Ketika hati mulai
berani berbicara lagi tentang siapa seseorang yang telah mengisi.
Ternyata ini sudah menjadi tahun ke empat untukku yang
selalu menyandingkan perasaan di samping perasaan seseorang yang selalu semu. Semua tak terasa akan
secepat ini, bergantinya waktu menghadirkan banyak sekali sosok yang baru. Namun
tak bisa di pungkiri rasa bosan dan capek ternyata menjadi ratapan yang
dominan. Menunggu dan selalu menunggu, bahkan tak ada yang bisa menggangguku.
Aku sadar, bahwa aku terlalu egois dengan perasaanku sendiri meskipun aku tahu
akan ada banyak luka yang aku dapat ketika aku tetap menerobos keegoisanku. Aku
tak takut, karena aku yakin sesuatu yang aku tunggu pasti akan datang
kehadiranya. Entah itu kapan, yang jelas aku yakin rencana Tuhan lebih indah dari
apa yang sudah aku rencanakan. Empat tahun memasrahkan perasaan kepada sosok
yang begitu sederhana. Aku tak tahu apa yang bisa membuatmu begitu lebih di
mataku, ganteng juga enggak, putih juga enggak, anak orang kaya raya juga
enggak tapi semua terasa berharga dan bahkan sulit tergantikan. Bahkan jarak
yang semakin jauh tak pernah bisa mematikan perasaan ini, mungkin hanya
menggoyahkan dan kemudian kembali lagi kepada perasaan yang tak menentu
penjelasannya namun begitu yakin untuk dipertahankan.
Ada luka di hati yang masih basah namun aku selalu membiarkannya
karena aku pikir pasti akan sembuh dengan sendirinya dan akan baik-baik saja.
Tapi aku ternyata salah, aku butuh obat untuk mengeringkan luka ini, aku butuh
perban untuk menutup luka ini agar tak semakin parah dan aku bingung dimana aku
harus mencarinya. Obat yang aku tunggu-tunggu ternyata tak pernah datang dan
luka ini semakin perih. Obat luka ini memang tak hanya satu, banyak yang lain
yang masih bisa menyembuhkan namun belum tentu bisa menghilangkan bekasnya
bahkan mungkin bisa membuat luka ini semakin parah. Diantara banyaknya obat
yang ada pasti hanya ada satu yang paling tepat untuk meyembuhkan yaitu kamu. Seseorang
yang selalu menjadi lakon dalam setiap cerita yang aku tulis, seseorang yang
begitu sederhana, seseorang yang aku cintai tanpa alasan. Namun pernahkan kamu
menyadari bahwa ada seseorang yang selalu menunggumu?
Hai, sosok yang bisa membuatku jatuh cinta lagi. Aku
pengagummu tapi aku hanya berani
mencintaimu dalam diamku dan dalam tulisan ini. Awalnya aku tak percaya jika
aku bisa jatuh cinta lagi, ketika luka yang ada masih belum kering karena aku
takut jatuh cinta lagi, aku takut mencintai orang yang salah lagi. Bukannya
jatuh itu sakit ya? Apalagi kalau kita jatuh lalu susah untuk bangun lagi. Selamat
datang untuk kamu yang bisa membuatku merasakan menyayangi seseorang kembali. Aku
takut untuk menceritakanmu secara detail dalam tulisan ini karena ini adalah
kali pertama aku menulis tentangmu dalam tulisanku. Aku masih terlalu awam
dengan perasaan ini dan masih terlalu dangkal bahwa aku memang benar-benar
menyayangimu. Aku tak mau trauma lagi mencintai orang yang salah karena aku tak
mau ada luka lagi. Aku selalu menganggap biasa, disetiap perhatian yang kamu
berikan kepadaku, aku tak mau berlebihan karena aku takut perasaan ini tak akan
terbalaskan. Tanpa aku rencanakan namun aku inginkan, beralihnya rasa ini membuatku nyaman dengan perasaan saat ini.
Memang nyaman tapi aku masih takut, apakah kamu juga punya perasaan yang sama
sepertiku? Inilah yang membuat aku
takut, takut jatuh dan takut jatuh cinta lagi.
Sebenarnya aku sudah capek dengan semua ini, aku ingin
dengan beralihnya rasa ini aku bisa menemukan tumpuhan baru yang cocok untuk
menjadi tempat berlabuh. Aku terlalu rapuh untuk masalah perasaan, terlalu
konservatif dalam membatasi perasaan. Selalu mempersulit jalanya akomodasi yang
akan memecahkan konflik batin. Tepatnya aku sendiri yang selalu mempersulit.
Disasosiatif yang terjadi diantara persahabatan kita selalu terselesaikan
dengan ketidakjelasan dan sepihak. Tanpa butuh cara arbitrasi, masalah itu
terasa hilang karena kita sepakat untuk berkonsiliasi. Aku ingin perbedaan
diantara kita terasimilasi sehingga kita bisa saling menghargai dan menjaga
satu sama lain. Namun pada kenyataanya semua tersegregasikan oleh ego dan
gengsi kita masing-masing.
Entahlah, perasaan ini sedang mobilitas vertikal atau
horisontal yang jelas aku ingin mencari dan menemukan perasaan yang bisa saling
menghargai dan benar-benar menjaga satu sama lain. Dengan beralihnya rasa ini
aku berharap semua akan menjadi lebih baik dan bukan lebih menyakiti. Maafkan
aku karena aku belum berani untuk berbicara banyak tentang perasaan ini, aku
hanya berani mendiskripsikan terlebih dahulu dalam tulisan ini yang menurutmu
mungkin tidak penting. Namun jika kau tahu dan pernah membaca tulisan asing ini
kau akan tahu semuanya bahwa ada seseorang yang pemalu dan pecundang dengan
perasaannya sendiri. Anggap saja perhatianku selama ini adalah kebaikan dari
seorang sahabat dan Bisakah kita saling berbicara tentang perasaan ini? Agar aku
tahu dimana laju perasaan ini akan terus melangkah, agar aku tak terjebak
dengan perasaan yang tak terbalaskan dan hanya berharap. Tapi ada satu hal yang
membuat hatiku terpental sakit yaitu ketika aku tahu kamu sudah ada yang
memiliki. Dan kamu mengatakan hal itu ketika kenyamanan telah aku dapatkan
darimu. Maaf jika aku menganggap setiap candaanmu terlalu serius dan itulah
yang membuatku berani berharap dari sosok kamu yang pemaaf. Sebisa mungkin aku
menurunkan gengsi yang selalu menghalangi keberanianku untuk menunjukkan
perhatianku kepadamu. Sebisa mungkin aku memberikan perhatianku kepadamu ketika
sikap acuhku tak bisa ku kendalikan. Kini aku belajar agar aku tak selalu
menunggu kamu yang memulai, biarkan kali ini aku mencoba untuk memulai terlebih
dahulu. Memulai memperkenalkan perasaan yang benar-benar bahwa aku sudah bisa
jatuh cinta lagi. Namun banyak hal yang membuatku untuk melangkah mundur bahkan
terkadang sembunyi dari kamu. Aku harus tahu diri untuk kali ini, aku harus
menurunkan sedikit harapan yang aku tumpukan dari seseorang sepertimu. Kamu
sudah ada yang memiliki itulah yang membuatku mundur dan kau terkadang tak
segan mengatakan bahwa kamu bangga mempunyai dia. Seorang wanita yang tidak aku
kenal namun sudah aku cemburui. Namun terima kasih untuk tumpangan perasaan
selama ini setidaknya aku sudah berani untuk membuka lagi perasaan ini.
Terkadang
ketika kita berhenti memperdulikan seseorang yang kita sayangi
bukan
berarti kita tidak menyayanginya lagi,
#AZ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar