Review “VISUALITAS GEMPA YOGYA 27 MEI 2006 (P.M Laksono)”
Afifatuz Zuraidah
Antropologi Budaya
Antropologi Budaya
Ada banyak sekali
cara untuk melakukan eksplorasi terhadap suatu kejadian, mengungkap peristiwa
yang terjadi lalu diberitakan kepada masyarakat, salah satunya adalah industri media
massa. Dalam hal ini, bisa saja hal tersebut berupa tulisan, gambar atau
tontonan televisi. Tak bisa dipungkiri memang, bahwa kenyataanya berita menjadi
salah satu komoditi penting dalam kehidupan sehari-hari. Melalui media massa,
masyarakat dimanapun akan mendapatkan kontruksi pengetehuan sosial baru tentang
apa saja yang sedang menjadi trending topik dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu dengan media massa masyarakat bisa membangun imajinasi sosial
terhadap kejadian yang diluar jangkauan penglihatan dan pendengaran kita.
Seperti contoh peristiwa gempa Yogya yang terjadi delapan tahun silam, yang
menjadi sorotan media massa untuk mengisi headline news mereka dan menjadi berita paling dicari-cari
oleh masyarakat Indonesia selama kurang lebih satu bulan penuh. Melalui media
massa, pembaca ataupun penonton dibawa ke dalam dunia baru sesuai dengan bagaimana
imajinasi mereka bekerja. Seperti ketika audien membaca berita atas terjadinya
gempa Yogya yang begitu dahsyat, mereka akan masuk kedalam penggambaran dunia
baru dimana visualitas atau penggambaran mereka mengikuti alur cerita yang
dibuat oleh penulis berita. Bagi mereka yang membaca atau menonton berita gempa
Yogya dengan menggunakan emosi, mau tidak mau mereka akan larut dalam perasaan
iba, atau menurut orang jawa disebut dengan perasaan nelongso.
Media massa seakan-akan tidak pernah lengah dalam hal memburu
peristiwa yang terjadi yang kemudian dijadikan sebagai sajian hasrat membaca
atau menonton bagi audiensi. Berita bukan merupakan ‘jendela dunia’ yang tanpa
perantara, melainkan suatu representasi hasil seleksi dan kontruksian yang
membentuk ‘realitas’ (Barker, 2013:276). Saya setuju dengan pernyataan ini,
karena berbagai hal yang akan dimasukkan kedalam berita maka akan dipilih
dengan cara-cara khusus sehingga cerita hasil konstruksian tersebut akan
menjadi suatu hal yang tidak akan pernan netral lagi. Dalam artikel visualitas
gempa Yogya ini saya mengambil contoh lain dari visualitas selain pemberian
gambaran melalui tulisan atau media surat kabar yaitu, melalui televisi. Teknologi
pengumpulan berita elektronik (Electronic News Gathering) memungkinkan
televisi menampilkan gambaran berbagai peristiwa pada tingkat global dan lokal
hampir pada saat bersamaan terjadinya peristiwa itu (Barker, 2013:281). Seperti
ketika gempa Yogya terjadi, selang beberapa jam media massa berduyun-duyun
datang mencari berita secara siaran langsung (Live Report) diberbagai titik
tempat kejadian yang sangat memungkinkan agar para penonton tertarik dan larut
dalam siaran tersebut. Betapapun media massa sibuk berlalu lalang memburu
berita tentang dahsyatnya gempa Yogya, ternyata disisi lain karena media massa
yang memediasikan bencana tersebut ternyata dapat menumbuhkan gerakan sosial
baru ataupun yang sudah ada untuk turun tangan membantu korban gemba Yogya.
Penggalangan dana dalam bentuk apapun dilakukan agar mencukupi kebutuhan para
korban gempa, karena ternyata bantuan dari pemerintah belumlah cukup untuk
mencukupi segala hal yang kekurangan. Sungguh sangat ironi memang ketika
seharusnya bantuan itu terbagikan rata kepada para korban tetapi harus
tersendat oleh birokrasi yang ribet dan termonopoli oleh beberapa pihak yang
tidak berwenang. Seperti pernyataan Sultan Hamengkubowono X yang ditulisnya
dalam buku “Merajut Kembali Keindonesiaan Kita”.
“Sejak masa Orde Baru sampai menjelang masa transisi tahun 1998,
kondisi birokrasi di Indonesia mengalami sakit bureaumania seperti
kecenderungan inefisiensi, penyalahgunaan wewenang, kolusi, korupsi dan
nepotisme. Birokrasi dijadikan alat status quo mengoptasi masyarakat
guna mempertahankan dan memperluas kekuasaan monopolitik. Padahal birokrasi
diperlukan sebagai aktor pelayanan publik (public services).”
Hal seperti ini
seperti sudah wajar terjadi dikalangan elite ketika mereka sudah gila
kekuasaan. Bahkan ditengah bencana seperti gempa Yogya, proses penyaluran
bantuanpun bisa dijadikan sebagai ajang mencari muka atas partai-partai yang
menjadi tempat naungan kekuasaan mereka. Duka dan keterpurukan tak seharusnya
dirasakan dalam kurun waktu yang lama, oleh karena itu minggu ketika pasca
gempa munculah isu gerakan Jogja Bangkit. Sultan lah yang mengajak korban gempa
untuk bangkit dan tidak mengharapkan bantuan dari pihak manapun termasuk
pemerintah pusat. Reorientasi dilakukan untuk menata Jogja kembali setelah
banyak pihak benar-benar terdorong untuk melakukan perubahan. Menurut John P.
Kotter dan Dan S. Cohen dalam bukunya “The Heart of Change”, orang terdorong
untuk berubah karena ia “melihat” urgensi untuk berubah, “merasakan”
kepentingan untuk berubah, dan untuk selanjutnya siap “melakukan” perubahan,
(Hamengkubowono 2008:212). Dalam hal ini para korban gempa menyadari bahwa
mereka benar-benar dipaksa untuk menyesuaikan diri terhadap kondisi yang
berubah, dimana mereka banyak kehilangan harta benda bahkan anggota keluarga
mereka, dan di situ selalu ada kegetiran yang membuat mereka harus benar-benar
bangkit kembali menata kehidupan baru mereka. dari situlah Jogja mengalami
restrukturisasi atau penataan ulang dalam berbagai aspek hingga Jogja bangkit
kembali seperti saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar