Terpendam dalam Diam
Kini suasana kelas menjadi lebih
kondusif untuk belajar, mengingat kita sudah beranjak ke kelas XII IPS yang
sebentar lagi akan kelulusan. Hampir tiga tahun aku telah mengenal seseorang yang
sudah menjadi pengisi cerita dalam keseharianku selama satu tahun terakhir ini.
Anak itu terkadang sering menjadi tidak normal dan aneh, layaknya dia sedang
memainkan peran dengan karakter yang selalu berubah-ubah. Banyak cerita yang
terbangun seiring dengan berjalannya persahabatan kita, bahkan kita sampai
mendeklarasikan telah membangun sebuah keluarga. Keluarga yang humoris dan
selalu mempunyai kebiasaan menonton bersama acara YKS di TV setiap hari sabtu
malam minggu. Pertemuan untuk sebuah kebersamaan bukanlah hal yang rumit bagi
kita karena kita hidup dalam asrama sekaligus satu kelas. Asrama yang kita
tinggali terdiri dari Asrama A untuk siswi dan Asrama B untuk siswa, kemudian
disampingya ada sebuah kantin berlantai dua untuk tempat makan kita sehari-hari.
Asrama yang sekaligus satu lokasi dengan sekolah kita, menjadi saksi dari
banyak pelaku sejarah yang ada disini selama tiga tahun, termasuk kita. Ada
sejarah yang masih tertinggal dan ada pula yang sudah dipacking oleh
sang pelaku lalu dibawanya pergi. Kini giliran aku dan dia menjadi pelaku
sejarah yang tertahan dalam diam.
“nanti malam kita jadi belajar apa?”
Seseorang yang mengagetkanku dari samping namun aku telah hafal betul dengan
suara tersebut. Iya, itulah dia lelaki yang terkadang tidak normal karena
kehumorisanya, namun sekarang waktu telah menuntun perasaanku akan rindu
kepadanya. Devlin.
“aku mau pendalaman ekonomi aja deh,
kamu tahu kan nilaiku selalu mepet dengan KKM? Kamu yang lebih pintar dari aku
jadi kamu harus memprivatku.” Dengan sedikit senyuman aku menjawab tanpa rasa
canggung. Inilah jadwal kita setiap jam 18.30 WIB yaitu belajar bersama
dikantin lantai dua. Kantin yang letaknya disebelah Asrama B ini selalu menjadi
pilihan untuk belajar, selain karena suasana yang nyaman dan sepi juga karena
kita bisa melihat pemandangan kilauan lampu pemukiman warga yang terletak
dikaki gunung Putri Tidur. Asrama yang aku tempati memang menyimpan pemandangan
alam yang luar biasa indahnya. Setiap pagi sampai menjelang sore kita disambut
dengan gumpalan awan yang membentuk baris, putih tebal dan dengan tegas memberi
isyarat agar mata kita selalu memandang eloknya. Ketika sudah sore menjelang
sholat magrib mata kita akan disuguhkan dengan warna oranye berbaur dengan
gradasi warna kuning dan masih meninggalkan langit birunya. Gunung Putri Tidur
dan Mercusuar yang langsung bisa kita lihat dari depan asrama memberikan bentuk
dan siluet dari anugrah Tuhan yang hampir tersaji setiap hari didepan mata
kita. Inilah yang menjadi alasan mengapa aku selalu mencintai senja dengan
langit oranyenya, seolah-olah memberikanku ketenangan dibalik rasa rindu yang
terus mengoceh menginginkan pertemuan dengan seseorang yang jauh disana.
Senja menjadi pelarianku untuk sejenak vakum dari seorang lelaki
yang selalu aku pertahankan selama 4 tahun ini. Tidak ada yang istimewa dengan
cara yang aku lakukan, namun setidaknya aku bisa mematikan sejenak untuk
mencintai hal lain, selain seorang yang selalu tak acuh namun tetap aku
perjuangkan.
“ayo makan dulu, mumpung makanya sudah datang, daripada kamu harus
bolak-balik asrama kantin.” Serunya ketika berjalan bersama disampingku namun
tak ku pedulikan perintahnya.
“wiiih, langitnya bagus banget sore ini, sayang aku enggak bawa kamera.” Dengan penuh penyesalan aku menjawab jauh dari pertanyaan Devlin. Photography memang sudah menjadi hobiku meskipun aku belum mempunyai kamera sendiri, namun setidaknya aku sudah tahu bakat terpendamku ada dimana.
“wiiih, langitnya bagus banget sore ini, sayang aku enggak bawa kamera.” Dengan penuh penyesalan aku menjawab jauh dari pertanyaan Devlin. Photography memang sudah menjadi hobiku meskipun aku belum mempunyai kamera sendiri, namun setidaknya aku sudah tahu bakat terpendamku ada dimana.
“Lexa, makan.” Devlin sedikit meninggikan nada suaranya
disampingku. “kamu enggak bosen dengan warna yang selalu monoton tiap sore
seperti itu?” Dia menegurku, mengingatkan bahwa ada hal yang lebih menarik dari
pada sebuah warna oranye yang terkadang bergaris tegas. Iya, hal penting itu
adalah dia dengan selera humornya yang selalu membuatku tertawa seperti tanpa
ada beban.
“Dasar cowok yang enggak punya selera art tinggi, langit sore ini
lebih indah dari pada kemarin tau.” Aku menghela napas panjang dengan menyebut
pujian untuk rasa syukurku terhadapa Maha Pencipta. “Iya, iya aku makan
langsung kok, tapi awas jangan tinggal lagi seperti kemarin!” Hardikku
terhadapnya.
“Makanya kalau makan itu yang cepet, nasinya jangan dibatik mbak
yu!” Dia mengejekku sambil terus mendahuluikku memasuki kantin.
Hari terus berjalan berganti dengan minggu, membawa kebersamaan
baru yang semakin dekat. Tanpa aku meminta selalu ada kenyamanan yang aku
dapatkan dari Devlin dan aku tak menyadari bahwa pintu hatiku telah mengizinkan
seseorang untuk membukanya kembali. Dia menyadarkanku bahwa perasaan yang aku
punya selama ini terhadap seseorang adalah perasaan yang idealis. Dia memang
ada, namun pada kenyataanya sosok yang selalu aku nanti datang dengan membawa
kebahagiaan yang aku rindukan tapi meninggalkan harapan-harapan kosong. Aku
sangat berharap bahwa Devlin tak akan sekejam itu, namun aku sendiri masih
meyakinkan diri apakah aku memang benar-benar jatuh cinta kembali. Aku memang
bukan sosok yang gamblang dengan kata cinta, aku gengsi dengan kata itu. Aku
juga bukan wanita yang romantis, namun jika diminta aku bisa menjadi lebih dari
itu. Entah perasaan seperti apa yang aku turuti, tapi naluri mengalirkan
perasaanku untuk selalu memberikan perhatian kepada Devlin meskipun hanya
sedikit. Sedikit, karena aku tak mau dia tahu bahwa perhatianku terhadapnya
adalah lebih dari teman. Biarkan aku sendiri dulu yang tahu, memendam dan
berlagak biasa menyembunyikan gejolak perasaan yang mulai benar-benar aku
sadari bahwa aku memang bisa jatuh cinta, lagi.
Malam ini akan menjadi malam yang sama seperti malam lainya, berkutat
dengan soal-soal pilihan untuk persiapan Tryout sekolah tiga hari kedepan.
Devlin selalu ada ketika aku mengalami kesulitan pada mata pelajaran UNAS,
karena kita anak asrama jadi tak ada kesulitan bagi kita untuk belajar bersama
pada malam hari. Awalnya aku ingin belajar sendiri namun ternyata banyak
kesulitan yang aku dapat ketika mengerjakan soal. Meskipun sudah sering
beberapa kali aku dan Devlin belajar bersama, kali ini aku ragu untuk
mengajaknya, memintanya untuk menjadi tentorku lagi, lagi dan lagi. Sebenarnya
bukan ragu tapi lebih tepatnya aku takut mengganggunya. Devlin adalah tipe
orang yang selalu belajar dengan serius sedangkan aku tak bisa, satu kali
mengajari tidak cukup membuatku langsung mengerti tapi harus berulang kali. Niatku
masih akan meraih handphoneku yang ada diatas ranjang namun ternyata
sudah ada satu pesan masuk ketika aku baru saja melihat hp-ku.
“Lexa, jangan lupa nanti belajar bareng ya, jam 18.30 dikantin
atas.” Aku baca tertera nama Devlin sebagai pengirim. Sontak aku menjadi
girang dan berenergi, seakan-akan seperti baterai laptopku yang sudah dicharge
penuh. Aku segera bergegas untuk bersiap-siap sholat magrib berjamaah lalu
menuju kantin untuk makan malam dan setelah itu menuju tentor yang selalu
datang lebih dulu ketimbang aku.
“Oke, jadi malam ini kamu minta dijelasin tentang apa?” Devlin
bertanya tanpa memandang kepadaku sedikitpun.
“Aku mau dijelasin Matematika tentang baris dan deret aja, aku
masih sangat bingung dengan bab itu.” Cerocosku sambil membenarkan kerudung
yang aku pakai. Lalu aku duduk disampingya.
“Sekarang siapkan soal-soal yang menurutmu sulit, lalu kerjakan
sebisamu setelah itu baru aku akan mengoreksinya.” Dengan mudahnya dia
memerintahku seakan-akan dia adalah ayahku dan aku anaknya yang tak mau
belajar.
Beberapa menit berjalan aku masih berkutat denga soal-soal yang
membingungkan dan selalu menjadi kelemahanku dalam Matematika. Aku memang tak
terlalu suka dengan soal cerita jadi selalu aku tinggalkan untuk mengerjakan
soal yang lain. Ditengah heningnya suasana di Kantin lantai 2, dia tiba-tiba
bertanya kepadaku dengan raut wajah khawatir.
“Kamu sakit? Wajahmu kok pucat sekali? Sudah makan kan?” Tanpa ada
jeda dia melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku heran.
“Enggak, aku sehat-sehat aja.” Dengan mata menyipit aku menjawab
pertanyaanya. Kamu tumben banget bertanya seperti itu, apakah kamu membalas
kepedulianku terhadapmu selama ini? Dengan senyum yang tertahan aku
membatin pertanyaan tersebut.
“Syukurlah kalau gitu, ingat ya kamu juga harus menjaga kodisimu
bukan hanya menasehatiku aja. Disini kamu jauh dari keluargamu loh, jadi kalau
sakit kamu bakalan tambah susah. Sedangkan aku juga bukan perawatmu.” Dengan
nada yang datar dia memberiku wejangan yang membuatku langsung mengingat
seseorang yang selalu aku rindukan. Iya, siapa lagi kalau bukan Naufal. Sosok
yang masih aku perjuangkan sampai sekarang.
Setelah melalui penjelasan
yang panjang lebar aku mulai mahir dan akrab dengan Barisan dan Deret. Ini
bukan keajaiban tapi aku baru menyadari bahwa bab Barisan dan Deret tak sesulit
yang aku kira. Jam sudah menunjukkan waktu 21.00 dan setengah jam lagi jam
malam asrama akan berlaku yang berarti kita harus kembali kekamar
masing-masing. Terlihat lampu-lampu temaran malam yang berkelap-kelip membiusku
dalam lamunan. Mengingat wejangan dari Devlin beberapa menit yang lalu, ingat
ya kamu juga harus menjaga kodisimu bukan hanya menasehatiku aja. Disini kamu
jauh dari keluargamu loh, jadi kalau sakit kamu bakalan tambah susah. Sedangkan
aku juga bukan perawatmu. Masih terngiang benar kalimat itu karena kemarin
Naufal juga mengatakan hal yang sama kepadaku ketika dia tahu aku sudah masuk
klinik dua hari karena terlalu capek. Kini aku meragukan apakah aku memang
benar-benar jatuh cinta kembali atau tidak ketika tali yang aku simpulkan masih
terikat dengan seseorang yang tak kumiliki namun aku takut kehilangan dia.
Perhatian yang aku berikan kepada Devlin mungkin dia anggap hanya
sebatas kepedulian terhadap teman. Tanpa dia meminta aku berusaha selalu ada
disampingnya secara langsung ataupun tidak langsung. Sekali lagi ini adalah
naluri yang menuntunku untuk menjaga satu kunci yang hampir berhasil membuka
pintu hatiku. Tentang jatuh cinta dan dia. Waktu membiasakanku pada
kebersamaan, memberikanku kenyamanan dan menyadarkanku akan takut kehilangan.
Aku tak mau bermain tebak-tebakan perasaan lalu aku sendiri yang menjawabnya,
biarkan kali ini aku menepis perasaanku yang tak karuan. Kali ini aku biarkan perasaanku
mengalah dengan ego meskipun masih ada luka yang basah dan aku tak mau malah
semakin parah.
Dua hari ini aku tahu bahwa Devlin mengikuti lomba olimpiade
ekonomi ke Jakarta dan aku tak tahu kapan dia akan pulang. Aku mencoba
memberanikan diri meraih hp-ku lalu mengetik beberapa karakter agar penasaranku
terjawab.
“Gimana lombanya? Sudah pulang apa belum?” Ada laporan pesan
terkirim, tapi aku kebingungan dengan apa yang sudah aku lakukan sendiri.
Padahal ini hanya sebuah pesan singkat yang seperti biasa aku kirim bahkan itu
hal yang sangat wajar, tapi karena adanya perasaan lain hal tersebut menjadi
tidak wajar. Tuhan, kenapa aku begitu payah? Selang beberapa menit ada pesan
masuk dan tertera namanya. Devlin.
“sudah, belajar bareng ya nanti malam ditempat biasa – Devlin” Wow,
dia bisa membaca pikiranku ternyata. Dia memang cowok yang peka. Semangatku
membuncah ketika aku sudah mempersiapkan pelajaran untuk besok serta tak lupa
membawa roti biskuit Roma Kelapa kesukaanku. Dengan langkah yang tegas aku
berjalan menuju tempat dimana awal perasaan itu ada.
Malam ini kita belajar kelompok dengan 3 orang, berdiskusi tentang
materi matematika lagi. Setiap pertanyaan yang aku ajukan Devlin selalu bisa
menjelaskan dengan tepat. Sesekali aku merasa bosan dan mengantuk lalu aku
ngemil biskuit yang aku bawa.
“ini ada biskuit, bisa dimakan.” Suguhku seperti tuan rumah kepada
tamunya.
“biskuit roma lagi? Kamu beli berapa kardus memang, perasaan enggak
pernah habis?” tanyanya penasaran seakan-akan mengejek kebiasaanku memakan
biskuit Roma.
“kalau enggak mau, enggak usah menghina makanan. Ini sudah
kebiasaanku, untung aku masih mau berbagi. Lagian ini lebih sehat dari pada
jajanan yang biasa kamu makan, rasanya pedas dan pasti banyak MSGnya.” Aku
mendumel penuh kesal.
“bukannya begitu, aku cuman pengen tahu aja. Iya deh percaya.” Aku
melihat dengan ekor mataku dia sedikit tertawa. “biskuit ini selalu menemani
kita belajar, bisa jadi ini makanan khas kita.” sepertinya dia sedikit
membujukku dengan rayuannya.
Iya, dan aku harap ini bisa menjadi salah satu pengingatmu
tentangku jika kita berpisah nanti, oleh jarak dan waktu yang selalu menaburkan
rindu. Ingat aku, meskipun hanya dengan sepotong biskuit. Aku bergumam dalam hati berharap lagi kamu bisa membaca pikiranku.
“eh, kamu sudah pernah pacaran berapa kali?” aku bertanya penuh
penasaran ketika temanku yang satu tadi tiba-tiba memtuskan untuk kembali
keasrama karena ngantuk berat. Kini tinggalah kita lagi, diriku dan Devlin.
“oo, banyak.” Dengan penuh semangat dia langsung menjawab dan aku
sedikit tersentak dengan jawabanya. “sekitar tiga kali mungkin, dan kamu tahu
aku sudah pernah berpacaran dengan kakak kelasku, adik kelas dan sekarang aku
sedang menjalin hubungan dengan teman seangkatanku pas waktu SMP”. Ada sesak
yang merambat ketika aku akan memberikan respon, hati ini rasanya tersentak tak
karuan hebatnya dan terasa seperti menahan teriakan kencang. Ingin rasanya
berteriak kencang namun mulut tak bisa diajak berkompromi karena harus
mengembangkan senyum untuk pernyataan yang baru saja aku dengar. Secepat
inikah hatiku akan jauh kembali dari rasa menyayangi seseorang, ketika
kenyamanan mulai aku rasakan. Kita sudah dekat namun hati kita masih jauh, dan
rasa takut kehilanganku terhadapmu semakin besar. Haruskah aku mengalah? Lagi. Aku
harap dia mendengar apa yang aku katakan dalam hati, namun itu sangatlah
mustahil.
“kamu hebat sekali”. Dengan meringis aku menjawab dan sebisa
mungkin memberikan senyum termanisku.
“Enggak juga sih, tapi kali ini aku sedang masa Long Distance Relationship, hehehe”. Dia menjawab dengan senyum kecil yang mulai aku rindukan. Lalu aku membalasnya dengan tertawa seolah-olah hatiku baik-baik saja.
“Enggak juga sih, tapi kali ini aku sedang masa Long Distance Relationship, hehehe”. Dia menjawab dengan senyum kecil yang mulai aku rindukan. Lalu aku membalasnya dengan tertawa seolah-olah hatiku baik-baik saja.
Ketika sudah seperti ini tak ada yang bisa disalahkan, selain
secepat mungkin menarik dan menutup kembali pintu hati yang sudah mulai aku
buka untuk pendatang baru setelah terkunci selama 4 tahun. Mungkin ini hanya
tumpangan sementara untuk perasaanku, melupakan sejenak seperti apa yang aku
harapkan. Yang jelas aku masih membutuhkan persahabatanku dengan Devlin
meskipun kenyamanan dan kepedulian yang aku dapatkan akan memberikan makna yang
lain. Masih tentang satu kata yang sama yaitu “menyayangi” namun dengan arti
yang berbeda.
Bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar