Kamis, 08 Mei 2014

Terpendam dalam Diam



Terpendam dalam Diam
            Kini suasana kelas menjadi lebih kondusif untuk belajar, mengingat kita sudah beranjak ke kelas XII IPS yang sebentar lagi akan kelulusan. Hampir tiga tahun aku telah mengenal seseorang yang sudah menjadi pengisi cerita dalam keseharianku selama satu tahun terakhir ini. Anak itu terkadang sering menjadi tidak normal dan aneh, layaknya dia sedang memainkan peran dengan karakter yang selalu berubah-ubah. Banyak cerita yang terbangun seiring dengan berjalannya persahabatan kita, bahkan kita sampai mendeklarasikan telah membangun sebuah keluarga. Keluarga yang humoris dan selalu mempunyai kebiasaan menonton bersama acara YKS di TV setiap hari sabtu malam minggu. Pertemuan untuk sebuah kebersamaan bukanlah hal yang rumit bagi kita karena kita hidup dalam asrama sekaligus satu kelas. Asrama yang kita tinggali terdiri dari Asrama A untuk siswi dan Asrama B untuk siswa, kemudian disampingya ada sebuah kantin berlantai dua untuk tempat makan kita sehari-hari. Asrama yang sekaligus satu lokasi dengan sekolah kita, menjadi saksi dari banyak pelaku sejarah yang ada disini selama tiga tahun, termasuk kita. Ada sejarah yang masih tertinggal dan ada pula yang sudah dipacking oleh sang pelaku lalu dibawanya pergi. Kini giliran aku dan dia menjadi pelaku sejarah yang tertahan dalam diam.
            “nanti malam kita jadi belajar apa?” Seseorang yang mengagetkanku dari samping namun aku telah hafal betul dengan suara tersebut. Iya, itulah dia lelaki yang terkadang tidak normal karena kehumorisanya, namun sekarang waktu telah menuntun perasaanku akan rindu kepadanya. Devlin.
            “aku mau pendalaman ekonomi aja deh, kamu tahu kan nilaiku selalu mepet dengan KKM? Kamu yang lebih pintar dari aku jadi kamu harus memprivatku.” Dengan sedikit senyuman aku menjawab tanpa rasa canggung. Inilah jadwal kita setiap jam 18.30 WIB yaitu belajar bersama dikantin lantai dua. Kantin yang letaknya disebelah Asrama B ini selalu menjadi pilihan untuk belajar, selain karena suasana yang nyaman dan sepi juga karena kita bisa melihat pemandangan kilauan lampu pemukiman warga yang terletak dikaki gunung Putri Tidur. Asrama yang aku tempati memang menyimpan pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Setiap pagi sampai menjelang sore kita disambut dengan gumpalan awan yang membentuk baris, putih tebal dan dengan tegas memberi isyarat agar mata kita selalu memandang eloknya. Ketika sudah sore menjelang sholat magrib mata kita akan disuguhkan dengan warna oranye berbaur dengan gradasi warna kuning dan masih meninggalkan langit birunya. Gunung Putri Tidur dan Mercusuar yang langsung bisa kita lihat dari depan asrama memberikan bentuk dan siluet dari anugrah Tuhan yang hampir tersaji setiap hari didepan mata kita. Inilah yang menjadi alasan mengapa aku selalu mencintai senja dengan langit oranyenya, seolah-olah memberikanku ketenangan dibalik rasa rindu yang terus mengoceh menginginkan pertemuan dengan seseorang yang jauh disana.
Senja menjadi pelarianku untuk sejenak vakum dari seorang lelaki yang selalu aku pertahankan selama 4 tahun ini. Tidak ada yang istimewa dengan cara yang aku lakukan, namun setidaknya aku bisa mematikan sejenak untuk mencintai hal lain, selain seorang yang selalu tak acuh namun tetap aku perjuangkan.
“ayo makan dulu, mumpung makanya sudah datang, daripada kamu harus bolak-balik asrama kantin.” Serunya ketika berjalan bersama disampingku namun tak ku pedulikan perintahnya.
            “wiiih, langitnya bagus banget sore ini, sayang aku enggak bawa kamera.” Dengan penuh penyesalan aku menjawab jauh dari pertanyaan Devlin. Photography memang sudah menjadi hobiku meskipun aku belum mempunyai kamera sendiri, namun setidaknya aku sudah tahu bakat terpendamku ada dimana.
“Lexa, makan.” Devlin sedikit meninggikan nada suaranya disampingku. “kamu enggak bosen dengan warna yang selalu monoton tiap sore seperti itu?” Dia menegurku, mengingatkan bahwa ada hal yang lebih menarik dari pada sebuah warna oranye yang terkadang bergaris tegas. Iya, hal penting itu adalah dia dengan selera humornya yang selalu membuatku tertawa seperti tanpa ada beban.
“Dasar cowok yang enggak punya selera art tinggi, langit sore ini lebih indah dari pada kemarin tau.” Aku menghela napas panjang dengan menyebut pujian untuk rasa syukurku terhadapa Maha Pencipta. “Iya, iya aku makan langsung kok, tapi awas jangan tinggal lagi seperti kemarin!” Hardikku terhadapnya.
“Makanya kalau makan itu yang cepet, nasinya jangan dibatik mbak yu!” Dia mengejekku sambil terus mendahuluikku memasuki kantin.
Hari terus berjalan berganti dengan minggu, membawa kebersamaan baru yang semakin dekat. Tanpa aku meminta selalu ada kenyamanan yang aku dapatkan dari Devlin dan aku tak menyadari bahwa pintu hatiku telah mengizinkan seseorang untuk membukanya kembali. Dia menyadarkanku bahwa perasaan yang aku punya selama ini terhadap seseorang adalah perasaan yang idealis. Dia memang ada, namun pada kenyataanya sosok yang selalu aku nanti datang dengan membawa kebahagiaan yang aku rindukan tapi meninggalkan harapan-harapan kosong. Aku sangat berharap bahwa Devlin tak akan sekejam itu, namun aku sendiri masih meyakinkan diri apakah aku memang benar-benar jatuh cinta kembali. Aku memang bukan sosok yang gamblang dengan kata cinta, aku gengsi dengan kata itu. Aku juga bukan wanita yang romantis, namun jika diminta aku bisa menjadi lebih dari itu. Entah perasaan seperti apa yang aku turuti, tapi naluri mengalirkan perasaanku untuk selalu memberikan perhatian kepada Devlin meskipun hanya sedikit. Sedikit, karena aku tak mau dia tahu bahwa perhatianku terhadapnya adalah lebih dari teman. Biarkan aku sendiri dulu yang tahu, memendam dan berlagak biasa menyembunyikan gejolak perasaan yang mulai benar-benar aku sadari bahwa aku memang bisa jatuh cinta, lagi.
Malam ini akan menjadi malam yang sama seperti malam lainya, berkutat dengan soal-soal pilihan untuk persiapan Tryout sekolah tiga hari kedepan. Devlin selalu ada ketika aku mengalami kesulitan pada mata pelajaran UNAS, karena kita anak asrama jadi tak ada kesulitan bagi kita untuk belajar bersama pada malam hari. Awalnya aku ingin belajar sendiri namun ternyata banyak kesulitan yang aku dapat ketika mengerjakan soal. Meskipun sudah sering beberapa kali aku dan Devlin belajar bersama, kali ini aku ragu untuk mengajaknya, memintanya untuk menjadi tentorku lagi, lagi dan lagi. Sebenarnya bukan ragu tapi lebih tepatnya aku takut mengganggunya. Devlin adalah tipe orang yang selalu belajar dengan serius sedangkan aku tak bisa, satu kali mengajari tidak cukup membuatku langsung mengerti tapi harus berulang kali. Niatku masih akan meraih handphoneku yang ada diatas ranjang namun ternyata sudah ada satu pesan masuk ketika aku baru saja melihat hp-ku.
Lexa, jangan lupa nanti belajar bareng ya, jam 18.30 dikantin atas.” Aku baca tertera nama Devlin sebagai pengirim. Sontak aku menjadi girang dan berenergi, seakan-akan seperti baterai laptopku yang sudah dicharge penuh. Aku segera bergegas untuk bersiap-siap sholat magrib berjamaah lalu menuju kantin untuk makan malam dan setelah itu menuju tentor yang selalu datang lebih dulu ketimbang aku.
“Oke, jadi malam ini kamu minta dijelasin tentang apa?” Devlin bertanya tanpa memandang kepadaku sedikitpun.
“Aku mau dijelasin Matematika tentang baris dan deret aja, aku masih sangat bingung dengan bab itu.” Cerocosku sambil membenarkan kerudung yang aku pakai. Lalu aku duduk disampingya.
“Sekarang siapkan soal-soal yang menurutmu sulit, lalu kerjakan sebisamu setelah itu baru aku akan mengoreksinya.” Dengan mudahnya dia memerintahku seakan-akan dia adalah ayahku dan aku anaknya yang tak mau belajar.
Beberapa menit berjalan aku masih berkutat denga soal-soal yang membingungkan dan selalu menjadi kelemahanku dalam Matematika. Aku memang tak terlalu suka dengan soal cerita jadi selalu aku tinggalkan untuk mengerjakan soal yang lain. Ditengah heningnya suasana di Kantin lantai 2, dia tiba-tiba bertanya kepadaku dengan raut wajah khawatir.
“Kamu sakit? Wajahmu kok pucat sekali? Sudah makan kan?” Tanpa ada jeda dia melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku heran.
“Enggak, aku sehat-sehat aja.” Dengan mata menyipit aku menjawab pertanyaanya. Kamu tumben banget bertanya seperti itu, apakah kamu membalas kepedulianku terhadapmu selama ini? Dengan senyum yang tertahan aku membatin pertanyaan tersebut.
“Syukurlah kalau gitu, ingat ya kamu juga harus menjaga kodisimu bukan hanya menasehatiku aja. Disini kamu jauh dari keluargamu loh, jadi kalau sakit kamu bakalan tambah susah. Sedangkan aku juga bukan perawatmu.” Dengan nada yang datar dia memberiku wejangan yang membuatku langsung mengingat seseorang yang selalu aku rindukan. Iya, siapa lagi kalau bukan Naufal. Sosok yang masih aku perjuangkan sampai sekarang.
 Setelah melalui penjelasan yang panjang lebar aku mulai mahir dan akrab dengan Barisan dan Deret. Ini bukan keajaiban tapi aku baru menyadari bahwa bab Barisan dan Deret tak sesulit yang aku kira. Jam sudah menunjukkan waktu 21.00 dan setengah jam lagi jam malam asrama akan berlaku yang berarti kita harus kembali kekamar masing-masing. Terlihat lampu-lampu temaran malam yang berkelap-kelip membiusku dalam lamunan. Mengingat wejangan dari Devlin beberapa menit yang lalu, ingat ya kamu juga harus menjaga kodisimu bukan hanya menasehatiku aja. Disini kamu jauh dari keluargamu loh, jadi kalau sakit kamu bakalan tambah susah. Sedangkan aku juga bukan perawatmu. Masih terngiang benar kalimat itu karena kemarin Naufal juga mengatakan hal yang sama kepadaku ketika dia tahu aku sudah masuk klinik dua hari karena terlalu capek. Kini aku meragukan apakah aku memang benar-benar jatuh cinta kembali atau tidak ketika tali yang aku simpulkan masih terikat dengan seseorang yang tak kumiliki namun aku takut kehilangan dia.
Perhatian yang aku berikan kepada Devlin mungkin dia anggap hanya sebatas kepedulian terhadap teman. Tanpa dia meminta aku berusaha selalu ada disampingnya secara langsung ataupun tidak langsung. Sekali lagi ini adalah naluri yang menuntunku untuk menjaga satu kunci yang hampir berhasil membuka pintu hatiku. Tentang jatuh cinta dan dia. Waktu membiasakanku pada kebersamaan, memberikanku kenyamanan dan menyadarkanku akan takut kehilangan. Aku tak mau bermain tebak-tebakan perasaan lalu aku sendiri yang menjawabnya, biarkan kali ini aku menepis perasaanku yang tak karuan. Kali ini aku biarkan perasaanku mengalah dengan ego meskipun masih ada luka yang basah dan aku tak mau malah semakin parah.
Dua hari ini aku tahu bahwa Devlin mengikuti lomba olimpiade ekonomi ke Jakarta dan aku tak tahu kapan dia akan pulang. Aku mencoba memberanikan diri meraih hp-ku lalu mengetik beberapa karakter agar penasaranku terjawab.
Gimana lombanya? Sudah pulang apa belum?” Ada laporan pesan terkirim, tapi aku kebingungan dengan apa yang sudah aku lakukan sendiri. Padahal ini hanya sebuah pesan singkat yang seperti biasa aku kirim bahkan itu hal yang sangat wajar, tapi karena adanya perasaan lain hal tersebut menjadi tidak wajar. Tuhan, kenapa aku begitu payah? Selang beberapa menit ada pesan masuk dan tertera namanya. Devlin.
sudah, belajar bareng ya nanti malam ditempat biasa – Devlin” Wow, dia bisa membaca pikiranku ternyata. Dia memang cowok yang peka. Semangatku membuncah ketika aku sudah mempersiapkan pelajaran untuk besok serta tak lupa membawa roti biskuit Roma Kelapa kesukaanku. Dengan langkah yang tegas aku berjalan menuju tempat dimana awal perasaan itu ada.
Malam ini kita belajar kelompok dengan 3 orang, berdiskusi tentang materi matematika lagi. Setiap pertanyaan yang aku ajukan Devlin selalu bisa menjelaskan dengan tepat. Sesekali aku merasa bosan dan mengantuk lalu aku ngemil biskuit yang aku bawa.
“ini ada biskuit, bisa dimakan.” Suguhku seperti tuan rumah kepada tamunya.
“biskuit roma lagi? Kamu beli berapa kardus memang, perasaan enggak pernah habis?” tanyanya penasaran seakan-akan mengejek kebiasaanku memakan biskuit Roma.
“kalau enggak mau, enggak usah menghina makanan. Ini sudah kebiasaanku, untung aku masih mau berbagi. Lagian ini lebih sehat dari pada jajanan yang biasa kamu makan, rasanya pedas dan pasti banyak MSGnya.” Aku mendumel penuh kesal.
“bukannya begitu, aku cuman pengen tahu aja. Iya deh percaya.” Aku melihat dengan ekor mataku dia sedikit tertawa. “biskuit ini selalu menemani kita belajar, bisa jadi ini makanan khas kita.” sepertinya dia sedikit membujukku dengan rayuannya.
Iya, dan aku harap ini bisa menjadi salah satu pengingatmu tentangku jika kita berpisah nanti, oleh jarak dan waktu yang selalu menaburkan rindu. Ingat aku, meskipun hanya dengan sepotong biskuit. Aku bergumam dalam hati berharap lagi kamu bisa membaca pikiranku.
“eh, kamu sudah pernah pacaran berapa kali?” aku bertanya penuh penasaran ketika temanku yang satu tadi tiba-tiba memtuskan untuk kembali keasrama karena ngantuk berat. Kini tinggalah kita lagi, diriku dan Devlin.
“oo, banyak.” Dengan penuh semangat dia langsung menjawab dan aku sedikit tersentak dengan jawabanya. “sekitar tiga kali mungkin, dan kamu tahu aku sudah pernah berpacaran dengan kakak kelasku, adik kelas dan sekarang aku sedang menjalin hubungan dengan teman seangkatanku pas waktu SMP”. Ada sesak yang merambat ketika aku akan memberikan respon, hati ini rasanya tersentak tak karuan hebatnya dan terasa seperti menahan teriakan kencang. Ingin rasanya berteriak kencang namun mulut tak bisa diajak berkompromi karena harus mengembangkan senyum untuk pernyataan yang baru saja aku dengar. Secepat inikah hatiku akan jauh kembali dari rasa menyayangi seseorang, ketika kenyamanan mulai aku rasakan. Kita sudah dekat namun hati kita masih jauh, dan rasa takut kehilanganku terhadapmu semakin besar. Haruskah aku mengalah? Lagi. Aku harap dia mendengar apa yang aku katakan dalam hati, namun itu sangatlah mustahil.
“kamu hebat sekali”. Dengan meringis aku menjawab dan sebisa mungkin memberikan senyum termanisku.
            “Enggak juga sih, tapi kali ini  aku sedang masa Long Distance Relationship, hehehe”. Dia menjawab dengan senyum kecil yang mulai aku rindukan. Lalu aku membalasnya dengan tertawa seolah-olah hatiku baik-baik saja.
Ketika sudah seperti ini tak ada yang bisa disalahkan, selain secepat mungkin menarik dan menutup kembali pintu hati yang sudah mulai aku buka untuk pendatang baru setelah terkunci selama 4 tahun. Mungkin ini hanya tumpangan sementara untuk perasaanku, melupakan sejenak seperti apa yang aku harapkan. Yang jelas aku masih membutuhkan persahabatanku dengan Devlin meskipun kenyamanan dan kepedulian yang aku dapatkan akan memberikan makna yang lain. Masih tentang satu kata yang sama yaitu “menyayangi” namun dengan arti yang berbeda.
Bersambung....