Afifatuz Zuraidah
XII SOCIAL 4
Wahai Nabi!
Katakanlah kepada istri-istrimu
anak- anak perempuanmu dan istri - istri orang mukmin,
"Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.
" Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
(Al-Ahzab: 59)
anak- anak perempuanmu dan istri - istri orang mukmin,
"Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.
" Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
(Al-Ahzab: 59)
Indonesia adalah negara yang mayoritas
penduduknya beragama Islam tapi bukan negara Islam. Sebagai mayoritas, syariat-syariat agama yang diwajibkan
terlihat dominan dilakukan. Bahkan tak jarang arus globalisasi memberikan
pengaruh perubahan di beberapa aspek syariat
agama. Ada yang menerima dan ada yang tetap mempertahankan yang lama. Kalau
kita berbicara tentang agama dan budaya memang sering bertentangan. Misal saja
sekarang ini adalah tentang jilbab yang sudah mulai membudaya. Ketika kita
mencoba padukan antara Agama dan Budaya malah banyak menimbulkan persoalan.
Berbagai pertanyaan akan kebenaran masih masih banyak mengawang bahkan sering
di biarkan. Berbicara tentang perkembangan kebijakan dalam syariat Islam seringkali membuat kita apalagi masyarakat awam
melupakan sumber dari segala sumber hukum dalam agam Islam yang menjadi pedoman,
yaitu Al-Quran. Kini semua diatur secara subjektif lebih tepatnya semua
kebenaranya dianggap secara sepihak. “Apabila menurutku sesuai, terserah apa
kata orang lain yang penting menurutku benar”. Itulah sepenggal kalimat dari
beberapa mereka yang tak mau repot mencari kebenaran dari kewajiban yang mereka
jalankan. Contoh saja Jilbab, Jilbab dan perempuan memiliki hubungan yang erat
karena perempuan muslimah
biasanya identik dengan jilbab.
Biasanya, jilbab yang digunakan
lebih bernuansa budaya daripada ajaran agama.
Sekarang ini, jilbab digunakan
bukan untuk melindungi diri dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab,
tetapi lebih ke fashion. setiap perempuan
muslimah Indonesia memiliki pemahaman tersendiri mengenai arti jilbab. Ada yang menganggap jilbab sebagai penutup kepala dan ada
juga yang menganggap jilbab itu
sebagai pakaian komplit.
Jilbab dan kerudung sebenarnya memiliki arti yang
berbeda, kalau jilbab adalah keseluruhan pakaian
yang menutup mulai dari kepala sampai kaki, kecuali muka dan telapak tangan
hingga pergelangan tangan sedangkan kerudung adalah kain yang di gunakan untuk
menutupi kepala, leher hingga dada. Jadi bisa dipastikan kalau seseorang itu
berjilbab sudah pasti berkerudung dan begitupun sebaliknya. Seringkali ketika
saya pergi ke tempat umum seperti tempat perbelanjaan di kota banyak remaja
putri yang sudah mengenakan kerudung. Lega hati ini ketika mengetahui hal itu
karena setidaknya mereka telah menjalankan salah satu kewajiban Allah. Yang
membuat miris hati ini adalah ketika mereka berkerudung tapi tidak diseragamkan
dengan model pakaian mereka. Memang benar mereka menutup auratnya tapi cara
berpakaianya malah menonjolkan auratnya. Dengan celana jean dan baju atasan
yang tak sampai menutupi paha serta kain kerudung yang terkadang masih tembus
pandang juga berbagai model yang mereka kreasikan tak sampai menutupi dadanya, seakan-akan
sama saja mereka mempertontonkan bentuk tubuhnya di tempat umum. Disadari atau
tidak kejadian seperti ini sudah membuat diri mereka tidak dihargai dan
dihormati oleh penampilan mereka sendiri, yang mereka sajikan pada setiap mata
lelaki. Jika sesuatu buruk terjadi pada diri mereka, apa itu dengan kata-kata
yang nyeleneh atau mungkin sampai pada pelecehan seksual. Saya yakin mereka
pasti akan menyalahkan lelaki padahal hal tersebut atas keinginan mereka
sendiri untuk terlihat cantik dan sempurna dengan model pakaian dan kerudung
yang mereka kenakan. Setan dan jin telah menggiring mereka ke jalan Riya’.
Kalau seperti ini betapa tersiksanya menjadi seorang lelaki di jaman sekarang
ini.
Era sekarang ini model pakaian bagi para wanita
muslimah yang berjlbab tidak hanya sekedar pakaian panjang yang longgar dan
terkesan jadul. Berbagai macam model baru telah diciptakan dan hal ini lah yang
menjadi alasan para wanita untuk berjilbab. Hanya sebagian memang yang
berasalan berjilbab karena melihat model pakaian dan kerudung yang menarik tapi
jelas alasan itu tidak bisa di terima oleh agama, karena berjilbab bagi wanita
muslimah adalah sebuah kewajiban, jikan dilakukan akan mendapat pahala dan haram
hukumnya jika ditinggalkan. Berhati-hatilah ketika setan mulai mengintai anda
karena cara setan untuk menghasut kita ke jalan mereka banyak yang tidak kita
sadari. Khusunya bagi kita kaum wanita muslimah yang berjilbab. Setan dan jin
sangat tahu akan kecenderungan nafsu manusia yaitu kenikmatan dunia sesaat,
termasuk melepaskan jilbab. Dalam tahapanya setan akan membisikan kepada para
wanita bahwa pakaian apapun termasuk jilbab hanyalah pakaian, apa pun bentuk
dan namanya tak ada kaitanya dengan agama. Hal seperti ini akan menjauhkan kita
dari pakaian syar’i (identitas
keislaman). Jika kita lihat banyak yang berjilbab tapi masih memakai celana jean,
lengan baju yang hanya sampai hasta ataupun pakaian yang ketat dan tipis. Itu
semua dianggap wajar saja asal masih mengenakan kerudung meskipun potongan
pakaian yang pendek, tipis, ketat dan transparan yang penting masih menutupi
aurat. Berbagai model celana jean yang ditawarkan banyak menggoda para wanita
muslim untuk membelinya, dengan berbagai ukuran dan warna membuat para wanita
untuk tidak segan memakainya lalu di padukan dengan jilbab. Memang mudah dan
terlihat tidak merepotkan aktivitas kita ketika mengenakan celana jean tapi tak
sedikit juga dampak buruk ketika kita sering menggunakan celana jean terutama
berdampak pada rahim kita. Oleh karena itu Islam telah memberikan solusi dengan
pakaian yang lebih anggun dan sangat cocok untuk wanita yaitu rok. Tak akan
merepotkan aktivitas kita ketika kita benar-benar berniat untuk ibadah bukan
untuk sekedar fashion.
Jilbab pada prinsipnya adalah untuk mengendalikan
diri dari dorongan nafsu (syahwat) dan menjauhkan diri dari
perbuatan dosa dan maksiat. Perempuan beriman tentu saja akan memilih busana sederhana dan
tidak berlebihan sehingga menimbulkan perhatian publik dan tidak untuk pamer (riya'). Sering saya menjumpai wanita
yang berjilbab tapi tidak bertindak seperti semestinya mereka mengenakan
jilbab. Ada yang berteriak-teriak, berboncengan dengan yang bukan mahramnya
bahkan ada yang berpegangan tangan dengan kekasih mereka yang itu belum halal.
Semua terlihat lumrah dan menjadi sebuah budaya hingga batasan aturan agama
tidak jelas lagi. Akan terlihat mengherankan ketika kita melihat wanita yang
berjilbab namun mereka masih berteriak-teriak, jingkrak-jingkrak kesana kemari.
Semua itu karena masyarakat sudah beranggapan bahwa seorang wanita yang
berjilbab mempunyai tutur kata yang halus,tindak tanduk yang terukur dan tidak
berlebihan. Kalaupun mereka tertawa, suara tawanya tidak akan membangunkan bayi
yang sedang tidur disampingnya. Kalaupun bersuara, suaranya pelan dan sangat
sopan. Kalaupun melangkah maka langkahnya tidak akan meruntuhkan dedaunan di
rerumputan. Wanita yang berjilbab selalu identik dengan hal-hal yang positif.
Oleh karena itu akan sangat canggung dan tidak nyaman ketika kita melihat
wanita yang berjilbab berjingkrak-jngkrak menonton konser musik di barisan yang paling depan. Terkadang
kejadian seperti ini membuat saya berpikir bahwa lebih baik wanita yang tidak
berjilbab tapi segala tindak tanduknya masih dalam garis agama Islam dari pada
wanita yang berjilbab yang saya sebutkan diatas. Tapi anggapan ini masih salah,
karena kewajiban tetaplah kewajiban. Urusan baik buruknya akhlak itu tinggal
setiap insan dan Tuhanya. Yang terpenting kewajiban harus tetap dijalankan.
Kini jilbab bukanlah benda yang langka dan mahal, kita
akan mudah menemukan di berbagai tempat perbelanjaan, semua tersedia dari segi
bentuk, warna dan harga. Hal inilah yang menyebabkan ibadah beralih menjadi
fashion yang tak peduli syar’i atau
tidak yang penting trendi dan seksi. Bahkan wanita yang berjilbab akan
dijadikan menjadi beberapa golongan dari mereka yang benar-benar berniat untuk
ibadah karena Allah atau hanya sekedar fashion. Ini adalah masalah kewajiban
yang bersangkutan dengan Tuhan, tapi kenyataanya semua dianggap remeh dan
seakan tak akan ada sanksinya. Kalau ada yang mengatakan belum siap berjilbab
dan mempersiapkan hati untuk berjilbab terlebih dahulu, memangnya anda yakin
kalau besok akan masih hidup? Jadi jangan menunda-nunda untuk berbuat kebaikan.
Ketika ada yang mengatakan memakai jilbab itu membuat diri kita terasa panas
dan gerah itu tidak bisa di jadikan sebagai alasan karena perlu kita ketahui
bahwa api neraka itu ribuan kali lipat panasnya di bandingkan dengan api di
bumi. Ini bukan masalah siap atau tidak siapnya diri dan hati kita, melainkan
ini adalah sebuah kewajiban. Bukan masalah jilbab dua puluh-ribuan sehingga
mereka mau memakai jilbab karena harga yang murah. Jilbab itu bukanlah
perhiasan maka sederhanakanlah setiap pakaian yang anda kenakan, karena kita
berjilbab untuk beribadah bukan untuk fashion. Kita beribadah hanya karena
Allah bukan karena untuk mencari popularitas agar kita disanjung akan amal dan
ibadah kita di dunia tapi ini adalah salah satu bekal kita untuk mendapatkan pintu
surga yang terbuka untuk kita kelak di akhirat nanti. Jadi, amatlah disayangkan
apabila kita menjumpai saudara-saudara kita muslimah yang memakai
jilbabnya hanya untuk
kepentingan - kepentingan tertentu saja seperti pada waktu sekolah, mengajar,
kuliah, dan sebagainya. Tetapi di luar itu, apabila dia keluar rumah tidak
memakai jilbabnya.
Jilbab adalah salah satu kehormatan bagi wanita
muslimah, jika kita tetap teguh untuk menjaga jilbab kita berarti kita juga
teguh menjaga kehormatan kita. Jika mereka mengatakan aurat wanita lebih susah
dijaga dibandingkan lelaki, bukankah benda yang mahal harganya akan dijaga,
dibelai serta disimpan di tempat yang teraman dan terbaik? Saya tidak akan
memperpanjang polemik tentang fashion jilbab yang menyalahi syar’i. Saya lebih tertarik untuk
menganggap hal ini adalah maraknya sambutan masyarakat kita terhadap jilbab.
Atau dengan kata lain, ini adalah tahap dari perkembangan pemakai jilbab yang
tidak diimbangi dengan kemantapan diri untuk paham terhadap ajaran Islam.
Tahukah kita
bahwa kita ini hanya manusia biasa yang diciptakan? Ada kekuasaan yang Maha
Besar yang menguasai diri kita. Dialah Allah, yang menguasai setiap helaian
rambut, setiap hembusan nafas dan setiap gontai langkah kaki kita. Sehingga
tidaklah salah apabila Penguasa kita itu memberikan perintah yang baik bagi
kita dan sama sekali tidak merugikan kita. Lalu, ingatkah pula kita akan ikrar
kita bahwa selama di dunia ini kita akan beribadah kepada-Nya dan tidak pernah
mempersekutukan-Nya sedikit pun? Bukankah ibadah yang paling baik adalah
menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya? Dengan berjilbab,
kita telah melakukan dua hal sekaligus, yaitu menjalankan perintah Allah dan
menjauhi laranganya untuk memamerkan aurat kita.
#AZ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar