Sabtu, 04 Januari 2014

Beralihnya Rasa.



            Ketika hati mulai berani berbicara lagi tentang siapa seseorang yang telah mengisi.

            Ternyata ini sudah menjadi tahun ke empat untukku yang selalu menyandingkan perasaan di samping perasaan seseorang  yang selalu semu. Semua tak terasa akan secepat ini, bergantinya waktu  menghadirkan banyak sekali sosok yang baru. Namun tak bisa di pungkiri rasa bosan dan capek ternyata menjadi ratapan yang dominan. Menunggu dan selalu menunggu, bahkan tak ada yang bisa menggangguku. Aku sadar, bahwa aku terlalu egois dengan perasaanku sendiri meskipun aku tahu akan ada banyak luka yang aku dapat ketika aku tetap menerobos keegoisanku. Aku tak takut, karena aku yakin sesuatu yang aku tunggu pasti akan datang kehadiranya. Entah itu kapan, yang jelas aku yakin rencana Tuhan lebih indah dari apa yang sudah aku rencanakan. Empat tahun memasrahkan perasaan kepada sosok yang begitu sederhana. Aku tak tahu apa yang bisa membuatmu begitu lebih di mataku, ganteng juga enggak, putih juga enggak, anak orang kaya raya juga enggak tapi semua terasa berharga dan bahkan sulit tergantikan. Bahkan jarak yang semakin jauh tak pernah bisa mematikan perasaan ini, mungkin hanya menggoyahkan dan kemudian kembali lagi kepada perasaan yang tak menentu penjelasannya namun begitu yakin untuk dipertahankan. 

            Ada luka di hati yang masih basah namun aku selalu membiarkannya karena aku pikir pasti akan sembuh dengan sendirinya dan akan baik-baik saja. Tapi aku ternyata salah, aku butuh obat untuk mengeringkan luka ini, aku butuh perban untuk menutup luka ini agar tak semakin parah dan aku bingung dimana aku harus mencarinya. Obat yang aku tunggu-tunggu ternyata tak pernah datang dan luka ini semakin perih. Obat luka ini memang tak hanya satu, banyak yang lain yang masih bisa menyembuhkan namun belum tentu bisa menghilangkan bekasnya bahkan mungkin bisa membuat luka ini semakin parah. Diantara banyaknya obat yang ada pasti hanya ada satu yang paling tepat untuk meyembuhkan yaitu kamu. Seseorang yang selalu menjadi lakon dalam setiap cerita yang aku tulis, seseorang yang begitu sederhana, seseorang yang aku cintai tanpa alasan. Namun pernahkan kamu menyadari bahwa ada seseorang yang selalu menunggumu?

            Hai, sosok yang bisa membuatku jatuh cinta lagi. Aku pengagummu tapi  aku hanya berani mencintaimu dalam diamku dan dalam tulisan ini. Awalnya aku tak percaya jika aku bisa jatuh cinta lagi, ketika luka yang ada masih belum kering karena aku takut jatuh cinta lagi, aku takut mencintai orang yang salah lagi. Bukannya jatuh itu sakit ya? Apalagi kalau kita jatuh lalu susah untuk bangun lagi. Selamat datang untuk kamu yang bisa membuatku merasakan menyayangi seseorang kembali. Aku takut untuk menceritakanmu secara detail dalam tulisan ini karena ini adalah kali pertama aku menulis tentangmu dalam tulisanku. Aku masih terlalu awam dengan perasaan ini dan masih terlalu dangkal bahwa aku memang benar-benar menyayangimu. Aku tak mau trauma lagi mencintai orang yang salah karena aku tak mau ada luka lagi. Aku selalu menganggap biasa, disetiap perhatian yang kamu berikan kepadaku, aku tak mau berlebihan karena aku takut perasaan ini tak akan terbalaskan. Tanpa aku rencanakan namun aku inginkan, beralihnya rasa ini membuatku nyaman dengan perasaan saat ini. Memang nyaman tapi aku masih takut, apakah kamu juga punya perasaan yang sama sepertiku?  Inilah yang membuat aku takut, takut jatuh dan takut jatuh cinta lagi. 

            Sebenarnya aku sudah capek dengan semua ini, aku ingin dengan beralihnya rasa ini aku bisa menemukan tumpuhan baru yang cocok untuk menjadi tempat berlabuh. Aku terlalu rapuh untuk masalah perasaan, terlalu konservatif dalam membatasi perasaan. Selalu mempersulit jalanya akomodasi yang akan memecahkan konflik batin. Tepatnya aku sendiri yang selalu mempersulit. Disasosiatif yang terjadi diantara persahabatan kita selalu terselesaikan dengan ketidakjelasan dan sepihak. Tanpa butuh cara arbitrasi, masalah itu terasa hilang karena kita sepakat untuk berkonsiliasi. Aku ingin perbedaan diantara kita terasimilasi sehingga kita bisa saling menghargai dan menjaga satu sama lain. Namun pada kenyataanya semua tersegregasikan oleh ego dan gengsi kita masing-masing. 

            Entahlah, perasaan ini sedang mobilitas vertikal atau horisontal yang jelas aku ingin mencari dan menemukan perasaan yang bisa saling menghargai dan benar-benar menjaga satu sama lain. Dengan beralihnya rasa ini aku berharap semua akan menjadi lebih baik dan bukan lebih menyakiti. Maafkan aku karena aku belum berani untuk berbicara banyak tentang perasaan ini, aku hanya berani mendiskripsikan terlebih dahulu dalam tulisan ini yang menurutmu mungkin tidak penting. Namun jika kau tahu dan pernah membaca tulisan asing ini kau akan tahu semuanya bahwa ada seseorang yang pemalu dan pecundang dengan perasaannya sendiri. Anggap saja perhatianku selama ini adalah kebaikan dari seorang sahabat dan Bisakah kita saling berbicara tentang perasaan ini? Agar aku tahu dimana laju perasaan ini akan terus melangkah, agar aku tak terjebak dengan perasaan yang tak terbalaskan dan hanya berharap. Tapi ada satu hal yang membuat hatiku terpental sakit yaitu ketika aku tahu kamu sudah ada yang memiliki. Dan kamu mengatakan hal itu ketika kenyamanan telah aku dapatkan darimu. Maaf jika aku menganggap setiap candaanmu terlalu serius dan itulah yang membuatku berani berharap dari sosok kamu yang pemaaf. Sebisa mungkin aku menurunkan gengsi yang selalu menghalangi keberanianku untuk menunjukkan perhatianku kepadamu. Sebisa mungkin aku memberikan perhatianku kepadamu ketika sikap acuhku tak bisa ku kendalikan. Kini aku belajar agar aku tak selalu menunggu kamu yang memulai, biarkan kali ini aku mencoba untuk memulai terlebih dahulu. Memulai memperkenalkan perasaan yang benar-benar bahwa aku sudah bisa jatuh cinta lagi. Namun banyak hal yang membuatku untuk melangkah mundur bahkan terkadang sembunyi dari kamu. Aku harus tahu diri untuk kali ini, aku harus menurunkan sedikit harapan yang aku tumpukan dari seseorang sepertimu. Kamu sudah ada yang memiliki itulah yang membuatku mundur dan kau terkadang tak segan mengatakan bahwa kamu bangga mempunyai dia. Seorang wanita yang tidak aku kenal namun sudah aku cemburui. Namun terima kasih untuk tumpangan perasaan selama ini setidaknya aku sudah berani untuk membuka lagi perasaan ini.
Terkadang ketika kita berhenti memperdulikan seseorang yang kita sayangi
bukan berarti kita tidak menyayanginya lagi,
tapi karena kita sadar kepeduliaan kita tidak dihargai
#AZ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar