Minggu, 09 Juni 2013

Mungkin

Mungkin...
 Senja sore yang aku tunjukan padamu, kamu anggap sebagai pengelabu warna anganmu. Mungkin.... hari ini bukanlah hari adil bagiku. Siang harus mengembun memberi berbagai tanda tanya yang sebenarnya mulut ini tak mau akan tanyakan hal itu. Roda terus berputar tapi seakan akan kau hentikan semua itu dengan menyisahkan segala kegelisahan dan kerinduan dikalbu ini tapi apa yang terjadi malah amarah yang terus bergerak melamban tapi pasti menyamai mendung hati ini.
         
            Mentari tetap melamun, awan tak mau merubah bentuknya, mendung tak mau mengalah dengan sinar surya, sungai mengeruh dan kenanga pun tak ada semerbak bau harumnya. Mugkin..... hari ini penuh dengan debu yang membuat mataku terpejam layu, diambang ini aku selalu berharap jika kau akan ucapkan kata maaf  dan ingin kembali seperti dahulu, mungkin aku memang tidak pernah merasakan akan kepergian mu namun aku selalu berpikir akan kejauhan kita yang begitu berbeda, aku tak ingin menyalahkanmu karena aku sendiri belum tahu isi hatimu, bukanlah sesuatu yang aku inginkan untuk kehilanganmu, bukanlah sesuatu yang aku harapkan untuk membencimu dan bukanlah sesuatu yang aku sadari untuk bisa mencintaimu.
          Kini aku harus berpijak diatas satu batu sedang yang lain tak bisa menyatu,,,,
          Mungkin.... aku tak bisa mencari bianglala
          Mungkin.... sinar rembulan hanya bisa menyusur rumput ilalang yang tak pernah menggebu dimalam layang..
          Mungkin aku tak kan pernah lagi memandang senyumu, mendengar tawamu dan menatap indah matamu, disana dan disini pasti ada yang lebih baik dari diri kita masing masing,
          Cinta memang tidak harus memiliki dan Cinta memang butuh pengorbanan tapi pengorbanan yang sesungguhnya adalah mengikhlaskan kekasih hati jika ia telah menemui kekasihnya yang hakiki.
          Memang tak bisa munafik hati ini untuk mengatakan aku tak lagi mencintaimu, mataku tak kan pernah bisa bohong. Aku selalu mendoakan mu disini, andai kau tau apa isi dari doaku, aku selalu menyelipkan doa bahwa kita bisa bertemu lagi untuk dan dalam keabadian.
 Seindah apapun cinta itu adalah duri. Sebesar apapun sayang itu adalah hanya misteri

          Ingatlah untuk mengingatku, renungkan kata-kata dariku.
Mungkin aku tak seperti yang kau harapkan, dan aku tau kau tak permah menunjukan sikapmu itu, kemarrin aku memang memilikimu sebagai sahabat dan sempat aku menaruh rasa sayang denganmu sahabatku. Tapi kini aku kehilanganmu, setia yang aku harapkan kini berubah menjadi setia untuk menyakiti, setia untuk menutupi apa yang terjadi, setia untuk berbohong dan setia untuk menjaga kemunafikan ini.
          Aku jenuh dengan semua ini..
          Aku membuat diriku sendiri untuk bisa membencimu bahkan aku membenci setiap wanita didekatmu,,,
Pasirpun tak meninggalkan jejak kakimu, hati ini seperti daun mati. Ku coba untuk menghapus satu kalimat yang indah yang pernah kau berikan padaku, menggantinya dengan seratus hujatan kata yang akan kuberikan padamu.
          Aku tak mau terus berlinang karenamu, kamu bukan siapa-siapaku dan begitupun aku, apa kamu sadar dengan kenyataan ini, apa kamu mengerti dengan apa yang aku rasakan saat ini. Biarpun kau pandang aku begitu hina aku iklhas karena aku tak seperti apa yang ada dimata mu. Setelah kamu mengajariku untuk mencintai seseorang dan ternyata orang itu kamu, aku harap kamu juga mengajariku untuk bisa melupakan seseorang dan seseorang itu kamu. Entah apa yang akan terjadi nanti diantara kita, yang jelas masih ada sedikit luka yang belum tertupi oleh kebahagiaan yang selama ini masih aku cari meskipun aku tahu itu ada dimana tapi sangatlah sukar untukku mendapatkanya.

Terlalu berlebihan kah aku membanggakanmu didepan teman-temanku ? apakah aku yang mungkin terlalu mencintaimu ? entahlah, yang jelas kamu kini tak pernah hadir dalam hari-hariku lagi, kamu kemanapun aku tak tahu. Sering aku berpikir apakah kamu pernah menceritakan dengan bangganya tentang diriku kepada teman-temanmu? Pasti tidak mungkin. Kini aku takut untuk merindukanmu karena seiring dengan datangnya rindu kebencian itu tak bisa aku lepaskan.
Sebutan apalagi yang ada antara kita, masih pantaskah “sahabat” aku sanjungkan diantara kita, ketika ranting yang akan tumbuh menjadi batang dalam persahabatan antara kita patah karena keeogoisan kita lalu benalu kita biarkan tumbuh karena kesombongan dan tak ada yang mau mengalah satu sama lain.

Yang aku inginkan adalah “kita”, kita yang menjaga persahabatan ini bukan aku atau kamu tapi kita. Lihatlah sejenak orang yang ada disampingmu, kamu harus tahu bahwa perhatianku terhadapmu juga butuh keperdulianmu butuh pengorbananmu juga. Mungkin kamu hanyalah mimpi bagiku.

#AZ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar