Di senja sore yang begitu ramah
denganku, tiba-tiba aku menemui embun yang sedikit membasahi rok panjangku.
Senja di sore itu sedikit berbeda, padahal aku masih melihat ditempat yang
sama.
Ada kalanya hal yang kita anggap
biasa akan memberikan kesan yang terus terngiang di pikiran kita ketika hal
biasa tersebut kita lewati dengan sosok yang kita kagumi. Iya, dihari itu, di
satu hari itu, meskipun tak genap sampai sepuluh jam, entah mengapa Tuhan
begitu memberkahi pertemuan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Disaat
Tuhan mulai memberkahi pertemuan dan kebersamaan kita, disaat itulah Tuhan juga
membuatku resah dengan perasaan denganmu tuan. Ada banyak hal yang tidak bisa
terucap namun aku sanggup untuk melakukannya demi kebaikanmu, aku, dan kita.
Tuan, kini aku mulai mengenal
sosokmu yang ternyata lebih tangguh dan bertanggung jawab dari yang aku kira
sebelumnya. Tapi entah bagaimana tuan menjaga iman, aku masih belum tau. Tuan masih
mau memboncengku dan keluar berdua denganku. Urusan pekerjaan atau alasan
apapun, aku harap tuan masih mau memberikan sedikit perhatian ketika waktu
nanti tak lagi sama dengan sekarang.
Tuan, entah perasaan apa yang
sekarang sedang membuncah kegirangan dan meminta pertemuan itu lagi. Yang
jelas, aku belum bisa menikmati perasaan itu, perasaan yang aku sendiri masih
takut untuk mengakuinya. Ciut nyali ini ketika Dzat pemilik segala rasa menghembuskan indahnya karunia cinta kepada
hamba-Nya. Bukan tak mengapa, tapi sudah beberapa kali aku hanya merasakan
jatuh akan karunia cinta, bahkan sampai diumurku yang mencapai kepala dua belum membuatku untuk
bijak mengelola perasaanku sendiri.
Perkenalkan tuan, akulah pengagum
senja dan rintik hujan kecil yang jatuh dibawah temaram lampu jalan. Dengan
sebagian sisa keraguan, kini aku mulai menyakinkan diri untuk berani memulai
perjalanan dengan perasaan baru tentangmu tuan. Tentang segenggam harapan yang
masih kusimpan sendiri dan yang sering aku adukan kepada Dzat pemilik hati.
Tuan, ketika aku mulai mengagumimu karena akhlak dan imanmu, aku mohon jangan
buat aku kecewa bahwa yang belum aku ketahui ternyata lebih buruk daripada yang
sudah kuketahui. Aku sedang berbenah dan mencoba menyamakan langkah denganmu
tuan, apakah tuan juga seperti itu?
Tuan, disepertiga malam kita, aku
berdoa semoga dipenghujung atau persimpangan jalan yang sedang aku tuju ada
engkau didepanku yang datang dengan membawa segenggam janji dan pelukan
kepastian akan hidup bersama denganku. Maafkan aku tuan jika aku tak banyak
mengurusmu, membantu meringankan masalahmu, atau bahkan memulai menyapamu.
Bukannya aku tak mampu, tapi aku malu tuan, bahkan untuk memberi sidikit
perhatian aku harus membuat banyak perhitungan. Denganmu tuan, semoga perjuangan
kali ini menemukan makna sebenarnya dari sebuah kesetian dan pentingnya
kepercayaan meskipun tanpa ikatan. Tapi yakinlah tuan, bahwa aku sekarang
sedang benar-benar memperjuangkanmu, boleh kah? Aku tidak akan meminta apapun
dan berusaha sekuat iman agar tak membuatmu risih. Kamulah kegaduhan yang
sering aku adukan kepada Tuhan, dan semoga Tuhan tidak akan pernah bosan jika
aku selalu mengadu tentangmu. Tentang sebuah masa depan yang mulai aku tata,
berharap bahwa engkaulah tuan yang akan turut membersamai disepanjang hidupku
nanti. Tapi lebih dari itu semua, kini aku tak berani berharap banyak dari
seorang manusia, termasuk kamu tuan, sudah ku pasrahkan kepada Tuhan, aku akan
lebih banyak berharap kepada yang menciptakanmu.
Salam
dari Puncak Becici dan rintik hujan yang membersamai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar