Kamis, 15 September 2016

Dengan Tuan....




            Di senja sore yang begitu ramah denganku, tiba-tiba aku menemui embun yang sedikit membasahi rok panjangku. Senja di sore itu sedikit berbeda, padahal aku masih melihat ditempat yang sama.
            Ada kalanya hal yang kita anggap biasa akan memberikan kesan yang terus terngiang di pikiran kita ketika hal biasa tersebut kita lewati dengan sosok yang kita kagumi. Iya, dihari itu, di satu hari itu, meskipun tak genap sampai sepuluh jam, entah mengapa Tuhan begitu memberkahi pertemuan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Disaat Tuhan mulai memberkahi pertemuan dan kebersamaan kita, disaat itulah Tuhan juga membuatku resah dengan perasaan denganmu tuan. Ada banyak hal yang tidak bisa terucap namun aku sanggup untuk melakukannya demi kebaikanmu, aku, dan kita.
            Tuan, kini aku mulai mengenal sosokmu yang ternyata lebih tangguh dan bertanggung jawab dari yang aku kira sebelumnya. Tapi entah bagaimana tuan menjaga iman, aku masih belum tau. Tuan masih mau memboncengku dan keluar berdua denganku. Urusan pekerjaan atau alasan apapun, aku harap tuan masih mau memberikan sedikit perhatian ketika waktu nanti tak lagi sama dengan sekarang.
            Tuan, entah perasaan apa yang sekarang sedang membuncah kegirangan dan meminta pertemuan itu lagi. Yang jelas, aku belum bisa menikmati perasaan itu, perasaan yang aku sendiri masih takut untuk mengakuinya. Ciut nyali ini ketika Dzat pemilik segala rasa  menghembuskan indahnya karunia cinta kepada hamba-Nya. Bukan tak mengapa, tapi sudah beberapa kali aku hanya merasakan jatuh akan karunia cinta, bahkan sampai diumurku yang  mencapai kepala dua belum membuatku untuk bijak mengelola perasaanku sendiri.
            Perkenalkan tuan, akulah pengagum senja dan rintik hujan kecil yang jatuh dibawah temaram lampu jalan. Dengan sebagian sisa keraguan, kini aku mulai menyakinkan diri untuk berani memulai perjalanan dengan perasaan baru tentangmu tuan. Tentang segenggam harapan yang masih kusimpan sendiri dan yang sering aku adukan kepada Dzat pemilik hati. Tuan, ketika aku mulai mengagumimu karena akhlak dan imanmu, aku mohon jangan buat aku kecewa bahwa yang belum aku ketahui ternyata lebih buruk daripada yang sudah kuketahui. Aku sedang berbenah dan mencoba menyamakan langkah denganmu tuan, apakah tuan juga seperti itu?
            Tuan, disepertiga malam kita, aku berdoa semoga dipenghujung atau persimpangan jalan yang sedang aku tuju ada engkau didepanku yang datang dengan membawa segenggam janji dan pelukan kepastian akan hidup bersama denganku. Maafkan aku tuan jika aku tak banyak mengurusmu, membantu meringankan masalahmu, atau bahkan memulai menyapamu. Bukannya aku tak mampu, tapi aku malu tuan, bahkan untuk memberi sidikit perhatian aku harus membuat banyak perhitungan. Denganmu tuan, semoga perjuangan kali ini menemukan makna sebenarnya dari sebuah kesetian dan pentingnya kepercayaan meskipun tanpa ikatan. Tapi yakinlah tuan, bahwa aku sekarang sedang benar-benar memperjuangkanmu, boleh kah? Aku tidak akan meminta apapun dan berusaha sekuat iman agar tak membuatmu risih. Kamulah kegaduhan yang sering aku adukan kepada Tuhan, dan semoga Tuhan tidak akan pernah bosan jika aku selalu mengadu tentangmu. Tentang sebuah masa depan yang mulai aku tata, berharap bahwa engkaulah tuan yang akan turut membersamai disepanjang hidupku nanti. Tapi lebih dari itu semua, kini aku tak berani berharap banyak dari seorang manusia, termasuk kamu tuan, sudah ku pasrahkan kepada Tuhan, aku akan lebih banyak berharap kepada yang menciptakanmu. 

Salam dari Puncak Becici dan rintik hujan yang membersamai. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar