Sabtu, 09 November 2013

Ibadah dan Fashion



Afifatuz Zuraidah
XII SOCIAL 4
Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu
anak- anak perempuanmu dan istri - istri orang mukmin,
"Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.
" Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
(Al-Ahzab: 59)
Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam tapi bukan negara Islam. Sebagai mayoritas, syariat-syariat agama yang diwajibkan terlihat dominan dilakukan. Bahkan tak jarang arus globalisasi memberikan pengaruh perubahan di beberapa aspek syariat agama. Ada yang menerima dan ada yang tetap mempertahankan yang lama. Kalau kita berbicara tentang agama dan budaya memang sering bertentangan. Misal saja sekarang ini adalah tentang jilbab yang sudah mulai membudaya. Ketika kita mencoba padukan antara Agama dan Budaya malah banyak menimbulkan persoalan. Berbagai pertanyaan akan kebenaran masih masih banyak mengawang bahkan sering di biarkan. Berbicara tentang perkembangan kebijakan dalam syariat Islam seringkali membuat kita apalagi masyarakat awam melupakan sumber dari segala sumber hukum dalam agam Islam yang menjadi pedoman, yaitu Al-Quran. Kini semua diatur secara subjektif lebih tepatnya semua kebenaranya dianggap secara sepihak. “Apabila menurutku sesuai, terserah apa kata orang lain yang penting menurutku benar”. Itulah sepenggal kalimat dari beberapa mereka yang tak mau repot mencari kebenaran dari kewajiban yang mereka jalankan. Contoh saja Jilbab, Jilbab dan perempuan memiliki hubungan yang erat karena perempuan muslimah biasanya identik dengan jilbab. Biasanya, jilbab yang digunakan lebih bernuansa budaya daripada ajaran agama. Sekarang ini, jilbab digunakan bukan untuk melindungi diri dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab, tetapi lebih ke fashion. setiap perempuan muslimah Indonesia memiliki pemahaman tersendiri mengenai arti jilbab. Ada yang menganggap jilbab sebagai penutup kepala dan ada juga yang menganggap jilbab itu sebagai pakaian komplit.
Jilbab dan kerudung sebenarnya memiliki arti yang berbeda, kalau jilbab adalah keseluruhan pakaian yang menutup mulai dari kepala sampai kaki, kecuali muka dan telapak tangan hingga pergelangan tangan sedangkan kerudung adalah kain yang di gunakan untuk menutupi kepala, leher hingga dada. Jadi bisa dipastikan kalau seseorang itu berjilbab sudah pasti berkerudung dan begitupun sebaliknya. Seringkali ketika saya pergi ke tempat umum seperti tempat perbelanjaan di kota banyak remaja putri yang sudah mengenakan kerudung. Lega hati ini ketika mengetahui hal itu karena setidaknya mereka telah menjalankan salah satu kewajiban Allah. Yang membuat miris hati ini adalah ketika mereka berkerudung tapi tidak diseragamkan dengan model pakaian mereka. Memang benar mereka menutup auratnya tapi cara berpakaianya malah menonjolkan auratnya. Dengan celana jean dan baju atasan yang tak sampai menutupi paha serta kain kerudung yang terkadang masih tembus pandang juga berbagai model yang mereka kreasikan tak sampai menutupi dadanya, seakan-akan sama saja mereka mempertontonkan bentuk tubuhnya di tempat umum. Disadari atau tidak kejadian seperti ini sudah membuat diri mereka tidak dihargai dan dihormati oleh penampilan mereka sendiri, yang mereka sajikan pada setiap mata lelaki. Jika sesuatu buruk terjadi pada diri mereka, apa itu dengan kata-kata yang nyeleneh atau mungkin sampai pada pelecehan seksual. Saya yakin mereka pasti akan menyalahkan lelaki padahal hal tersebut atas keinginan mereka sendiri untuk terlihat cantik dan sempurna dengan model pakaian dan kerudung yang mereka kenakan. Setan dan jin telah menggiring mereka ke jalan Riya’. Kalau seperti ini betapa tersiksanya menjadi seorang lelaki di jaman sekarang ini.
Era sekarang ini model pakaian bagi para wanita muslimah yang berjlbab tidak hanya sekedar pakaian panjang yang longgar dan terkesan jadul. Berbagai macam model baru telah diciptakan dan hal ini lah yang menjadi alasan para wanita untuk berjilbab. Hanya sebagian memang yang berasalan berjilbab karena melihat model pakaian dan kerudung yang menarik tapi jelas alasan itu tidak bisa di terima oleh agama, karena berjilbab bagi wanita muslimah adalah sebuah kewajiban, jikan dilakukan akan mendapat pahala dan haram hukumnya jika ditinggalkan. Berhati-hatilah ketika setan mulai mengintai anda karena cara setan untuk menghasut kita ke jalan mereka banyak yang tidak kita sadari. Khusunya bagi kita kaum wanita muslimah yang berjilbab. Setan dan jin sangat tahu akan kecenderungan nafsu manusia yaitu kenikmatan dunia sesaat, termasuk melepaskan jilbab. Dalam tahapanya setan akan membisikan kepada para wanita bahwa pakaian apapun termasuk jilbab hanyalah pakaian, apa pun bentuk dan namanya tak ada kaitanya dengan agama. Hal seperti ini akan menjauhkan kita dari pakaian syar’i (identitas keislaman). Jika kita lihat banyak yang berjilbab tapi masih memakai celana jean, lengan baju yang hanya sampai hasta ataupun pakaian yang ketat dan tipis. Itu semua dianggap wajar saja asal masih mengenakan kerudung meskipun potongan pakaian yang pendek, tipis, ketat dan transparan yang penting masih menutupi aurat. Berbagai model celana jean yang ditawarkan banyak menggoda para wanita muslim untuk membelinya, dengan berbagai ukuran dan warna membuat para wanita untuk tidak segan memakainya lalu di padukan dengan jilbab. Memang mudah dan terlihat tidak merepotkan aktivitas kita ketika mengenakan celana jean tapi tak sedikit juga dampak buruk ketika kita sering menggunakan celana jean terutama berdampak pada rahim kita. Oleh karena itu Islam telah memberikan solusi dengan pakaian yang lebih anggun dan sangat cocok untuk wanita yaitu rok. Tak akan merepotkan aktivitas kita ketika kita benar-benar berniat untuk ibadah bukan untuk sekedar fashion.
Jilbab  pada prinsipnya adalah untuk mengendalikan diri dari dorongan nafsu (syahwat) dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat. Perempuan beriman tentu saja akan memilih busana sederhana dan tidak berlebihan sehingga menimbulkan perhatian publik dan tidak untuk pamer (riya'). Sering saya menjumpai wanita yang berjilbab tapi tidak bertindak seperti semestinya mereka mengenakan jilbab. Ada yang berteriak-teriak, berboncengan dengan yang bukan mahramnya bahkan ada yang berpegangan tangan dengan kekasih mereka yang itu belum halal. Semua terlihat lumrah dan menjadi sebuah budaya hingga batasan aturan agama tidak jelas lagi. Akan terlihat mengherankan ketika kita melihat wanita yang berjilbab namun mereka masih berteriak-teriak, jingkrak-jingkrak kesana kemari. Semua itu karena masyarakat sudah beranggapan bahwa seorang wanita yang berjilbab mempunyai tutur kata yang halus,tindak tanduk yang terukur dan tidak berlebihan. Kalaupun mereka tertawa, suara tawanya tidak akan membangunkan bayi yang sedang tidur disampingnya. Kalaupun bersuara, suaranya pelan dan sangat sopan. Kalaupun melangkah maka langkahnya tidak akan meruntuhkan dedaunan di rerumputan. Wanita yang berjilbab selalu identik dengan hal-hal yang positif. Oleh karena itu akan sangat canggung dan tidak nyaman ketika kita melihat wanita yang berjilbab berjingkrak-jngkrak menonton konser  musik di barisan yang paling depan. Terkadang kejadian seperti ini membuat saya berpikir bahwa lebih baik wanita yang tidak berjilbab tapi segala tindak tanduknya masih dalam garis agama Islam dari pada wanita yang berjilbab yang saya sebutkan diatas. Tapi anggapan ini masih salah, karena kewajiban tetaplah kewajiban. Urusan baik buruknya akhlak itu tinggal setiap insan dan Tuhanya. Yang terpenting kewajiban harus tetap dijalankan.
Kini jilbab bukanlah benda yang langka dan mahal, kita akan mudah menemukan di berbagai tempat perbelanjaan, semua tersedia dari segi bentuk, warna dan harga. Hal inilah yang menyebabkan ibadah beralih menjadi fashion yang tak peduli syar’i atau tidak yang penting trendi dan seksi. Bahkan wanita yang berjilbab akan dijadikan menjadi beberapa golongan dari mereka yang benar-benar berniat untuk ibadah karena Allah atau hanya sekedar fashion. Ini adalah masalah kewajiban yang bersangkutan dengan Tuhan, tapi kenyataanya semua dianggap remeh dan seakan tak akan ada sanksinya. Kalau ada yang mengatakan belum siap berjilbab dan mempersiapkan hati untuk berjilbab terlebih dahulu, memangnya anda yakin kalau besok akan masih hidup? Jadi jangan menunda-nunda untuk berbuat kebaikan. Ketika ada yang mengatakan memakai jilbab itu membuat diri kita terasa panas dan gerah itu tidak bisa di jadikan sebagai alasan karena perlu kita ketahui bahwa api neraka itu ribuan kali lipat panasnya di bandingkan dengan api di bumi. Ini bukan masalah siap atau tidak siapnya diri dan hati kita, melainkan ini adalah sebuah kewajiban. Bukan masalah jilbab dua puluh-ribuan sehingga mereka mau memakai jilbab karena harga yang murah. Jilbab itu bukanlah perhiasan maka sederhanakanlah setiap pakaian yang anda kenakan, karena kita berjilbab untuk beribadah bukan untuk fashion. Kita beribadah hanya karena Allah bukan karena untuk mencari popularitas agar kita disanjung akan amal dan ibadah kita di dunia tapi ini adalah salah satu bekal kita untuk mendapatkan pintu surga yang terbuka untuk kita kelak di akhirat nanti. Jadi, amatlah disayangkan apabila kita menjumpai saudara-saudara kita muslimah yang memakai jilbabnya hanya untuk kepentingan - kepentingan tertentu saja seperti pada waktu sekolah, mengajar, kuliah, dan sebagainya. Tetapi di luar itu, apabila dia keluar rumah tidak memakai jilbabnya.
Jilbab adalah salah satu kehormatan bagi wanita muslimah, jika kita tetap teguh untuk menjaga jilbab kita berarti kita juga teguh menjaga kehormatan kita. Jika mereka mengatakan aurat wanita lebih susah dijaga dibandingkan lelaki, bukankah benda yang mahal harganya akan dijaga, dibelai serta disimpan di tempat yang teraman dan terbaik? Saya tidak akan memperpanjang polemik tentang fashion jilbab yang menyalahi syar’i. Saya lebih tertarik untuk menganggap hal ini adalah maraknya sambutan masyarakat kita terhadap jilbab. Atau dengan kata lain, ini adalah tahap dari perkembangan pemakai jilbab yang tidak diimbangi dengan kemantapan diri untuk paham terhadap ajaran Islam.
Tahukah kita bahwa kita ini hanya manusia biasa yang diciptakan? Ada kekuasaan yang Maha Besar yang menguasai diri kita. Dialah Allah, yang menguasai setiap helaian rambut, setiap hembusan nafas dan setiap gontai langkah kaki kita. Sehingga tidaklah salah apabila Penguasa kita itu memberikan perintah yang baik bagi kita dan sama sekali tidak merugikan kita. Lalu, ingatkah pula kita akan ikrar kita bahwa selama di dunia ini kita akan beribadah kepada-Nya dan tidak pernah mempersekutukan-Nya sedikit pun? Bukankah ibadah yang paling baik adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya? Dengan berjilbab, kita telah melakukan dua hal sekaligus, yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganya untuk memamerkan aurat kita. 

#AZ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar