang kedua adalah lagu yang dibawakan oleh Alif S dan Nanik Wijaya yang berjudul “Malaikat Loro” atau dalam bahasa Indonesianya adalah dua malaikat. Ketika mendengarkan lagu ini, sekilas seperti pujian-pujian sholawatan namun sudah dimainkan dengan cara yang lebih modern. Pada awal main, musik ini menggunakan alat musik semacam rebana yang dipukul secara bersamaan dengan tempo yang cepat, kemudian setelah itu terdengan suara orjen dan kendhang yang khas yang biasanya saya dengarkan pada musik sholawatan lainnya misalnya musik sholawatan dari Langitan, namun bedanya dengan lagu yang ini adalah temponya yang lebih cepat dan banyak perumpamaan yang digunakan dalam lirik lagu Malaikat Loro tersebut. Kemudian yang membuat saya menikmati lagu ini adalah penggunaanya alat musik gamelan seperti gong, bonang dan kendhang, sehingga terkesan  Jawa sekali apalagi ditambah ada suara seruling. Cukup menyenangkan dalam mendengarkan lagu yang berdurasi 09.26 tersebut, karena selain musiknya yang menenangkan kita juga bisa mengambil banyak pesan moral dari lagu ini. Pada awal syair lagu memang banyak menggunakan perumpamaan, kemudian ditengah-tengah hingga akhir baru tertangkap jelas maknanya apa. Sebenarnya lagu Malaikat Loro ini menggambarkan bahwa kita harus selalu ingat dengan Yang Maha Kuasa dan kita sebagai menusia jangalah sembrono atau hidup sembarangan karena disamping kanan kiri kita ada yang menjaga, yaitu malaikat rakib dan atid yang akan mencatat segala amal ibadah kita. Lagu ini seperti syair-syair wali yang sarat dengan makna dan lirik lantunannya cocok sekali dengan kultur orang Jawa. Pada zaman dahulu lagu-lagu seperti ini memang sangat cocok digunakan untuk menyebarkan agama islam oleh para wali, kemudian ari aspek psikologis, lantunan syair yang indah itu dapat menambah semangat dan mengkondisikan suasana. Dan jika kita bisa mencermati dengan seksama, penggunaan perumpamaan dan banyak kiasan bahasa pada awal lagu bisa diartikan sebagai gambaran kepribadian orang jawa yang terkenal suka tak enak hati dan lebih menyembunyikan unek-uneknya dibelakang. Selain itu lagu Malaikat Loro berfungsi sebagai spiritual karena sebagian lirik yang terkandung didalamnya sebagai upaya penghambaan diri (ibadah) kepada Tuhan yakni untuk mempertebal rasa keimanan dan ketakwaan.
            Yang ketiga adalah lagu dari Sunda yang berjudul Kecapi Priangan, sebenarnya musik ini termasuk musik instrumental yang menggunakan irama kecapi dan suara seruling khas sunda. Mendengarkan paduan dua alat musik ini pikiran terasa sudah melanglang buana ke Sunda, karena gabungan irama dari dua alat musik ini memang khas sekali dengan suasana di Bandung seperti yang sudah pernah saya alami beberapa bulan yang lalu ketika berkungjung ditanah orang Sunda tersebut. Biasanya isi ungkapan yang diketengahkan dalam tembang Sunda salah satunya adalah tentang keindahan-keindahan alam priangan. Kecapi merupakan alat musik tradisional untuk musik klasik yang biasanya mewarnai beberapa kesenian di tanah Sunda, dan cukup sulit untuk membuatnya karena harus menggunakan kayu kenanga yang direndam selama tiga bulan terlebih dahulu. Sedangkan senarnya, kalau ingin menghasilkan nada yang bagus, harus dari kawat suasa (logam campuran emas dan tembaga), seperti kecapi yang dibuat tempo dulu. Nada dalam kecapi sunda memiliki 5 ( pentatonis ) tangga nada yaitu Da, Mi, Na, Ti, La,. Kecapi sunda sendiri ada beberapa macam seperti Kacapi Parahu dan Kecapi Siter. Sedangkan menurut fungsinya dalam mengiringi musik, kecapi dimainkan sebagai 1. Kacapi Indung (kacapi induk); dan
2. Kacapi Anak atau Kacapi Rincik (Keunikan Alat Musik Tradisional Sunda) dan menurut saya kecapi memang sangat pas jika dimainkan dengan suling sunda/suling bambu. Suling Sunda sendiri terbuat dari bambu Tamiang, salah satu jenis bambu yang tipis dan diameter kecil sehingga cocok untuk dibuat seruling. Perpaduan dua alat musik tradisional ini seperti pada musik instrumental Kecapi Priangan memang sangat menggambarkan suasana tanah Sunda. Damai dan menenangkan, seperti itulah kesan yang saya dapatkan ketika mendengarkan lagu tersebut. Ketika mendengarkan musik Kecapi Priangan ini, saya sangat familiar dengan beberapa iramanya, seperti ada pada tembang-tembang jawa namun saya lupa judul lagunya apa.
            Dari penjelasan saya diatas, sangatlah tidak rugi jika kita memang harus melestarikan musik-musik etnik seperti yang sudah saya uraikan diatas. Khususnya bagi kaum remaja, yang benar-benar harus peka terhadap kebudayaan yang kita miliki, jangan sampai ketika sudah diklaim oleh pihak lain kita baru bertindak. Alangkah baiknya kalau melestarikan itu bukan ketika akan mulai punah namun ketika kita masih mempunyai kekayaan kebudayaan mari kita lestarikan dari awal. Namun tak cukup hanya sekedar melestarikan, hal tersebut juga membutuhkan generasi yang paham akan seni dan kepemilikan. Jika kita sudah andil dalam melestarikan mari selanjutnya kita mainkan, bukan hanya menjaga alat musiknya saja, melainkan mari kita mainkan kemudian siapa tahu bisa kita pentaskan sebagai sarana promosi budaya. Karena sebenarnya yang perlu dilestarikan itu bukan sekedar alatnya namun juga kemampuan manusianya untuk menjaga kebudayaan mereka sendiri. Musik etnik juga bisa menjadi identitas bangsa kita, Indonesia. Maka mari lestarikan dan mainkan. Salam Budaya.

Daftar Pustaka :         
Wafik, Ilzamul. https://www.academia.edu/4677693/Syair_Wali_Tanah_Jawa. Diakses pada 31   Desember 2014.
Budiramli.2012. https://buram91.wordpress.com/2012/02/10/tembang-dan-kawih/. Diakses pada 31 Desember 2014.