Kamu
sama seperti pria lain yang aku kenal bahkan menurutku kamu adalah seseorang
yang begitu cuek dan cenderung menutup diri. Bukan maksudku untuk menyamakanmu
namun aku baru sadar bahwa sikapmu itu sama seperti watakku. Kamu seorang pria
yang mempunyai rambut berwarna hitam dan
sedikit keriting, lumayan tinggi, bentuk dagumu yang runcing dengan hidungmu
yang mancung dan warna kulitmu yang kuning langsat serta tatapan matamu yang
begitu tajam. Disamping itu takdir memberikan fakta lain bahwa kita begitu
lihai merangkai setiap kata menjadi satu kalimat yang indah lalu menyusun
kalimat-kalimat itu menjadi suatu paragraf yang tersambung menjadi rangkaian
sebuah cerita. Namun satu yang membedakan, kamu lebih ahli dan lihai untuk
menyalurkan kelebihanmu itu untuk mendukung setiap laporan penelitianmu hingga
telah mengantarkanmu menapakkan jejak di negeri Paman Sam. Sebuah kebanggaan
bagiku sebagai seseorang yang telah mengenalmu begitu jauh hingga saat ini. Namun
aku tak mau menyombongkan untuk masalah itu.
Semua
mengalir begitu saja semenjak aku mengenalmu, pada awalnya aku tak pernah
memperdulikanmu karena kita masih sibuk dengan urusan kita masing-masing untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Ketika waktu mulai mempercepat
yang namanya perkenalan aku menjadi lupa bagaiaman awalnya aku berani
menceritakan berbagai masalahku kekamu, begitupun dengan dirimu. Mungkin ketika
kamu tak mengawali terlebih dahulu aku tak akan memberikan kepercayaan yang
begitu besar kepadamu. Kehadiranmu selalu membawa senyum dan semangat hingga
membuatku lupa bahwa diriku dicap sebagai siswi tercemberut diangkatan kita. Tanpa
aku memintanya kamu selalu menjadi seorang pendengar yang menyenangkan hingga
kita telah melewati berapa puluh bahkan ratusan perbincangan diantara kita. Kamulah
seseorang itu yang lebih berharga dari seseorang yang aku harapkan. Kamulah
seseorang itu yang masih berani hadir menemuiku lalu mendengarkan celotehanku
meski kedekatan kita menjadi buah bibir diantara teman-teman kita, namun
kamulah seseorang itu yang menegaskan bahwa kita berkomitmen menjadi seorang
sahabat.
“terkadang kita harus
menjadi seperti orang yang tuli, agar omongan itu tak mengganggu persahabatan
diantara kita.” Ujarmu begitu tenang kepadaku.
Aku
percaya dengan kalimat ini “ diantara pria dan wanita itu tidak ada yang murni
bersahabat” karena aku sudah pernah mengalaminya. Bahkan sampai sekarang selalu
saja masih mengatasnamakan sahabat dibalik perasaan yang tak pernah ku sadari terhadap
seseorang yang lain bukan kamu. Setiap ucapan ini mungkin selalu bisa mengelak
dari sebuah kenyataan bahwa aku memang menaruh rasa dengan sahabatku sendiri
namun setiap ketikan tulisan ini adalah saksi kejujuranku yang selalu memendam
perasaan hingga aku lupa sudah sampai halaman berapakah aku menjalani semua
ini. Ketika tinta untuk pena ini bisa kembali menulis sejarah baru sudah mulai
habis, lalu Tuhan menghadirkanmu untuk kembali menghitamkan tinta itu.
Aku
adalah seorang yang mudah untuk jatuh cinta, namun kali ini Tuhan memberikan
takdir lain. Semua begitu berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Tuhan membenarkan
perasaanku terhadapmu bahwa kita memang bersahabat. Selama lebih dari dua tahun
ini kamu seperti menjadi satu dari tanganku, yang jika salah satu tanganku tak
ada maka segala sesuatu menjadi sukar untuk dilakukan. Bahkan ketika kamu
menceritakan kepadaku tentang wanita pujaanmu aku begitu senang mendengarnya
dan antusiasku untuk membantumu terasa tak ada yang menghalangi. Harusnya aku
merasakan seperti ada yang sesak di dada, melipat bibir enggan untuk tersenyum
atau mungkin aku harus menahan air mata didepanmu namun aku lupa dengan hal
itu. Aku lupa apa itu namanya tapi aku pernah mengalami hal itu ketika orang
yang aku sayangi yaitu sahabatku sendiri menceritakan wanita lain kepadaku. Aku
lupa atau mungkin aku tak tahu tentang perasaan yang seperti itu. Mungkin saja,
yang jelas perasaan seperti itu belum menghampiriku ketika aku bersamamu dan
aku harap tak akan pernah ada.
“aku
adalah seorang yang begitu asik dengan duniaku sendiri, bahkan aku sampai lupa
untuk bersosialisasi. Aku mengenal mereka hanya sekedar menyapa. Banyak teman
yang merasa tidak nyambung ketika bercerita denganku.” Ujarmu dengan sorotan
mata yang tajam.
“lalu
bagaimana dengan diriku, 2 tahun ini aku fine
fine saja bercerita denganmu?” tanyaku dengan ketuss.
“beda
dengan dirimu, karena kamu dengan mudah bisa masuk kedalam duniaku makanya aku
nyambung terus kalau cerita-cerita sama kamu.”
“lalu
bagaimana dengan anak itu ? bukanya kalian begitu dekat ya ?” tanyaku penuh
dengan penasaran.
“iya
itu dulu, namun sekarang kita belum bisa menjadi sahabat.” Jawabmu
“hanya
karena masalah perasaan kalian yang sama namun tak sejalan lantas bukan berarti
persahabatan diantara kalian tidak bisa dijalin.”
“namun
kamu tahu kan komitmenku seperti apa? Aku gak mau lagi buat pacaran, wanita
yang aku sayangi sekarang ini adalah calon istriku nanti.” Katamu dengan panik.
“iya
aku tahu, tapi apa yang kamu inginkan itu beda dengan apa yang dia inginkan.
Jelas saja dia merasa dirinya digantung olehmu. “ mencoba menenangkanmu.
“apalagi
sekarang dia sudah menjadi milik orang lain, semakin susah kita bisa
memperbaiki hubungan ini.” katamu dengan wajah melas.
Perbincangan malam itu terus
berlanjut hingga mengantarkan kita pada sebuah pokok pembicaraan yang baru
yaitu tentang “komitmen”. Bersahabat itulah komitmen kita mulai malam itu,
trauma akan putus kau jadikan alasan tak mau memiliki hubungan layaknya para
remaja sekarang. Namun jujur tetap saja hati ini tak ada harapan lebih untuk
memilikimu lebih dari sahabat. Dengan nada konstan aku menjawab iya lalu kau
tersenyum aku tersenyum dan kita
tertawa. Tentu saja diri ini sangat heran dengan tingkah lakuku sendiri namun
aku bersyukur karena Tuhan telah membenarkan perasaan ini. Iya, inilah yang aku
harapkan. Aku bahagia malam itu hingga saat ini dan semoga hingga akhir nanti. Kamu
memang bukan seorang pengganti dari seseorang yang selama ini aku nanti namun
kamu seseorang itu yang hadir dalam
lembar cerita baru setelah aku tersakiti hingga saat ini dan aku harap sampai
akhir nanti.
Kamulah
seseorang itu yang telah aku temukan ditengah hiruk pikuk kebingunganku setelah
aku kehilangan orang yang paling aku percaya selama ini. kamulah seseorang itu
yang kini menjadi alasanku berani mengatakan bahwa aku bahagia kembali. Kamulah
sahabat sejati.
#AZ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar