Senin, 03 Juni 2013

INDONESIA, SMART ?



              Indonesia merupakan salah satu Negara Multikulturalisme baik dari segi budaya atapun manusianya, selain sumber daya alam yang melimpah Indonesia juga dikaruniai sumber daya manusia yang melimpah. Terus meningkatnya usia produktif yang dimiliki Indonesia bisa membantu Indonesia menjadi lebih baik lagi, namun pertanyaanya apakah usia produktif yang dimiliki Indonesia memiliki kemampuan untuk menjawab tantangan global ? Bermutu atau tidaknya sumber daya manusia yang produktif mengharuskan kita untuk melihat kembali latar belakang pendidikan mereka. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas agar pembangunan di Indonesia bisa sejalan dengan negara maju. 

                Education For All di Indonesia mengalami penurunan jika pada tahun 2010 Indonesia berada pada peringkat 65 pada tahun 2011 menjadi peringkat 69. Sedangkan menurut UNESCO kualitas pendidikan di Indonesia berada pada peringkat 10 dari 14 negara-negara berkembang se-Asia Pacific, dan jika dilihat dari segi kualitas pengajar di Indonesia berada di peringkat 14 dari 14 negara. Dengan adanya hal seperti ini penulis berharap agar setiap lembaga pendidikan di Indonesia bukan hanya memperhatikan pada pendidikan formal saja namun menyeimbangkan pada pendidikan non formal juga. Selain itu peningkatan kualitas terhadap tenaga pengajar juga harus sangat diperhatikan karena jika kita melihat pada kenyataan di Indonesia sekarang ini semakin menurunya tingkat pendidikan di Indonesia disebabkan oleh lemahnya kualitas guru dalam menggali potensi siswanya. Salah satu tujuan pendidikan di Indonesia adalah untuk mencetak para pemimpin yang berkarakter cakap, berani, jujur, kreatif dan tanggap. Menggantikan kursi pemimpin yang sekarang ini sibuk dengan permainan korupsinya terhadap uang rakyat.

                Penulis berharap pendidikan Indonesia kedepanya lebih peduli dengan “Leadership and Environment”. Yang pertama dari Leadership agar menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila pada calon pemimpin Indonesia, karena menurut penulis para pelajar Indonesia sudah mengalami degadrasi moral. Tindakan kriminal bukan hanya dilakukan oleh oknum-oknum tertentu namun banyak pula dari kalangan terpelajar. Hal ini membuktikan bahwa jiwa kepemimpinan para pemuda ataupun pelajar tidak diperhatikan lagi. Sedangkan untuk Environment karena alam Indonesia yang mulai tak terurus, bisa dilihat dari kekayaan tambang dan hutan yang dibajak oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab, oleh karena itu pendidikan tentang akan pentingnya menjaga kelestarian alam juga perlu diajarkan sejak dini kepada pelajar karena pada hakikatnya “Generasi muda akan terus tumbuh,membawa serta lingkungan mereka” (Prof. Emil Salim) 


               Ini merupakan salah satu program penulis yang pernah penulis lakukan dengan rekan kerja penulis pada program ini di sebuah Sekolah Dasar di Kelurahan Tlogowaru, Kota Malang yaitu SDN Tlogowaru 1. Program ini bernama “GREEN LEADER GENERATION”, penulis berharap bisa bekerja sama dengan pemerintah seperti dari Kementrian Lingkungan  sebagai tindak lanjut program GLG ini. Penulis berharap jika pemerintah bisa memasukan kepedulian terhadap lingkungan manjadi salah satu kurikulum terbaru di setiap lembaga pendidikan di Indonseia seperti halnya Pramuka yang sudah masuk dalam kurikulum pendidikan 2013 sebagai salah satu mata pelajaran wajib. Green Leader Generation ini menyeimbangkan antara kepemimpinan dan lingkungan kepada para siswa dan tujuan akhir dari program ini adalah menciptakan banyak “G-SCHOOL”  atau green school yang ada di Indonesia, sehingga harapan nantinya “many leaders lead our community”.
 
GREEN LEADER GENERATION SYMBOL
            Terakhir harapan penulis untuk pendidikan Indonesia adalah, tidak adanya lagi kesenjangan sosial yang sangat menonjol dalam proses penempuhan pendidikan. Semua kalangan membutuhkan pendidikan yang bermutu namun banyak orang yang mengatakan bahwa pendidikan bermutu itu mahal, sehingga program wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan oleh pemerintah banyak mengalami hambatan karena banyaknya siswa yang putus sekolah dan hanya kalangan atas yang bisa menikmati pendidikan berkualitas. Kurangnya perhatian dari pemerintah terhadap pendidikan yang ada didaerah pinggiran adalah salah satu penyebab terjadinya hal itu. Adanya sekolah gratis di suatu daerah tak bisa menjamin akan kelayakan fasilitas pendidikan yang ada, yang ada malah apakah pendidikan itu memang benar ada yang gratis ? 
siswa siswi SDN Tlogowaru 1 merayakan Earth Hour
              Indonesia memiliki banyak pejabat tinggi negara dan orang-orang konglomerat tapi sayangnya mereka tidak bisa merakyat dengan rakyatnya, penulis pernah berpikir jika beberapa persen dari kekayaan para pejabat semisal 3% saja dijadikan satu lalu disumbangkan untuk pembangunan sekolah baru di daerah yang terpencil, terluar dan terdalam ataupun untuk memperbaiki sarana dan fasilitas yang ada disekolah itu maka hal tersebut akan sangat membantu meringankan beban pemerintah dalam memajukan pendidikan Indonesia yang bukan semakin maju malah semakin mundur. Indonseia sebenarnya sudah mempunyai sistim pendidikan yang bagus namun dalam penerapanya masih belum bisa memfokuskan dengan kondisi yang dibutuhkan oleh rakyatnya karena menurut penulis sistim Pendidikan Indonesia yang masih terpusat dan belum diimbangi dengan survey akan sistim pendidikan seperti apa yang dibutuhkan oleh rakyatnya adalah salah satu penyebabnya. semoga harapan penulis membuktikan ke dunia bahwa Indonesia memang smart itu benar, sehingga ita bisa dengan pemimpin dunia.
 

#Afifatuz Zuraidah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar