Selasa, 26 November 2013

Antara Gengsi dan Harga Diri



            Tuhan menciptakan umat-Nya untuk saling menyayangi, menghidupkan rasa yang masih belum bisa disyukuri. Selalu bertanya apa maunya hati ini. Tak pernah berhenti untuk terus mencari perasaan yang hakiki, bahkan sering membuatku berhenti berlari mengatur nafas sejenak lalu kembali lagi. Aku capek, aku bosan, aku lelah dengan semua ini. Tuhan, apakah takdir yang Kau gariskan harus serumit ini? Adakah jalan yang tak banyak kelokanya? Apakah kebahagiaan harus selalu dijemput? Lalu haruskah aku selalu menjemput kebahagiaan itu seorang diri? Karma masih ada? Apakah Kau sedang mengutukku? Tuhan maafkan aku, nikmat yang sebenarnya adalah kebahagiaan tak pernah aku sadari bahkan mungkin jarang aku syukuri. Aku malu untuk mengadu kepada orang lain, aku hanya berani mengadu kepada-Mu  karena aku yakin Engkau yang akan meluruskan takdir ini karena Engkau lah yang menggariskan semua takdir ini. 

            Jika Tuhan menciptakan umat-Nya untuk saling berpasangan, lantas apakah wanita memang  hanya di takdirkan untuk menunggu pasangannya datang?  Aku bingung membedakan antara gengsi dan harga diri ketika cinta mulai menghampiri. Ciut nyali ini ketika ingin memberikan sedikit perhatian yang tak pernah kau sadari. Selalu meyakinkan diri bahwa aku berani dan mencoba memantaskan diri ketika aku harus mendampingimu. Terkadang ketika apa saja yang sudah aku lakukan tak pernah kau hargai, aku tetap bisa saja memaklumi bahwa itu karena kau tak tahu bahwa aku menyayangimu. Kini aku sadar kenapa harus selalu aku yang mengawali dan kini aku bingung menempatkan diriku antara gengsi dan menjaga harga diri.

Semua pasti ada alasan tapi aku tak tahu apa alasanku masih mempertahankan kamu sampai sekarang. Aku bisa mendeskripsikanmu dengan detail di setiap tulisanku namun jujur aku sulit menata setiap kata ketika aku harus menceritakan tentang perasaan ini. Perasaan yang tak pernah tersampaikan apa maunya. Aku menyayangimu dalam diam, aku menghargaimu dalam kesetiaan dan aku menjagamu karena aku takut kehilangan. Namun ketika aku semakin menjagamu aku malah kehilangan setiap jejakmu bahkan sulit aku gapai bayangan dirimu. Kamulah sosok yang masih selalu aku perjuangkan tanpa memperdulikan gengsi yang menyakitkan. Inilah caraku menjagamu, inilah caraku untuk menyayangimu ketika aku belum mejadi milikmu. Harusnya aku gengsi ketika aku yang selalu memulai komunikasi ini, aku yang harus selalu mencari tahu tentang kabarmu apalagi aku seorang wanita. Tapi apa yang terjadi gengsi itu tak mempan menghalangiku untuk tetap menjaga perasaan ini. seperti tak punya harga diri aku yang selalu memulai bertanya-tanya tentang kabarmu dan bahkan selalu ingin tahu, selalu mengirim pesan kepadamu memastikan bahwa kamu baik-baik saja, memastikanmu bahwa kamu belum ada yang memiliki. Bahkan aku tak malu ketika aku harus berjuang memberikanmu secuil kenangan di hari kelahiranmu. Aku membuat itu semua dengan caraku sendiri, tanpa aku memperdulikan siapa aku sebenarnya buatmu. Hanya teman dan hanya sahabat. Sedikit berat ketika aku harus mengatakan kata yang terakhir tadi, karena pada kenyataanya sahabat diantara kita adalah hanya imajinasi. Imajinasi yang meyakinkan orang lain bahwa kita masih baik-baik saja. Tapi apakah sahabat harus seperti ini ? menyakitkan dan melupakan, sepertinya aku yang terlalu berlebihan menganggapmu sahabat. 

            Aku seperti tak ada harga diri ketika aku masih egois mempertahankanmu, merapikan sendiri setiap lembaran kusam yang pernah kita lalui. Berharap bahwa suatu saat nanti kamu memintaku untuk menceritakan kembali. Kamulah alasanku selama tiga tahun ini tak bisa menyayangi orang lain, belum bisa merasakan jatuh cinta lagi meskipun aku tahu jatuh itu sakit tapi itulah yang aku inginkan. Aku tahu dan sadar bahwa cinta itu adalah penderitaan paling indah yang dicari oleh setiap manusia termasuk aku, dan aku tahu diri bahwa aku belum pantas mendapatkan cinta itu. Semua masih penuh dengan kata sandi yang rumit dan melelahkan. Ketika aku sudah berbicara tentangmu rasanya tak ada lagi gengsi, aku begitu gamblang dengan perasaan ini. Namun sejujurnya aku malu ketika aku harus menceritakan tentang cinta, sesuatu yang begitu samar namun begitu nyata aku rasakan. Aku belum tahu bagaimana aku bisa berhenti dari tentangmu yang begitu melelahkan, aku ingin jatuh cinta lagi. Bisakah kamu merasakan setiap rindu ini, bisakah kau merasakan rindu di setiap pesan yang aku kirimkan kepadamu, disetiap tulisan yang aku tujukan padamu. Aku harus bisa menyadari bahwa bahagia dengan mu adalah bukan bahagia dengan orang yang aku sayangi lagi, aku harus bisa mempelajari kebahagiaan tanpa dirimu. Aku selalu berharap bahwa engkau bisa hadir untuk memperjelas alur cerita yang sudah ada, apakah ini sudah saatnya akhir atau belum? Agar aku sadar bahwa aku tidak sedang dalam utopia.

 Polemik hati yang melelahkan harus aku hentikan agar pengalaman yang sama tak terulang lagi, yaitu mencintai orang yang salah. Apa yang sudah aku lakukan selama ini kepadamu memang selalu mengalahkan gengsiku tapi bukan berarti aku tak punya harga diri. Aku hanya melakukannya dengan cara yang lebih bijak, bukankah kamu sendiri yang menginginkan persahabatan ini masih selalu ada dan kamu ingin kita yang menjaga bukan hanya aku atau kamu. Tapi lihat, apa yang terjadi pada kenyataanya. Aku yang harus selalu memulai terlebih dahulu. Entahlah semua begitu samar, kalau kamu juga gengsi lebih baik akhiri saja semua ini dengan kejelasan dan tanpa dendam. Jika kamu menginginkan untuk pergi mencari yang baru dan lebih baik, aku rela. Karena aku tak ada hak untuk membatasimu. Namun jika kau di buat sakit olehnya ingatlah tempat persinggahanmu sebelumnya, tempat lama yang tak pernah kusam karena tempat ini masih menerimamu untuk kembali dan itulah diriku. Aku yang menyayangimu. Aku iklhas. 

#AZ

Sabtu, 09 November 2013

A Little Story


Panyuran beach

this is me


my friendship

my family

old memory

Ibadah dan Fashion



Afifatuz Zuraidah
XII SOCIAL 4
Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu
anak- anak perempuanmu dan istri - istri orang mukmin,
"Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.
" Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
(Al-Ahzab: 59)
Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam tapi bukan negara Islam. Sebagai mayoritas, syariat-syariat agama yang diwajibkan terlihat dominan dilakukan. Bahkan tak jarang arus globalisasi memberikan pengaruh perubahan di beberapa aspek syariat agama. Ada yang menerima dan ada yang tetap mempertahankan yang lama. Kalau kita berbicara tentang agama dan budaya memang sering bertentangan. Misal saja sekarang ini adalah tentang jilbab yang sudah mulai membudaya. Ketika kita mencoba padukan antara Agama dan Budaya malah banyak menimbulkan persoalan. Berbagai pertanyaan akan kebenaran masih masih banyak mengawang bahkan sering di biarkan. Berbicara tentang perkembangan kebijakan dalam syariat Islam seringkali membuat kita apalagi masyarakat awam melupakan sumber dari segala sumber hukum dalam agam Islam yang menjadi pedoman, yaitu Al-Quran. Kini semua diatur secara subjektif lebih tepatnya semua kebenaranya dianggap secara sepihak. “Apabila menurutku sesuai, terserah apa kata orang lain yang penting menurutku benar”. Itulah sepenggal kalimat dari beberapa mereka yang tak mau repot mencari kebenaran dari kewajiban yang mereka jalankan. Contoh saja Jilbab, Jilbab dan perempuan memiliki hubungan yang erat karena perempuan muslimah biasanya identik dengan jilbab. Biasanya, jilbab yang digunakan lebih bernuansa budaya daripada ajaran agama. Sekarang ini, jilbab digunakan bukan untuk melindungi diri dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab, tetapi lebih ke fashion. setiap perempuan muslimah Indonesia memiliki pemahaman tersendiri mengenai arti jilbab. Ada yang menganggap jilbab sebagai penutup kepala dan ada juga yang menganggap jilbab itu sebagai pakaian komplit.
Jilbab dan kerudung sebenarnya memiliki arti yang berbeda, kalau jilbab adalah keseluruhan pakaian yang menutup mulai dari kepala sampai kaki, kecuali muka dan telapak tangan hingga pergelangan tangan sedangkan kerudung adalah kain yang di gunakan untuk menutupi kepala, leher hingga dada. Jadi bisa dipastikan kalau seseorang itu berjilbab sudah pasti berkerudung dan begitupun sebaliknya. Seringkali ketika saya pergi ke tempat umum seperti tempat perbelanjaan di kota banyak remaja putri yang sudah mengenakan kerudung. Lega hati ini ketika mengetahui hal itu karena setidaknya mereka telah menjalankan salah satu kewajiban Allah. Yang membuat miris hati ini adalah ketika mereka berkerudung tapi tidak diseragamkan dengan model pakaian mereka. Memang benar mereka menutup auratnya tapi cara berpakaianya malah menonjolkan auratnya. Dengan celana jean dan baju atasan yang tak sampai menutupi paha serta kain kerudung yang terkadang masih tembus pandang juga berbagai model yang mereka kreasikan tak sampai menutupi dadanya, seakan-akan sama saja mereka mempertontonkan bentuk tubuhnya di tempat umum. Disadari atau tidak kejadian seperti ini sudah membuat diri mereka tidak dihargai dan dihormati oleh penampilan mereka sendiri, yang mereka sajikan pada setiap mata lelaki. Jika sesuatu buruk terjadi pada diri mereka, apa itu dengan kata-kata yang nyeleneh atau mungkin sampai pada pelecehan seksual. Saya yakin mereka pasti akan menyalahkan lelaki padahal hal tersebut atas keinginan mereka sendiri untuk terlihat cantik dan sempurna dengan model pakaian dan kerudung yang mereka kenakan. Setan dan jin telah menggiring mereka ke jalan Riya’. Kalau seperti ini betapa tersiksanya menjadi seorang lelaki di jaman sekarang ini.
Era sekarang ini model pakaian bagi para wanita muslimah yang berjlbab tidak hanya sekedar pakaian panjang yang longgar dan terkesan jadul. Berbagai macam model baru telah diciptakan dan hal ini lah yang menjadi alasan para wanita untuk berjilbab. Hanya sebagian memang yang berasalan berjilbab karena melihat model pakaian dan kerudung yang menarik tapi jelas alasan itu tidak bisa di terima oleh agama, karena berjilbab bagi wanita muslimah adalah sebuah kewajiban, jikan dilakukan akan mendapat pahala dan haram hukumnya jika ditinggalkan. Berhati-hatilah ketika setan mulai mengintai anda karena cara setan untuk menghasut kita ke jalan mereka banyak yang tidak kita sadari. Khusunya bagi kita kaum wanita muslimah yang berjilbab. Setan dan jin sangat tahu akan kecenderungan nafsu manusia yaitu kenikmatan dunia sesaat, termasuk melepaskan jilbab. Dalam tahapanya setan akan membisikan kepada para wanita bahwa pakaian apapun termasuk jilbab hanyalah pakaian, apa pun bentuk dan namanya tak ada kaitanya dengan agama. Hal seperti ini akan menjauhkan kita dari pakaian syar’i (identitas keislaman). Jika kita lihat banyak yang berjilbab tapi masih memakai celana jean, lengan baju yang hanya sampai hasta ataupun pakaian yang ketat dan tipis. Itu semua dianggap wajar saja asal masih mengenakan kerudung meskipun potongan pakaian yang pendek, tipis, ketat dan transparan yang penting masih menutupi aurat. Berbagai model celana jean yang ditawarkan banyak menggoda para wanita muslim untuk membelinya, dengan berbagai ukuran dan warna membuat para wanita untuk tidak segan memakainya lalu di padukan dengan jilbab. Memang mudah dan terlihat tidak merepotkan aktivitas kita ketika mengenakan celana jean tapi tak sedikit juga dampak buruk ketika kita sering menggunakan celana jean terutama berdampak pada rahim kita. Oleh karena itu Islam telah memberikan solusi dengan pakaian yang lebih anggun dan sangat cocok untuk wanita yaitu rok. Tak akan merepotkan aktivitas kita ketika kita benar-benar berniat untuk ibadah bukan untuk sekedar fashion.
Jilbab  pada prinsipnya adalah untuk mengendalikan diri dari dorongan nafsu (syahwat) dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat. Perempuan beriman tentu saja akan memilih busana sederhana dan tidak berlebihan sehingga menimbulkan perhatian publik dan tidak untuk pamer (riya'). Sering saya menjumpai wanita yang berjilbab tapi tidak bertindak seperti semestinya mereka mengenakan jilbab. Ada yang berteriak-teriak, berboncengan dengan yang bukan mahramnya bahkan ada yang berpegangan tangan dengan kekasih mereka yang itu belum halal. Semua terlihat lumrah dan menjadi sebuah budaya hingga batasan aturan agama tidak jelas lagi. Akan terlihat mengherankan ketika kita melihat wanita yang berjilbab namun mereka masih berteriak-teriak, jingkrak-jingkrak kesana kemari. Semua itu karena masyarakat sudah beranggapan bahwa seorang wanita yang berjilbab mempunyai tutur kata yang halus,tindak tanduk yang terukur dan tidak berlebihan. Kalaupun mereka tertawa, suara tawanya tidak akan membangunkan bayi yang sedang tidur disampingnya. Kalaupun bersuara, suaranya pelan dan sangat sopan. Kalaupun melangkah maka langkahnya tidak akan meruntuhkan dedaunan di rerumputan. Wanita yang berjilbab selalu identik dengan hal-hal yang positif. Oleh karena itu akan sangat canggung dan tidak nyaman ketika kita melihat wanita yang berjilbab berjingkrak-jngkrak menonton konser  musik di barisan yang paling depan. Terkadang kejadian seperti ini membuat saya berpikir bahwa lebih baik wanita yang tidak berjilbab tapi segala tindak tanduknya masih dalam garis agama Islam dari pada wanita yang berjilbab yang saya sebutkan diatas. Tapi anggapan ini masih salah, karena kewajiban tetaplah kewajiban. Urusan baik buruknya akhlak itu tinggal setiap insan dan Tuhanya. Yang terpenting kewajiban harus tetap dijalankan.
Kini jilbab bukanlah benda yang langka dan mahal, kita akan mudah menemukan di berbagai tempat perbelanjaan, semua tersedia dari segi bentuk, warna dan harga. Hal inilah yang menyebabkan ibadah beralih menjadi fashion yang tak peduli syar’i atau tidak yang penting trendi dan seksi. Bahkan wanita yang berjilbab akan dijadikan menjadi beberapa golongan dari mereka yang benar-benar berniat untuk ibadah karena Allah atau hanya sekedar fashion. Ini adalah masalah kewajiban yang bersangkutan dengan Tuhan, tapi kenyataanya semua dianggap remeh dan seakan tak akan ada sanksinya. Kalau ada yang mengatakan belum siap berjilbab dan mempersiapkan hati untuk berjilbab terlebih dahulu, memangnya anda yakin kalau besok akan masih hidup? Jadi jangan menunda-nunda untuk berbuat kebaikan. Ketika ada yang mengatakan memakai jilbab itu membuat diri kita terasa panas dan gerah itu tidak bisa di jadikan sebagai alasan karena perlu kita ketahui bahwa api neraka itu ribuan kali lipat panasnya di bandingkan dengan api di bumi. Ini bukan masalah siap atau tidak siapnya diri dan hati kita, melainkan ini adalah sebuah kewajiban. Bukan masalah jilbab dua puluh-ribuan sehingga mereka mau memakai jilbab karena harga yang murah. Jilbab itu bukanlah perhiasan maka sederhanakanlah setiap pakaian yang anda kenakan, karena kita berjilbab untuk beribadah bukan untuk fashion. Kita beribadah hanya karena Allah bukan karena untuk mencari popularitas agar kita disanjung akan amal dan ibadah kita di dunia tapi ini adalah salah satu bekal kita untuk mendapatkan pintu surga yang terbuka untuk kita kelak di akhirat nanti. Jadi, amatlah disayangkan apabila kita menjumpai saudara-saudara kita muslimah yang memakai jilbabnya hanya untuk kepentingan - kepentingan tertentu saja seperti pada waktu sekolah, mengajar, kuliah, dan sebagainya. Tetapi di luar itu, apabila dia keluar rumah tidak memakai jilbabnya.
Jilbab adalah salah satu kehormatan bagi wanita muslimah, jika kita tetap teguh untuk menjaga jilbab kita berarti kita juga teguh menjaga kehormatan kita. Jika mereka mengatakan aurat wanita lebih susah dijaga dibandingkan lelaki, bukankah benda yang mahal harganya akan dijaga, dibelai serta disimpan di tempat yang teraman dan terbaik? Saya tidak akan memperpanjang polemik tentang fashion jilbab yang menyalahi syar’i. Saya lebih tertarik untuk menganggap hal ini adalah maraknya sambutan masyarakat kita terhadap jilbab. Atau dengan kata lain, ini adalah tahap dari perkembangan pemakai jilbab yang tidak diimbangi dengan kemantapan diri untuk paham terhadap ajaran Islam.
Tahukah kita bahwa kita ini hanya manusia biasa yang diciptakan? Ada kekuasaan yang Maha Besar yang menguasai diri kita. Dialah Allah, yang menguasai setiap helaian rambut, setiap hembusan nafas dan setiap gontai langkah kaki kita. Sehingga tidaklah salah apabila Penguasa kita itu memberikan perintah yang baik bagi kita dan sama sekali tidak merugikan kita. Lalu, ingatkah pula kita akan ikrar kita bahwa selama di dunia ini kita akan beribadah kepada-Nya dan tidak pernah mempersekutukan-Nya sedikit pun? Bukankah ibadah yang paling baik adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya? Dengan berjilbab, kita telah melakukan dua hal sekaligus, yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganya untuk memamerkan aurat kita. 

#AZ

Senin, 19 Agustus 2013

SESEORANG ITU...



            Kamu sama seperti pria lain yang aku kenal bahkan menurutku kamu adalah seseorang yang begitu cuek dan cenderung menutup diri. Bukan maksudku untuk menyamakanmu namun aku baru sadar bahwa sikapmu itu sama seperti watakku. Kamu seorang pria yang mempunyai rambut  berwarna hitam dan sedikit keriting, lumayan tinggi, bentuk dagumu yang runcing dengan hidungmu yang mancung dan warna kulitmu yang kuning langsat serta tatapan matamu yang begitu tajam. Disamping itu takdir memberikan fakta lain bahwa kita begitu lihai merangkai setiap kata menjadi satu kalimat yang indah lalu menyusun kalimat-kalimat itu menjadi suatu paragraf yang tersambung menjadi rangkaian sebuah cerita. Namun satu yang membedakan, kamu lebih ahli dan lihai untuk menyalurkan kelebihanmu itu untuk mendukung setiap laporan penelitianmu hingga telah mengantarkanmu menapakkan jejak di negeri Paman Sam. Sebuah kebanggaan bagiku sebagai seseorang yang telah mengenalmu begitu jauh hingga saat ini. Namun aku tak mau menyombongkan untuk masalah itu.

            Semua mengalir begitu saja semenjak aku mengenalmu, pada awalnya aku tak pernah memperdulikanmu karena kita masih sibuk dengan urusan kita masing-masing untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Ketika waktu mulai mempercepat yang namanya perkenalan aku menjadi lupa bagaiaman awalnya aku berani menceritakan berbagai masalahku kekamu, begitupun dengan dirimu. Mungkin ketika kamu tak mengawali terlebih dahulu aku tak akan memberikan kepercayaan yang begitu besar kepadamu. Kehadiranmu selalu membawa senyum dan semangat hingga membuatku lupa bahwa diriku dicap sebagai siswi tercemberut diangkatan kita. Tanpa aku memintanya kamu selalu menjadi seorang pendengar yang menyenangkan hingga kita telah melewati berapa puluh bahkan ratusan perbincangan diantara kita. Kamulah seseorang itu yang lebih berharga dari seseorang yang aku harapkan. Kamulah seseorang itu yang masih berani hadir menemuiku lalu mendengarkan celotehanku meski kedekatan kita menjadi buah bibir diantara teman-teman kita, namun kamulah seseorang itu yang menegaskan bahwa kita berkomitmen menjadi seorang sahabat.

“terkadang kita harus menjadi seperti orang yang tuli, agar omongan itu tak mengganggu persahabatan diantara kita.” Ujarmu begitu tenang kepadaku.
            Aku percaya dengan kalimat ini “ diantara pria dan wanita itu tidak ada yang murni 

          bersahabat” karena aku sudah pernah mengalaminya. Bahkan sampai sekarang selalu saja masih mengatasnamakan sahabat dibalik perasaan yang tak pernah ku sadari terhadap seseorang yang lain bukan kamu. Setiap ucapan ini mungkin selalu bisa mengelak dari sebuah kenyataan bahwa aku memang menaruh rasa dengan sahabatku sendiri namun setiap ketikan tulisan ini adalah saksi kejujuranku yang selalu memendam perasaan hingga aku lupa sudah sampai halaman berapakah aku menjalani semua ini. Ketika tinta untuk pena ini bisa kembali menulis sejarah baru sudah mulai habis, lalu Tuhan menghadirkanmu untuk kembali menghitamkan tinta itu. 

            Aku adalah seorang yang mudah untuk jatuh cinta, namun kali ini Tuhan memberikan takdir lain. Semua begitu berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Tuhan membenarkan perasaanku terhadapmu bahwa kita memang bersahabat. Selama lebih dari dua tahun ini kamu seperti menjadi satu dari tanganku, yang jika salah satu tanganku tak ada maka segala sesuatu menjadi sukar untuk dilakukan. Bahkan ketika kamu menceritakan kepadaku tentang wanita pujaanmu aku begitu senang mendengarnya dan antusiasku untuk membantumu terasa tak ada yang menghalangi. Harusnya aku merasakan seperti ada yang sesak di dada, melipat bibir enggan untuk tersenyum atau mungkin aku harus menahan air mata didepanmu namun aku lupa dengan hal itu. Aku lupa apa itu namanya tapi aku pernah mengalami hal itu ketika orang yang aku sayangi yaitu sahabatku sendiri menceritakan wanita lain kepadaku. Aku lupa atau mungkin aku tak tahu tentang perasaan yang seperti itu. Mungkin saja, yang jelas perasaan seperti itu belum menghampiriku ketika aku bersamamu dan aku harap tak akan pernah ada. 

            “aku adalah seorang yang begitu asik dengan duniaku sendiri, bahkan aku sampai lupa untuk bersosialisasi. Aku mengenal mereka hanya sekedar menyapa. Banyak teman yang merasa tidak nyambung ketika bercerita denganku.” Ujarmu dengan sorotan mata yang tajam.
            “lalu bagaimana dengan diriku, 2 tahun ini aku fine fine saja bercerita denganmu?” tanyaku dengan ketuss.
            “beda dengan dirimu, karena kamu dengan mudah bisa masuk kedalam duniaku makanya aku nyambung terus kalau cerita-cerita sama kamu.”
            “lalu bagaimana dengan anak itu ? bukanya kalian begitu dekat ya ?” tanyaku penuh dengan penasaran.
            “iya itu dulu, namun sekarang kita belum bisa menjadi sahabat.” Jawabmu
            “hanya karena masalah perasaan kalian yang sama namun tak sejalan lantas bukan berarti persahabatan diantara kalian tidak bisa dijalin.”
            “namun kamu tahu kan komitmenku seperti apa? Aku gak mau lagi buat pacaran, wanita yang aku sayangi sekarang ini adalah calon istriku nanti.” Katamu dengan panik.
            “iya aku tahu, tapi apa yang kamu inginkan itu beda dengan apa yang dia inginkan. Jelas saja dia merasa dirinya digantung olehmu. “ mencoba menenangkanmu.
            “apalagi sekarang dia sudah menjadi milik orang lain, semakin susah kita bisa memperbaiki hubungan ini.” katamu dengan wajah melas. 

            Perbincangan malam itu terus berlanjut hingga mengantarkan kita pada sebuah pokok pembicaraan yang baru yaitu tentang “komitmen”. Bersahabat itulah komitmen kita mulai malam itu, trauma akan putus kau jadikan alasan tak mau memiliki hubungan layaknya para remaja sekarang. Namun jujur tetap saja hati ini tak ada harapan lebih untuk memilikimu lebih dari sahabat. Dengan nada konstan aku menjawab iya lalu kau tersenyum  aku tersenyum dan kita tertawa. Tentu saja diri ini sangat heran dengan tingkah lakuku sendiri namun aku bersyukur karena Tuhan telah membenarkan perasaan ini. Iya, inilah yang aku harapkan. Aku bahagia malam itu hingga saat ini dan semoga hingga akhir nanti. Kamu memang bukan seorang pengganti dari seseorang yang selama ini aku nanti namun kamu seseorang itu yang hadir dalam lembar cerita baru setelah aku tersakiti hingga saat ini dan aku harap sampai akhir nanti.

            Kamulah seseorang itu yang telah aku temukan ditengah hiruk pikuk kebingunganku setelah aku kehilangan orang yang paling aku percaya selama ini. kamulah seseorang itu yang kini menjadi alasanku berani mengatakan bahwa aku bahagia kembali. Kamulah sahabat sejati. 

#AZ