Selasa, 15 November 2016

Hari Ini Berbaju Toga



Teruntuk yang sedang berbahagia atas kelulusannya, Kak Abil.

Alhamdulillah, waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Selamat atas kelulusannya kak, barakaallah, semoga menjadi sarjana yang surjana.
Dikarenakan waktu yang terbatas untuk mengobrol diantara aku dan Kak Abil, maka dengan sengaja ucapan ini aku sampaikan lewat tulisan saja. Jika tulisan ini terlalu panjang dan membosankan untuk dibaca saya mohon maaf, tapi dengan cara inilah yang akan menggantikan obrolan-obrolan dengan Kak Abil yang selalu tertunda. 

Hari Jumat bulan September 2015 didepan Kantin Sastra FIB UGM adalah kali pertama Tuhan mempertemukan saya dengan Kak Abil melalui salah seorang teman sekelas saya. Dan siapa sangka ternyata semenjak itu waktu memberikan kesempatan untuk lebih jauh mengenali sosok Kak Abil. Dulu sempat melihat Kak Abil sebagai cofas PPSMB tapi pada saat itu menurutku tidak terlalu penting untuk mengetahu siapa Kak Abil. Namun semenjak perkenalan itu, hemm.. sepertinya kesalahan dari awal yang saya lakukan adalah meninggalkan nomor hp.

Kenal dengan orang yang super padat jadwalnya memang sangat menyebalkan, pertemuan menjadi lebih mahal dibandingkan dengan uang. Dan karena terlalu capek dengan pertemuan yang direncanakan maka berharaplah kita pada pertemuan yang tak terduga. Entah dijalan mana, ruang apa, acara apa, atau tempat apa, ya semua kita serahkan kepada yang lebih berhak mengabulkan pertemuan. Masih ingat kan kak dulu bagaimana ribetnya merencanakan untuk bertemu sebelum Kak Abil berangkat KKN? Kak abil sibuk dengan urusan persiapan KKN dan saya sibuk dengan pelatihan satu minggu di racana yang pada akhirnya, pertemuan itu ditunda lagi. Bahkan ketika sudah pulang pun juga masih susah minta ampun untuk merealisasikan ketemu. Sudah janjian di FIB jam berapa kemudian ketika mau berangkat ternyata hujan deras, Kak Abil kejebak di Pondok dan ketika hujan sudah reda dan sampai di FIB saya sudah masuk kelas dan akhirnya batal lagi. Kemudian janjian lagi untuk merencanakan ngobrol ternyata batal lagi karena Kak Abil sudah ada janji dengan yang lain. Bahkan terakhir kemarin di bulan ramadhan, rencana buber dari ramadhan tahun lalu sampai sekarang belum terealisasi. Ada saja hal-hal yang membatalkan, tapi itu semua kembali kepada “pertemuan yang tidak terduga memang penuh barokah, daripada capek merencanakan”. Dengan keyakinan seperti itu akhirnya pernah dibeberapa kesempatan tangan Tuhan mulai mengindahkan pertemuan, tanpa diduga bertemu di jalan, terkadang di wilayah kampus FIB, atau pernah beberapa kali di Gelanggang ketika ada momen pengambilan jas almamater mahasiswa baru dimana Kak Abil jaga stand Kamadiksi, dan ketika bertemu pada saat itu disambut dengan kaki Kak Abil yang entah kenapa pokoknya harus menggunakan tongkat untuk berjalan. Ada juga ketika tiba-tiba Kak Abil muncul didepan ruang sidang 2 Gelanggang karena akan mempersiapkan acara peresmian Hamur yang sampai sekarang masih Kak Abil urus. Bahkan pernah suatu ketika ada acara Porsenigama dimana saya datang sebagai suporter dari tim FIB, tiba-tiba saja Kak Abil sudah muncul disamping yang entah sedang apa. Tidak hanya itu, beberapa acara yang tidak terduga sebelumnya juga menjadi jawaban dari pertemuan yang tidak direncanakan, pertama ketika saya mengikuti seminar yang diselenggarakan oleh Keluarga Muslim Psikologi dimana Kak Abil disana sebagai MC, kedua ketika Kak Abil akhirnya harus mejadi pemateri di acara TAC LEM FIB 2015, ketiga ketika Kak Abil ternyata menjadi pemateri di Awliya I KMNU UGM, keempat ketika Kak Abil nyalon sebagai Presma UGM.   

Saya memang tidak punya hak untuk menuntut waktu Kak Abil jadi yasudah biarkan saja pertemuan itu mengalir, manusia memang bisanya merencanakan dan Tuhan yang menentukan. Tapi alhamdulillah sejauh itu komunikasi masih bisa terjaga, meskipun beberapa kali sempat menghilang juga. Jadi teringat pesan Kak Abil di Wa yang kebiasaan menggunakan voice note yang hampir memenuhi memori hp, juga sebuah video yang dikirimkan Kak Abil dari Palangkaraya ketika masih KKN disana. 

Syukur alhamdulillah Tuhan memperkenalkan saya dengan Kak Abil, banyak hal yang saya pelajari dari kepribadian Kak Abil. Mungkin Kak Abil tidak menyadarinya, tapi terkadang saya iri melihat kepribadian Kak Abil yang dimana-mana selalu  sumringah, semangat dan sehat luar biasa. Padahal tuntutan sebagai mahasiswa yang mengurus akademik, organisasi dan komunitas lainya lumayan menyita waktu, belum lagi dengan kewajiban di Pondok Pesantren Sulaimaniyah yang kata Kak Abil ada tugas menghafal Al-Quran, belajar bahasa arab dan turki. Tapi saya tidak pernah melihat atau mendengar Kak Abil mengeluh sedikitpun. Memang benar Kak Abil ini manusia yang tidak pernah mengenal waktu, dimanapun dan kapanpun selalu tampil bersahaja. Orang mana sih yang tidak mengenal Kak Abil, wanita mana sih yang tidak mengenal Kak Abil, sepertinya Kak Abil eksis dimanapun bahkan menjadi mahasiswa Psikologi terfenomenal. Beberapa waktu lalu saya menonton siaran di stasiun TV swasta tentang Pesantren Sulaimaniyah, subhannaallah program-programnya luar biasa. Beruntung sekali yang masuk di Pesantren tersebut. Dari situlah saya kemudian menyadari untuk tidak kesal ketika Kak Abil lama sekali membalas pesan atau sekedar mengangkat telfon. Dulu hal itu memang cukup menyebalkan, tapi sekarang saya paham dan mengerti. 
Sekali lagi selamat kak atas kelulusannya, dimanapun langkah tertuju dan kaki berpijak, semoga Kak Abil senantiasa menjadi manusia yang berguna bagi sesama. “Istiqomah” itu yang pernah Kak Abil pesankan kepada saya, dalam segala hal, semoga Kak Abil juga bisa istiqomah. Kurangi ngopinya, istirahat jangan lupa kak. Yang sering mengingatkan untuk istirahat juga harus bisa bijak memberi waktu kepada jiwa dan raga untuk beristirahat sejenak. Saya pernah mendengar Kak Abil bercita-cita untuk bisa bertandang ke Negara Turki, dan inshallah sebentar lagi akan tercapai. Terimakasih sudah menjadi sosok panutan yang baik, baik dari segi kepribadian bahkan iman. Sejauh ini Kak Abil memang menjadi sosok yang “ngemong” tapi tenang kak, semua sudah saya batasi agar tidak bergantung dengan Kak Abil. Saya juga sedang belajar memiliki jiwa yang mandiri seperti Kak Abil. Semoga pekenalan dan silahruhami diantara saya dan Kak Abil selalu berada dalam ridho Illahi. Entah bagaimana pertemuan yang saya rindukan akan dikemas oleh Tuhan, semoga langkah kaki kita bisa mempertemukan kembali. Sampai jumpa dan selamat menyibukkan diri untuk meningkatkan kualitas diri, pun dengan diri saya sendiri.

Selamat memandu kakakku.  


                                                                                                   Yogyakarta, 15 November 2016


Afifatuz Zuraidah                       

Kamis, 15 September 2016

Dengan Tuan....




            Di senja sore yang begitu ramah denganku, tiba-tiba aku menemui embun yang sedikit membasahi rok panjangku. Senja di sore itu sedikit berbeda, padahal aku masih melihat ditempat yang sama.
            Ada kalanya hal yang kita anggap biasa akan memberikan kesan yang terus terngiang di pikiran kita ketika hal biasa tersebut kita lewati dengan sosok yang kita kagumi. Iya, dihari itu, di satu hari itu, meskipun tak genap sampai sepuluh jam, entah mengapa Tuhan begitu memberkahi pertemuan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Disaat Tuhan mulai memberkahi pertemuan dan kebersamaan kita, disaat itulah Tuhan juga membuatku resah dengan perasaan denganmu tuan. Ada banyak hal yang tidak bisa terucap namun aku sanggup untuk melakukannya demi kebaikanmu, aku, dan kita.
            Tuan, kini aku mulai mengenal sosokmu yang ternyata lebih tangguh dan bertanggung jawab dari yang aku kira sebelumnya. Tapi entah bagaimana tuan menjaga iman, aku masih belum tau. Tuan masih mau memboncengku dan keluar berdua denganku. Urusan pekerjaan atau alasan apapun, aku harap tuan masih mau memberikan sedikit perhatian ketika waktu nanti tak lagi sama dengan sekarang.
            Tuan, entah perasaan apa yang sekarang sedang membuncah kegirangan dan meminta pertemuan itu lagi. Yang jelas, aku belum bisa menikmati perasaan itu, perasaan yang aku sendiri masih takut untuk mengakuinya. Ciut nyali ini ketika Dzat pemilik segala rasa  menghembuskan indahnya karunia cinta kepada hamba-Nya. Bukan tak mengapa, tapi sudah beberapa kali aku hanya merasakan jatuh akan karunia cinta, bahkan sampai diumurku yang  mencapai kepala dua belum membuatku untuk bijak mengelola perasaanku sendiri.
            Perkenalkan tuan, akulah pengagum senja dan rintik hujan kecil yang jatuh dibawah temaram lampu jalan. Dengan sebagian sisa keraguan, kini aku mulai menyakinkan diri untuk berani memulai perjalanan dengan perasaan baru tentangmu tuan. Tentang segenggam harapan yang masih kusimpan sendiri dan yang sering aku adukan kepada Dzat pemilik hati. Tuan, ketika aku mulai mengagumimu karena akhlak dan imanmu, aku mohon jangan buat aku kecewa bahwa yang belum aku ketahui ternyata lebih buruk daripada yang sudah kuketahui. Aku sedang berbenah dan mencoba menyamakan langkah denganmu tuan, apakah tuan juga seperti itu?
            Tuan, disepertiga malam kita, aku berdoa semoga dipenghujung atau persimpangan jalan yang sedang aku tuju ada engkau didepanku yang datang dengan membawa segenggam janji dan pelukan kepastian akan hidup bersama denganku. Maafkan aku tuan jika aku tak banyak mengurusmu, membantu meringankan masalahmu, atau bahkan memulai menyapamu. Bukannya aku tak mampu, tapi aku malu tuan, bahkan untuk memberi sidikit perhatian aku harus membuat banyak perhitungan. Denganmu tuan, semoga perjuangan kali ini menemukan makna sebenarnya dari sebuah kesetian dan pentingnya kepercayaan meskipun tanpa ikatan. Tapi yakinlah tuan, bahwa aku sekarang sedang benar-benar memperjuangkanmu, boleh kah? Aku tidak akan meminta apapun dan berusaha sekuat iman agar tak membuatmu risih. Kamulah kegaduhan yang sering aku adukan kepada Tuhan, dan semoga Tuhan tidak akan pernah bosan jika aku selalu mengadu tentangmu. Tentang sebuah masa depan yang mulai aku tata, berharap bahwa engkaulah tuan yang akan turut membersamai disepanjang hidupku nanti. Tapi lebih dari itu semua, kini aku tak berani berharap banyak dari seorang manusia, termasuk kamu tuan, sudah ku pasrahkan kepada Tuhan, aku akan lebih banyak berharap kepada yang menciptakanmu. 

Salam dari Puncak Becici dan rintik hujan yang membersamai. 

Rabu, 01 Juni 2016

Yang Diragukan



Teruntuk Tuan yang selalu aku sembunyikan.

       Tuan, hal yang bertahun-tahun kita takutkan sekarang sudah terjadi dan sudah saatnya aku harus bisa membela diri sendiri. Tuan, wanita ini memang sudah terbiasa dengan perjuangan yang berat, bahkan untuk sampai diposisi sekarang ini masih saja betah bergulat dengan perdebatan yang sama. Perbedaan dimana kita menempuh pendidikan sekarang tuan anggap sebagai tanda derajat yang lebih tinggi dan lebih rendah? Sungguh, itu bukanlah hal yang penting. Tuan, wanita ini beberapa kali pernah membaca kutipan bahwa “jodoh adalah cerminan diri sendiri”. Tuan tau? Kalimat itu lah yang membuat wanita ini tak peduli seberapa sering jatuhnya asalkan bisa berdiri lagi lebih cepat dan berusaha sekuat iman untuk menjadi wanita yang hebat. Karena memang wanita ini bukan wanita yang bisa tuan remehkan. Namun, meskipun begitu, bagi wanita ini tuan masih menjadi tuan yang disembunyikan, tuan yang biasanya menjadi tempat berbagi mimpi dan motivasi. Sampai bertemu dimusim selanjutnya tuan, dikehidupan masa depan yang sedang masing-masing kita persiapkan. 


                                                                                                             Rabu ,1 Juni 2016

Minggu, 25 Oktober 2015

Jarak dan Doa



Jarak di antara kita bagaikan kening dan sajadah, dekat sekali. Untuk saling bertemu kita tak perlu membuat janji, karena kita mempunyai satu tempat yang sama-sama kita tuju. Bahkan dibeberapa kesempatan kita harus berkutat bersama mengurus beberapa acara. Iya, disitulah kita semakin tahu satu sama lain bagaimana kita sebenarnya. Namun, tahu kah kamu? Jarak sedekat itu membuatku tetap tak bisa berkata apa-apa. Aku malu menyapamu, aku malu memulai pembicaraan denganmu meskipun kita sama-sama tahu bahwa ada hal yang pelu kita diskusikan. Kita berlagak seolah-olah tidak ada apa-apa. Dan aku bahkan bertindak seperti orang bodoh, disaat itu aku seperti belum mengenalmu sama sekali. Bahkan ketika rasa khawatir mulai datang tentang keadaanmu aku bertindak seolah-olah tak punya hati. Meskipun dalam hatiku sendiri meronta, menjerit dan bergejolak untuk melakukan tindakan semestinya. Dilain waktu kau memilih untuk berdiri ketika kita sedang berbicara, karena hanya ada satu bangku dan pada waktu itu aku yang sedang duduk diatas bangku tersebut. Aku maklum, karena aku tahu kamu menjaga imanmu sebagaimana agama kita mengajari, dan kau menjaga kehormatanku.
           
           Aku pikir perumpamaan jarak diantara kita seperti kening dan sajadah memang ada benarnya. Jarak yang begitu dekat, lantas tak membuat kita mengobrol seenaknya, melainkan seperlunya. Bukankah seperti itu ketika kening kita berada diatas sajadah, kita tak bisa berbicara apapun selain doa ketika sujud. Doa untuk menghadap Kekasih kita yang hakiki, doa untuk bertemu dan memanjatkan doa kepada Tuhan. Seperti itulah aku harus menjaga jarak denganmu, seperti jarak antara kening dan sajadah. Aku harus diam dan berdoa agar hati ini selalu diteguhkan untuk perasaan yang hakiki. Aku harus diam dan berdoa, lalu aku sadar bahwa jarak yang begitu dekat ternyata lebih banyak membutuhkan doa, agar tak ada yang tergelincir salah satu atau pun keduanya. Dan kini aku mulai menyadari, bahwa bahasa yang paling romantis dari hal yang namanya cinta adalah doa.

Sabtu, 28 Maret 2015

Aku Saja

Aku atau Kau? Kau sajalah. 
Aku ingin tau, tapi aku takut. Ah sudah biarkan. 
Kau memang seperti guci di sudut ruangan. 
Kau diam tak bergeming, 
kau ada tapi disana, di tempat yang membosankan. 
Kau diam dan sesekali memunculkan bayangan lalu kemudian menghilang.
Aku atau kita? aku sajalah.
Kau tak perlu tahu dan mungkin tak ingin tahu. 
Ah sudah biarkan. 
Aku memang sedang bersama jiwa yang tak mengenal musim. 
Aku seperti menunggu hujan dalam kemarau, menunggu senja dalam mendungnya mega.
Aku, Kau atau Kita? Kita sajalah.
Namun sayangnya, kini sudah ku tenggelamkan kita dalam gelap di dalam sebuah gudang yang kuncinya ku buang. 
Dan sekarang kembali kepada Aku, Aku yang mulai mencintai hujan dan senja baru. 
Kini biar Aku Saja.
-AZ-

Kamis, 01 Januari 2015

APRESIASI MUSIK ETNIK

Lestarikan dan Mainkan
Afifatuz Zuraidah (14/366083/SA/17540)
“Music is not only socially constructed, but society is partly musically constructed”
(Thomas Turino)
            Musik dihidupkan untuk mewarnai hidup masyarakat yang bersangkutan, berbagai rupa musik diciptakan untuk melengkapi sajian aktivitas hingga ritual masyarakat setempat. Termasuk musik etnik yang tumbuh dan berkembang dari budaya masyarakat setempat, yang jika ditelaah secara mendalam setiap elemen dan lirik yang mengisi musik etnik tersebut merupakan pengungkapan dari fenomena-fenomena yang dijadikan lagu dengan nada sedemikian rupa. Musik etnik selalu mempunyai ciri khas, baik itu nada, lirik bahkan alat musik yang digunakan. Itulah mengapa musik etnik harus selalu dilestarikan karena memang selalu berhubungan dengan penggambaran sejarah masa lalu. Dan sekarang saya akan mengulas beberapa contoh musik etnik sekaligus makna reflektif apa yang terkandung didalamnya.
            Yang pertama adalah musik etnik dari daerah Maluku yang berjudul “Oh Beilohy” atau lebih mudahnya disebut dengan Tanah Maluku yang Kucinta. Dalam lagu yang berdurasi 05.39 tersebut memiliki beberapa elemen musik didalamnya. Seperti vokal yang terdiri dari beberapa jenis suara, ada sopran, tenor dan alto. Karena jika didengarkan dengan seksama dalam lagu Oh Beilohy ternyata dinyayikan oleh beberapa orang dengan satu suara yang mendominasi. Penggunaan alat musik dalam lagu yang mendayu-dayu ini menggunakan gitar akustik dan alat musik yang dipukul semacam ketipung, sehingga terasa damai selama mendengarkan lagu kebanggaan masyarakat Maluku tersebut. Lagu Oh Beilohy ini bercerita tentang ungkapan rasa cinta terhadap tanah kelahiranya meskipun berada ditempat yang jauh. Walaupun dalam lagu ini menggunakan bahasa maluku namun cukup mudah dipahami artinya karena banyak persamaan dengan bahasa indonesia yang biasa kita gunakan. Lagu yang terkesan melankolis ini memberikan gambaran bagaimana semangat kesukuan masyarakat Maluku dan memberikan sisi lain dari masyarakat Maluku yang berwatak keras namun mempunyai sisi yang romantis pula.
            Yang kedua adalah lagu yang dibawakan oleh Alif S dan Nanik Wijaya yang berjudul “Malaikat Loro” atau dalam bahasa Indonesianya adalah dua malaikat. Ketika mendengarkan lagu ini, sekilas seperti pujian-pujian sholawatan namun sudah dimainkan dengan cara yang lebih modern. Pada awal main, musik ini menggunakan alat musik semacam rebana yang dipukul secara bersamaan dengan tempo yang cepat, kemudian setelah itu terdengan suara orjen dan kendhang yang khas yang biasanya saya dengarkan pada musik sholawatan lainnya misalnya musik sholawatan dari Langitan, namun bedanya dengan lagu yang ini adalah temponya yang lebih cepat dan banyak perumpamaan yang digunakan dalam lirik lagu Malaikat Loro tersebut. Kemudian yang membuat saya menikmati lagu ini adalah penggunaanya alat musik gamelan seperti gong, bonang dan kendhang, sehingga terkesan  Jawa sekali apalagi ditambah ada suara seruling. Cukup menyenangkan dalam mendengarkan lagu yang berdurasi 09.26 tersebut, karena selain musiknya yang menenangkan kita juga bisa mengambil banyak pesan moral dari lagu ini. Pada awal syair lagu memang banyak menggunakan perumpamaan, kemudian ditengah-tengah hingga akhir baru tertangkap jelas maknanya apa. Sebenarnya lagu Malaikat Loro ini menggambarkan bahwa kita harus selalu ingat dengan Yang Maha Kuasa dan kita sebagai menusia jangalah sembrono atau hidup sembarangan karena disamping kanan kiri kita ada yang menjaga, yaitu malaikat rakib dan atid yang akan mencatat segala amal ibadah kita. Lagu ini seperti syair-syair wali yang sarat dengan makna dan lirik lantunannya cocok sekali dengan kultur orang Jawa. Pada zaman dahulu lagu-lagu seperti ini memang sangat cocok digunakan untuk menyebarkan agama islam oleh para wali, kemudian ari aspek psikologis, lantunan syair yang indah itu dapat menambah semangat dan mengkondisikan suasana. Dan jika kita bisa mencermati dengan seksama, penggunaan perumpamaan dan banyak kiasan bahasa pada awal lagu bisa diartikan sebagai gambaran kepribadian orang jawa yang terkenal suka tak enak hati dan lebih menyembunyikan unek-uneknya dibelakang. Selain itu lagu Malaikat Loro berfungsi sebagai spiritual karena sebagian lirik yang terkandung didalamnya sebagai upaya penghambaan diri (ibadah) kepada Tuhan yakni untuk mempertebal rasa keimanan dan ketakwaan.
            Yang ketiga adalah lagu dari Sunda yang berjudul Kecapi Priangan, sebenarnya musik ini termasuk musik instrumental yang menggunakan irama kecapi dan suara seruling khas sunda. Mendengarkan paduan dua alat musik ini pikiran terasa sudah melanglang buana ke Sunda, karena gabungan irama dari dua alat musik ini memang khas sekali dengan suasana di Bandung seperti yang sudah pernah saya alami beberapa bulan yang lalu ketika berkungjung ditanah orang Sunda tersebut. Biasanya isi ungkapan yang diketengahkan dalam tembang Sunda salah satunya adalah tentang keindahan-keindahan alam priangan. Kecapi merupakan alat musik tradisional untuk musik klasik yang biasanya mewarnai beberapa kesenian di tanah Sunda, dan cukup sulit untuk membuatnya karena harus menggunakan kayu kenanga yang direndam selama tiga bulan terlebih dahulu. Sedangkan senarnya, kalau ingin menghasilkan nada yang bagus, harus dari kawat suasa (logam campuran emas dan tembaga), seperti kecapi yang dibuat tempo dulu. Nada dalam kecapi sunda memiliki 5 ( pentatonis ) tangga nada yaitu Da, Mi, Na, Ti, La,. Kecapi sunda sendiri ada beberapa macam seperti Kacapi Parahu dan Kecapi Siter. Sedangkan menurut fungsinya dalam mengiringi musik, kecapi dimainkan sebagai 1. Kacapi Indung (kacapi induk); dan
2. Kacapi Anak atau Kacapi Rincik (Keunikan Alat Musik Tradisional Sunda) dan menurut saya kecapi memang sangat pas jika dimainkan dengan suling sunda/suling bambu. Suling Sunda sendiri terbuat dari bambu Tamiang, salah satu jenis bambu yang tipis dan diameter kecil sehingga cocok untuk dibuat seruling. Perpaduan dua alat musik tradisional ini seperti pada musik instrumental Kecapi Priangan memang sangat menggambarkan suasana tanah Sunda. Damai dan menenangkan, seperti itulah kesan yang saya dapatkan ketika mendengarkan lagu tersebut. Ketika mendengarkan musik Kecapi Priangan ini, saya sangat familiar dengan beberapa iramanya, seperti ada pada tembang-tembang jawa namun saya lupa judul lagunya apa.
            Dari penjelasan saya diatas, sangatlah tidak rugi jika kita memang harus melestarikan musik-musik etnik seperti yang sudah saya uraikan diatas. Khususnya bagi kaum remaja, yang benar-benar harus peka terhadap kebudayaan yang kita miliki, jangan sampai ketika sudah diklaim oleh pihak lain kita baru bertindak. Alangkah baiknya kalau melestarikan itu bukan ketika akan mulai punah namun ketika kita masih mempunyai kekayaan kebudayaan mari kita lestarikan dari awal. Namun tak cukup hanya sekedar melestarikan, hal tersebut juga membutuhkan generasi yang paham akan seni dan kepemilikan. Jika kita sudah andil dalam melestarikan mari selanjutnya kita mainkan, bukan hanya menjaga alat musiknya saja, melainkan mari kita mainkan kemudian siapa tahu bisa kita pentaskan sebagai sarana promosi budaya. Karena sebenarnya yang perlu dilestarikan itu bukan sekedar alatnya namun juga kemampuan manusianya untuk menjaga kebudayaan mereka sendiri. Musik etnik juga bisa menjadi identitas bangsa kita, Indonesia. Maka mari lestarikan dan mainkan. Salam Budaya.

Daftar Pustaka :         
Wafik, Ilzamul. https://www.academia.edu/4677693/Syair_Wali_Tanah_Jawa. Diakses pada 31   Desember 2014.
Budiramli.2012. https://buram91.wordpress.com/2012/02/10/tembang-dan-kawih/. Diakses pada 31 Desember 2014.