Rabu, 19 November 2014

Review “VISUALITAS GEMPA YOGYA 27 MEI 2006 (P.M Laksono)”



Review “VISUALITAS GEMPA YOGYA 27 MEI 2006 (P.M Laksono)”
Afifatuz Zuraidah
Antropologi Budaya
            Ada banyak sekali cara untuk melakukan eksplorasi terhadap suatu kejadian, mengungkap peristiwa yang terjadi lalu diberitakan kepada masyarakat, salah satunya adalah industri media massa. Dalam hal ini, bisa saja hal tersebut berupa tulisan, gambar atau tontonan televisi. Tak bisa dipungkiri memang, bahwa kenyataanya berita menjadi salah satu komoditi penting dalam kehidupan sehari-hari. Melalui media massa, masyarakat dimanapun akan mendapatkan kontruksi pengetehuan sosial baru tentang apa saja yang sedang menjadi trending topik dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu dengan media massa masyarakat bisa membangun imajinasi sosial terhadap kejadian yang diluar jangkauan penglihatan dan pendengaran kita. Seperti contoh peristiwa gempa Yogya yang terjadi delapan tahun silam, yang menjadi sorotan media massa untuk mengisi headline news  mereka dan menjadi berita paling dicari-cari oleh masyarakat Indonesia selama kurang lebih satu bulan penuh. Melalui media massa, pembaca ataupun penonton dibawa ke dalam dunia baru sesuai dengan bagaimana imajinasi mereka bekerja. Seperti ketika audien membaca berita atas terjadinya gempa Yogya yang begitu dahsyat, mereka akan masuk kedalam penggambaran dunia baru dimana visualitas atau penggambaran mereka mengikuti alur cerita yang dibuat oleh penulis berita. Bagi mereka yang membaca atau menonton berita gempa Yogya dengan menggunakan emosi, mau tidak mau mereka akan larut dalam perasaan iba, atau menurut orang jawa disebut dengan perasaan nelongso.
 Media massa seakan-akan tidak pernah lengah dalam hal memburu peristiwa yang terjadi yang kemudian dijadikan sebagai sajian hasrat membaca atau menonton bagi audiensi. Berita bukan merupakan ‘jendela dunia’ yang tanpa perantara, melainkan suatu representasi hasil seleksi dan kontruksian yang membentuk ‘realitas’ (Barker, 2013:276). Saya setuju dengan pernyataan ini, karena berbagai hal yang akan dimasukkan kedalam berita maka akan dipilih dengan cara-cara khusus sehingga cerita hasil konstruksian tersebut akan menjadi suatu hal yang tidak akan pernan netral lagi. Dalam artikel visualitas gempa Yogya ini saya mengambil contoh lain dari visualitas selain pemberian gambaran melalui tulisan atau media surat kabar yaitu, melalui televisi. Teknologi pengumpulan berita elektronik (Electronic News Gathering) memungkinkan televisi menampilkan gambaran berbagai peristiwa pada tingkat global dan lokal hampir pada saat bersamaan terjadinya peristiwa itu (Barker, 2013:281). Seperti ketika gempa Yogya terjadi, selang beberapa jam media massa berduyun-duyun datang mencari berita secara siaran langsung (Live Report) diberbagai titik tempat kejadian yang sangat memungkinkan agar para penonton tertarik dan larut dalam siaran tersebut. Betapapun media massa sibuk berlalu lalang memburu berita tentang dahsyatnya gempa Yogya, ternyata disisi lain karena media massa yang memediasikan bencana tersebut ternyata dapat menumbuhkan gerakan sosial baru ataupun yang sudah ada untuk turun tangan membantu korban gemba Yogya. Penggalangan dana dalam bentuk apapun dilakukan agar mencukupi kebutuhan para korban gempa, karena ternyata bantuan dari pemerintah belumlah cukup untuk mencukupi segala hal yang kekurangan. Sungguh sangat ironi memang ketika seharusnya bantuan itu terbagikan rata kepada para korban tetapi harus tersendat oleh birokrasi yang ribet dan termonopoli oleh beberapa pihak yang tidak berwenang. Seperti pernyataan Sultan Hamengkubowono X yang ditulisnya dalam buku “Merajut Kembali Keindonesiaan Kita”.
“Sejak masa Orde Baru sampai menjelang masa transisi tahun 1998, kondisi birokrasi di Indonesia mengalami sakit bureaumania seperti kecenderungan inefisiensi, penyalahgunaan wewenang, kolusi, korupsi dan nepotisme. Birokrasi dijadikan alat status quo mengoptasi masyarakat guna mempertahankan dan memperluas kekuasaan monopolitik. Padahal birokrasi diperlukan sebagai aktor pelayanan publik (public services).”
            Hal seperti ini seperti sudah wajar terjadi dikalangan elite ketika mereka sudah gila kekuasaan. Bahkan ditengah bencana seperti gempa Yogya, proses penyaluran bantuanpun bisa dijadikan sebagai ajang mencari muka atas partai-partai yang menjadi tempat naungan kekuasaan mereka. Duka dan keterpurukan tak seharusnya dirasakan dalam kurun waktu yang lama, oleh karena itu minggu ketika pasca gempa munculah isu gerakan Jogja Bangkit. Sultan lah yang mengajak korban gempa untuk bangkit dan tidak mengharapkan bantuan dari pihak manapun termasuk pemerintah pusat. Reorientasi dilakukan untuk menata Jogja kembali setelah banyak pihak benar-benar terdorong untuk melakukan perubahan. Menurut John P. Kotter dan Dan S. Cohen dalam bukunya “The Heart of Change”, orang terdorong untuk berubah karena ia “melihat” urgensi untuk berubah, “merasakan” kepentingan untuk berubah, dan untuk selanjutnya siap “melakukan” perubahan, (Hamengkubowono 2008:212). Dalam hal ini para korban gempa menyadari bahwa mereka benar-benar dipaksa untuk menyesuaikan diri terhadap kondisi yang berubah, dimana mereka banyak kehilangan harta benda bahkan anggota keluarga mereka, dan di situ selalu ada kegetiran yang membuat mereka harus benar-benar bangkit kembali menata kehidupan baru mereka. dari situlah Jogja mengalami restrukturisasi atau penataan ulang dalam berbagai aspek hingga Jogja bangkit kembali seperti saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar