Tuhan menciptakan umat-Nya untuk saling menyayangi,
menghidupkan rasa yang masih belum bisa disyukuri. Selalu bertanya apa maunya
hati ini. Tak pernah berhenti untuk terus mencari perasaan yang hakiki, bahkan
sering membuatku berhenti berlari mengatur nafas sejenak lalu kembali lagi. Aku
capek, aku bosan, aku lelah dengan semua ini. Tuhan, apakah takdir yang Kau
gariskan harus serumit ini? Adakah jalan yang tak banyak kelokanya? Apakah
kebahagiaan harus selalu dijemput? Lalu haruskah aku selalu menjemput
kebahagiaan itu seorang diri? Karma masih ada? Apakah Kau sedang mengutukku? Tuhan
maafkan aku, nikmat yang sebenarnya adalah kebahagiaan tak pernah aku sadari
bahkan mungkin jarang aku syukuri. Aku malu untuk mengadu kepada orang lain,
aku hanya berani mengadu kepada-Mu
karena aku yakin Engkau yang akan meluruskan takdir ini karena Engkau
lah yang menggariskan semua takdir ini.
Jika Tuhan menciptakan umat-Nya untuk saling berpasangan,
lantas apakah wanita memang hanya di
takdirkan untuk menunggu pasangannya datang? Aku bingung membedakan antara gengsi dan harga
diri ketika cinta mulai menghampiri. Ciut nyali ini ketika ingin memberikan
sedikit perhatian yang tak pernah kau sadari. Selalu meyakinkan diri bahwa aku
berani dan mencoba memantaskan diri ketika aku harus mendampingimu. Terkadang ketika
apa saja yang sudah aku lakukan tak pernah kau hargai, aku tetap bisa saja
memaklumi bahwa itu karena kau tak tahu bahwa aku menyayangimu. Kini aku sadar
kenapa harus selalu aku yang mengawali dan kini aku bingung menempatkan diriku
antara gengsi dan menjaga harga diri.
Semua
pasti ada alasan tapi aku tak tahu apa alasanku masih mempertahankan kamu
sampai sekarang. Aku bisa mendeskripsikanmu dengan detail di setiap tulisanku
namun jujur aku sulit menata setiap kata ketika aku harus menceritakan tentang
perasaan ini. Perasaan yang tak pernah tersampaikan apa maunya. Aku menyayangimu
dalam diam, aku menghargaimu dalam kesetiaan dan aku menjagamu karena aku takut
kehilangan. Namun ketika aku semakin menjagamu aku malah kehilangan setiap
jejakmu bahkan sulit aku gapai bayangan dirimu. Kamulah sosok yang masih selalu
aku perjuangkan tanpa memperdulikan gengsi yang menyakitkan. Inilah caraku
menjagamu, inilah caraku untuk menyayangimu ketika aku belum mejadi milikmu. Harusnya
aku gengsi ketika aku yang selalu memulai komunikasi ini, aku yang harus selalu
mencari tahu tentang kabarmu apalagi aku seorang wanita. Tapi apa yang terjadi
gengsi itu tak mempan menghalangiku untuk tetap menjaga perasaan ini. seperti
tak punya harga diri aku yang selalu memulai bertanya-tanya tentang kabarmu dan
bahkan selalu ingin tahu, selalu mengirim pesan kepadamu memastikan bahwa kamu
baik-baik saja, memastikanmu bahwa kamu belum ada yang memiliki. Bahkan aku tak
malu ketika aku harus berjuang memberikanmu secuil kenangan di hari
kelahiranmu. Aku membuat itu semua dengan caraku sendiri, tanpa aku
memperdulikan siapa aku sebenarnya buatmu. Hanya teman dan hanya sahabat.
Sedikit berat ketika aku harus mengatakan kata yang terakhir tadi, karena pada
kenyataanya sahabat diantara kita adalah hanya imajinasi. Imajinasi yang
meyakinkan orang lain bahwa kita masih baik-baik saja. Tapi apakah sahabat harus
seperti ini ? menyakitkan dan melupakan, sepertinya aku yang terlalu berlebihan
menganggapmu sahabat.
Aku seperti tak ada harga diri ketika aku masih egois
mempertahankanmu, merapikan sendiri setiap lembaran kusam yang pernah kita
lalui. Berharap bahwa suatu saat nanti kamu memintaku untuk menceritakan kembali.
Kamulah alasanku selama tiga tahun ini tak bisa menyayangi orang lain, belum
bisa merasakan jatuh cinta lagi meskipun aku tahu jatuh itu sakit tapi itulah
yang aku inginkan. Aku tahu dan sadar bahwa cinta itu adalah penderitaan paling
indah yang dicari oleh setiap manusia termasuk aku, dan aku tahu diri bahwa aku
belum pantas mendapatkan cinta itu. Semua masih penuh dengan kata sandi yang
rumit dan melelahkan. Ketika aku sudah berbicara tentangmu rasanya tak ada lagi
gengsi, aku begitu gamblang dengan perasaan ini. Namun sejujurnya aku malu
ketika aku harus menceritakan tentang cinta, sesuatu yang begitu samar namun
begitu nyata aku rasakan. Aku belum tahu bagaimana aku bisa berhenti dari
tentangmu yang begitu melelahkan, aku ingin jatuh cinta lagi. Bisakah kamu
merasakan setiap rindu ini, bisakah kau merasakan rindu di setiap pesan yang
aku kirimkan kepadamu, disetiap tulisan yang aku tujukan padamu. Aku harus bisa
menyadari bahwa bahagia dengan mu adalah bukan bahagia dengan orang yang aku
sayangi lagi, aku harus bisa mempelajari kebahagiaan tanpa dirimu. Aku selalu
berharap bahwa engkau bisa hadir untuk memperjelas alur cerita yang sudah ada,
apakah ini sudah saatnya akhir atau belum? Agar aku sadar bahwa aku tidak
sedang dalam utopia.
Polemik hati yang melelahkan harus aku
hentikan agar pengalaman yang sama tak terulang lagi, yaitu mencintai orang
yang salah. Apa yang sudah aku lakukan selama ini kepadamu memang selalu
mengalahkan gengsiku tapi bukan berarti aku tak punya harga diri. Aku hanya
melakukannya dengan cara yang lebih bijak, bukankah kamu sendiri yang
menginginkan persahabatan ini masih selalu ada dan kamu ingin kita yang menjaga
bukan hanya aku atau kamu. Tapi lihat, apa yang terjadi pada kenyataanya. Aku
yang harus selalu memulai terlebih dahulu. Entahlah semua begitu samar, kalau
kamu juga gengsi lebih baik akhiri saja semua ini dengan kejelasan dan tanpa
dendam. Jika kamu menginginkan untuk pergi mencari yang baru dan lebih baik,
aku rela. Karena aku tak ada hak untuk membatasimu. Namun jika kau di buat
sakit olehnya ingatlah tempat persinggahanmu sebelumnya, tempat lama yang tak
pernah kusam karena tempat ini masih menerimamu untuk kembali dan itulah
diriku. Aku yang menyayangimu. Aku iklhas.
#AZ

.jpg)