Mungkin...
Senja sore yang aku tunjukan padamu, kamu
anggap sebagai pengelabu warna anganmu. Mungkin.... hari ini bukanlah hari adil
bagiku. Siang harus mengembun memberi berbagai tanda tanya yang sebenarnya
mulut ini tak mau akan tanyakan hal itu. Roda terus berputar tapi seakan akan
kau hentikan semua itu dengan menyisahkan segala kegelisahan dan kerinduan
dikalbu ini tapi apa yang terjadi malah amarah yang terus bergerak melamban
tapi pasti menyamai mendung hati ini.
Mentari
tetap melamun, awan tak mau merubah bentuknya, mendung tak mau mengalah dengan
sinar surya, sungai mengeruh dan kenanga pun tak ada semerbak bau harumnya.
Mugkin..... hari ini penuh dengan debu yang membuat mataku terpejam layu,
diambang ini aku selalu berharap jika kau akan ucapkan kata maaf dan ingin kembali seperti dahulu, mungkin aku
memang tidak pernah merasakan akan kepergian mu namun aku selalu berpikir akan
kejauhan kita yang begitu berbeda, aku tak ingin menyalahkanmu karena aku
sendiri belum tahu isi hatimu, bukanlah sesuatu yang aku inginkan untuk
kehilanganmu, bukanlah sesuatu yang aku harapkan untuk membencimu dan bukanlah
sesuatu yang aku sadari untuk bisa mencintaimu.
Kini
aku harus berpijak diatas satu batu sedang yang lain tak bisa menyatu,,,,
Mungkin....
aku tak bisa mencari bianglala
Mungkin....
sinar rembulan hanya bisa menyusur rumput ilalang yang tak pernah menggebu
dimalam layang..
Mungkin
aku tak kan pernah lagi memandang senyumu, mendengar tawamu dan menatap indah
matamu, disana dan disini pasti ada yang lebih baik dari diri kita masing
masing,
Cinta
memang tidak harus memiliki dan Cinta memang butuh pengorbanan tapi pengorbanan
yang sesungguhnya adalah mengikhlaskan kekasih hati jika ia telah menemui
kekasihnya yang hakiki.
Memang
tak bisa munafik hati ini untuk mengatakan aku tak lagi mencintaimu, mataku tak
kan pernah bisa bohong. Aku selalu mendoakan mu disini, andai kau tau apa isi
dari doaku, aku selalu menyelipkan doa bahwa kita bisa bertemu lagi untuk dan
dalam keabadian.
Seindah apapun cinta itu adalah duri. Sebesar apapun
sayang itu adalah hanya misteri
Ingatlah
untuk mengingatku, renungkan kata-kata dariku.
Mungkin aku tak seperti yang kau harapkan, dan aku
tau kau tak permah menunjukan sikapmu itu, kemarrin aku memang memilikimu
sebagai sahabat dan sempat aku menaruh rasa sayang denganmu sahabatku. Tapi
kini aku kehilanganmu, setia yang aku harapkan kini berubah menjadi setia untuk
menyakiti, setia untuk menutupi apa yang terjadi, setia untuk berbohong dan
setia untuk menjaga kemunafikan ini.
Aku jenuh
dengan semua ini..
Aku
membuat diriku sendiri untuk bisa membencimu bahkan aku membenci setiap wanita
didekatmu,,,
Pasirpun tak meninggalkan jejak kakimu, hati ini
seperti daun mati. Ku coba untuk menghapus satu kalimat yang indah yang pernah
kau berikan padaku, menggantinya dengan seratus hujatan kata yang akan
kuberikan padamu.
Aku
tak mau terus berlinang karenamu, kamu bukan siapa-siapaku dan begitupun aku,
apa kamu sadar dengan kenyataan ini, apa kamu mengerti dengan apa yang aku
rasakan saat ini. Biarpun kau pandang aku begitu hina aku iklhas karena aku tak
seperti apa yang ada dimata mu. Setelah kamu mengajariku untuk mencintai
seseorang dan ternyata orang itu kamu, aku harap kamu juga mengajariku untuk
bisa melupakan seseorang dan seseorang itu kamu. Entah apa yang akan terjadi
nanti diantara kita, yang jelas masih ada sedikit luka yang belum tertupi oleh
kebahagiaan yang selama ini masih aku cari meskipun aku tahu itu ada dimana
tapi sangatlah sukar untukku mendapatkanya.
Terlalu berlebihan kah aku membanggakanmu didepan
teman-temanku ? apakah aku yang mungkin terlalu mencintaimu ? entahlah, yang
jelas kamu kini tak pernah hadir dalam hari-hariku lagi, kamu kemanapun aku tak
tahu. Sering aku berpikir apakah kamu pernah menceritakan dengan bangganya
tentang diriku kepada teman-temanmu? Pasti tidak mungkin. Kini aku takut untuk
merindukanmu karena seiring dengan datangnya rindu kebencian itu tak bisa aku
lepaskan.
Sebutan apalagi yang ada antara kita, masih
pantaskah “sahabat” aku sanjungkan diantara kita, ketika ranting yang akan
tumbuh menjadi batang dalam persahabatan antara kita patah karena keeogoisan
kita lalu benalu kita biarkan tumbuh karena kesombongan dan tak ada yang mau
mengalah satu sama lain.
Yang aku inginkan adalah “kita”, kita yang menjaga
persahabatan ini bukan aku atau kamu tapi kita. Lihatlah sejenak orang yang ada
disampingmu, kamu harus tahu bahwa perhatianku terhadapmu juga butuh
keperdulianmu butuh pengorbananmu juga. Mungkin kamu hanyalah mimpi bagiku.
#AZ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar