Selasa, 26 November 2013

Antara Gengsi dan Harga Diri



            Tuhan menciptakan umat-Nya untuk saling menyayangi, menghidupkan rasa yang masih belum bisa disyukuri. Selalu bertanya apa maunya hati ini. Tak pernah berhenti untuk terus mencari perasaan yang hakiki, bahkan sering membuatku berhenti berlari mengatur nafas sejenak lalu kembali lagi. Aku capek, aku bosan, aku lelah dengan semua ini. Tuhan, apakah takdir yang Kau gariskan harus serumit ini? Adakah jalan yang tak banyak kelokanya? Apakah kebahagiaan harus selalu dijemput? Lalu haruskah aku selalu menjemput kebahagiaan itu seorang diri? Karma masih ada? Apakah Kau sedang mengutukku? Tuhan maafkan aku, nikmat yang sebenarnya adalah kebahagiaan tak pernah aku sadari bahkan mungkin jarang aku syukuri. Aku malu untuk mengadu kepada orang lain, aku hanya berani mengadu kepada-Mu  karena aku yakin Engkau yang akan meluruskan takdir ini karena Engkau lah yang menggariskan semua takdir ini. 

            Jika Tuhan menciptakan umat-Nya untuk saling berpasangan, lantas apakah wanita memang  hanya di takdirkan untuk menunggu pasangannya datang?  Aku bingung membedakan antara gengsi dan harga diri ketika cinta mulai menghampiri. Ciut nyali ini ketika ingin memberikan sedikit perhatian yang tak pernah kau sadari. Selalu meyakinkan diri bahwa aku berani dan mencoba memantaskan diri ketika aku harus mendampingimu. Terkadang ketika apa saja yang sudah aku lakukan tak pernah kau hargai, aku tetap bisa saja memaklumi bahwa itu karena kau tak tahu bahwa aku menyayangimu. Kini aku sadar kenapa harus selalu aku yang mengawali dan kini aku bingung menempatkan diriku antara gengsi dan menjaga harga diri.

Semua pasti ada alasan tapi aku tak tahu apa alasanku masih mempertahankan kamu sampai sekarang. Aku bisa mendeskripsikanmu dengan detail di setiap tulisanku namun jujur aku sulit menata setiap kata ketika aku harus menceritakan tentang perasaan ini. Perasaan yang tak pernah tersampaikan apa maunya. Aku menyayangimu dalam diam, aku menghargaimu dalam kesetiaan dan aku menjagamu karena aku takut kehilangan. Namun ketika aku semakin menjagamu aku malah kehilangan setiap jejakmu bahkan sulit aku gapai bayangan dirimu. Kamulah sosok yang masih selalu aku perjuangkan tanpa memperdulikan gengsi yang menyakitkan. Inilah caraku menjagamu, inilah caraku untuk menyayangimu ketika aku belum mejadi milikmu. Harusnya aku gengsi ketika aku yang selalu memulai komunikasi ini, aku yang harus selalu mencari tahu tentang kabarmu apalagi aku seorang wanita. Tapi apa yang terjadi gengsi itu tak mempan menghalangiku untuk tetap menjaga perasaan ini. seperti tak punya harga diri aku yang selalu memulai bertanya-tanya tentang kabarmu dan bahkan selalu ingin tahu, selalu mengirim pesan kepadamu memastikan bahwa kamu baik-baik saja, memastikanmu bahwa kamu belum ada yang memiliki. Bahkan aku tak malu ketika aku harus berjuang memberikanmu secuil kenangan di hari kelahiranmu. Aku membuat itu semua dengan caraku sendiri, tanpa aku memperdulikan siapa aku sebenarnya buatmu. Hanya teman dan hanya sahabat. Sedikit berat ketika aku harus mengatakan kata yang terakhir tadi, karena pada kenyataanya sahabat diantara kita adalah hanya imajinasi. Imajinasi yang meyakinkan orang lain bahwa kita masih baik-baik saja. Tapi apakah sahabat harus seperti ini ? menyakitkan dan melupakan, sepertinya aku yang terlalu berlebihan menganggapmu sahabat. 

            Aku seperti tak ada harga diri ketika aku masih egois mempertahankanmu, merapikan sendiri setiap lembaran kusam yang pernah kita lalui. Berharap bahwa suatu saat nanti kamu memintaku untuk menceritakan kembali. Kamulah alasanku selama tiga tahun ini tak bisa menyayangi orang lain, belum bisa merasakan jatuh cinta lagi meskipun aku tahu jatuh itu sakit tapi itulah yang aku inginkan. Aku tahu dan sadar bahwa cinta itu adalah penderitaan paling indah yang dicari oleh setiap manusia termasuk aku, dan aku tahu diri bahwa aku belum pantas mendapatkan cinta itu. Semua masih penuh dengan kata sandi yang rumit dan melelahkan. Ketika aku sudah berbicara tentangmu rasanya tak ada lagi gengsi, aku begitu gamblang dengan perasaan ini. Namun sejujurnya aku malu ketika aku harus menceritakan tentang cinta, sesuatu yang begitu samar namun begitu nyata aku rasakan. Aku belum tahu bagaimana aku bisa berhenti dari tentangmu yang begitu melelahkan, aku ingin jatuh cinta lagi. Bisakah kamu merasakan setiap rindu ini, bisakah kau merasakan rindu di setiap pesan yang aku kirimkan kepadamu, disetiap tulisan yang aku tujukan padamu. Aku harus bisa menyadari bahwa bahagia dengan mu adalah bukan bahagia dengan orang yang aku sayangi lagi, aku harus bisa mempelajari kebahagiaan tanpa dirimu. Aku selalu berharap bahwa engkau bisa hadir untuk memperjelas alur cerita yang sudah ada, apakah ini sudah saatnya akhir atau belum? Agar aku sadar bahwa aku tidak sedang dalam utopia.

 Polemik hati yang melelahkan harus aku hentikan agar pengalaman yang sama tak terulang lagi, yaitu mencintai orang yang salah. Apa yang sudah aku lakukan selama ini kepadamu memang selalu mengalahkan gengsiku tapi bukan berarti aku tak punya harga diri. Aku hanya melakukannya dengan cara yang lebih bijak, bukankah kamu sendiri yang menginginkan persahabatan ini masih selalu ada dan kamu ingin kita yang menjaga bukan hanya aku atau kamu. Tapi lihat, apa yang terjadi pada kenyataanya. Aku yang harus selalu memulai terlebih dahulu. Entahlah semua begitu samar, kalau kamu juga gengsi lebih baik akhiri saja semua ini dengan kejelasan dan tanpa dendam. Jika kamu menginginkan untuk pergi mencari yang baru dan lebih baik, aku rela. Karena aku tak ada hak untuk membatasimu. Namun jika kau di buat sakit olehnya ingatlah tempat persinggahanmu sebelumnya, tempat lama yang tak pernah kusam karena tempat ini masih menerimamu untuk kembali dan itulah diriku. Aku yang menyayangimu. Aku iklhas. 

#AZ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar