Jarak di antara kita bagaikan kening dan sajadah, dekat sekali. Untuk
saling bertemu kita tak perlu membuat janji, karena kita mempunyai satu tempat
yang sama-sama kita tuju. Bahkan dibeberapa kesempatan kita harus berkutat
bersama mengurus beberapa acara. Iya, disitulah kita semakin tahu satu sama
lain bagaimana kita sebenarnya. Namun, tahu kah kamu? Jarak sedekat itu
membuatku tetap tak bisa berkata apa-apa. Aku malu menyapamu, aku malu memulai
pembicaraan denganmu meskipun kita sama-sama tahu bahwa ada hal yang pelu kita
diskusikan. Kita berlagak seolah-olah tidak ada apa-apa. Dan aku bahkan
bertindak seperti orang bodoh, disaat itu aku seperti belum mengenalmu sama
sekali. Bahkan ketika rasa khawatir mulai datang tentang keadaanmu aku bertindak
seolah-olah tak punya hati. Meskipun dalam hatiku sendiri meronta, menjerit dan
bergejolak untuk melakukan tindakan semestinya. Dilain waktu kau memilih untuk
berdiri ketika kita sedang berbicara, karena hanya ada satu bangku dan pada
waktu itu aku yang sedang duduk diatas bangku tersebut. Aku maklum, karena aku
tahu kamu menjaga imanmu sebagaimana agama kita mengajari, dan kau menjaga
kehormatanku.
Aku pikir perumpamaan jarak diantara
kita seperti kening dan sajadah memang ada benarnya. Jarak yang begitu dekat,
lantas tak membuat kita mengobrol seenaknya, melainkan seperlunya. Bukankah
seperti itu ketika kening kita berada diatas sajadah, kita tak bisa berbicara
apapun selain doa ketika sujud. Doa untuk menghadap Kekasih kita yang hakiki,
doa untuk bertemu dan memanjatkan doa kepada Tuhan. Seperti itulah aku harus
menjaga jarak denganmu, seperti jarak antara kening dan sajadah. Aku harus diam
dan berdoa agar hati ini selalu diteguhkan untuk perasaan yang hakiki. Aku
harus diam dan berdoa, lalu aku sadar bahwa jarak yang begitu dekat ternyata
lebih banyak membutuhkan doa, agar tak ada yang tergelincir salah satu atau pun
keduanya. Dan kini aku mulai menyadari, bahwa bahasa yang paling romantis dari
hal yang namanya cinta adalah doa.