Dari
dulu kita belajar mengenai sejarah dari buku pelajaran sekolah yang sudah
mengalami cetekan berulang kali dan tetap menceritakan hal yang sama. Ketika
ada bukti bahwa cerita sejarah zaman dulu itu ditulis dalam buku, seolah-olah
kita menganggap bahwa sejarah tersebut adalah benar adanya, apalagi ketika kita
dibekali ilmu tersebut sejak pendidikan dasar. Dari film The Act of Killing
yang sudah saya tonton ini, benar-benar bisa membuka mata dan membuat hati saya
miris melihat bagaimana bangsa ini dijajah oleh warganya sendiri. Kali pertama
saya menonton film ini adalah ketika kelas XII SMA yang dibawa oleh guru sosiologi saya. Pada
awalnya saya tidak terlalu paham dengan film yang biasa disebut oleh orang
indonesia film Jagal, karena saya bingung dengan para penari-penari yang menari
di air terjun dan dari dalam rumah ikan, yang menurut saya tidak ada hubunganya
dengan isi film tersebut atau mungkin saya tidak mengerti seni dalam perfilman,
sehingga hal tersebut membuat saya merasa bosan ketika kali pertama menontonya.
Pemutaran film ini kali pertama ditayangkan didalam kelas dan hanya guru
sosiologi saya yang mempunyai film ini, sehingga ketika film belum selesai
ditonton saya merasa digantung oleh isi ceritanya. Karena pada waktu itu memang
kita dilarang untuk menyebar luaskan film ini dikalangan teman-teman, karena
takutnya mereka salah persepsi.
Saya benar-benar kaget ketika
mengetahui bahwa yang membuat film ini adalah bukan orang Indonesia melainkan
seorang Antropolog dari luar negeri yang bernama Joshua Oppenheimer. Sejarah
kelam yang terungkap kembali di masa orde baru ini dan berhasil di bongkar oleh
bangsa lain, entah hal tersebut merupakan penemuan yang luar biasa atau bahkan
memalukan. Mungkin menjadi luar biasa bagi mereka yang berhasil mengungkap sisi
lain di balik kekejaman PKI dan mungkin juga memalukan bagi yang mempunyai
sejarah tersebut. Tapi bagaimanapun juga, dari film Jagal ini memberikan angin
segar khususnya bagi para keluarga korban. Dalam film yang berdurasi 140 menit
ini menceritakan tentang seorang yang bernama Anwar Congo ‘algojo’ 65 sebagai
pemeran utamanya dengan kawanya dengan bangga menceritakan bagaimana mereka
mengeksekusi orang-orang yang dianggap sebagai PKI. Dalam film tersebut juga
diceritakan bagaimana Anwar dan kawanya menginterogasi sampai membunuh dengan
menggunakan metode-metode yang dianggap mereka efisien seperti menggunakan
kawat yang diikat pada leher korban dan menaruh leher korban pada kaki meja
kemudian mejanya diduduki oleh kawan-kawan Anwar yang berbadan besar sampai
korbanya meninggal. Cara terebut dilakukan karena agar si korban tidak
meninggalkan jejak berupa darah, dan cara tersebut dia dapat dari film-film
gangster yang mereka tonton dari bioskop karena pada saat itu pekerjaan utama
mereka adalah sebagai penjaga karcis bioskop. Selain Anwar Congo yang
memberikan kesaksian ada juga pihak lain yang terlibat dalam pembantaian 65
tersebut seperti Syamsul Arifin yang menjadi Gubernur Sumatera Utara dan Ibrahim
Sinik pemilik harian koran Medan Pos. Dia menceritakan bahwa kantornya juga
digunakan sebagai tempat menginterogasi dan membunuh korban, selain itu dia
juga ikut andil dalam keperluan berita, dimana dia memberitakan hal-hal yang memancing
kebencian masyarakat terhadap PKI.
Dalam film Jagal ini juga
diceritakan tentang gerakan Pemuda Pancasila yang begitu kuat dalam pergerakan
Indonesia bahkan mendapat peran penting dalam pembantaian 65 di Sumatera Utara
pada saat itu, saya bisa mengatakan hal tersebut karena dapat dilihat dari
siapa yang memimpinya, salah satunya adalah Jusuf Kalla. Dalam orasinya dia
menjelaskan tentang apa itu preman yang berasal dari kata Free Man yang
berarti orang bebas, dari pengertian tersebut dia juga menambahkan bahwa bangsa
ini sangat membutuhkan preman. Kekuatan Pemuda Pancasila memang banyak ditakuti
khususnya oleh para pedagang Tionghoa di pasar, karena mereka selalu dimintai
uang dan jika mereka tidak mau memberikan atau hanya memberi dalam jumlah yang
sedikit para pemuda pancasila bisa menggunakan cara pemaksaan sampai kekerasan
untuk memeras para pedagang Tionghoa. Dalam film tersebut juga menampilkan
adegan penyerbuan Pemuda Pancasila pada sebuah perkampungan yang begitu sadis.
Saya tidak membayangkan bagaimana setelah adegan itu selesai, karena dari
adegan tersebut saya dapat melihat jelas bagaimana bangsa ini dijajah oleh
warganya sendiri. Ada pembakaran, pembacokan, penyeretan, membentak, berteriak
kasar dan itu bagi saya sangat mengerikan, karena dalam adegan tersebut juga
dimainkan oleh ibu-ibu dan anak kecil. Yang menjadi pertanyaan saya adalah,
apakah setelah memainkan adegan tersebut mereka mengalami trauma atau tidak?
Karena dalam adegan tersebut mereka bertindak sebagai korban kekejaman para
Pemuda Pancasila. Yang menarik lagi dalam film tersebut adalah ketika Anwar dan
cucunya memberikan makan kepada itik, dan dia menyuruh cucunya untuk meminta
maaf kepada itik karena telah memukulnya. Sungguh ironi, dengan hewan saja dia
bisa merasa kasihan tetapi dengan sesama manusia dia begitu kejam hingga
membunuh ratusan orang yang tidak bersalah dengan biadab. Tapi dia sendiri juga
sempat menangis ketika melihat tayangan ulang dia menyiksa dan membunuh korban,
dan bagi saya itu bukanlah hal yang romantis karena sesungguhnya orang semacam
itu juga harus mendapatkan hukuman mati, tapi apa daya ketika hukum menjadi
alat penegak kekuasaan bagi mereka yang gila kedudukan.
Bagaimanapun juga film The Act of
Killing ini mendapat penghargaan yang luar biasa dari berbagai pihak, bahkan
pemutaran pertama film ini bukanlah di Indonesia melainkan di Toronto
International Film Festival pada bulan September 2012 sedangkan di Indonesia
tayang perdana di Jakarta pada 1 November 2012. Hal ini dilakukan karena untuk
mendapatkan respon dari masyarakat dunia dan ternyata benar mendapatkan respon
yang luar biasa dari masyrakat dunia. Film The Act of Killing ini dianggap film
dokumenter yang frontal namun mendidik sehingga mendapatkan begitu banyak
penghargaan dan masuk dalam beberapa nominasi. Dalam memproduksi film ini
membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu dari tahun 2005 sampai 2011 yang
sebagian besar latar tempatnya diambil di Medan Sumatera Utara, Indonesia. Untuk
mendapatkan kebenaran, Joshua Oppenheimer juga mewawancarai
kerabat terdekat Anwar congo dan beberapa tetangganya, sehingga dia bisa
mencocokkan data antara apa yang dikatakan oleh Anwar congo dan apa yang
terjadi sebenarnya. Selama proses pembuatan yang menghasilkan film penuh sensasional
ini ada juga film sejenis Jagal yang diliris dua tahun setelah Jagal yaitu yang
berjudul Senyap yang kini sudah mulai di putar di beberapa tempat. Yang menarik
dari film ini bagi saya adalah karena pengambilan sudut pandang dari pelaku
pembunuhan bukan dari korban/keluarga korban seperti pada umumnya. Ketika para
pelaku kejahatan bisa bebas berkeliaran dimana-mana, keluarga korban bingung
mencari penegakan hukum keadilan. Bahkan sampai sekarang pun sepertinya tidak
ada tindakan lanjutan untuk menanggapi kejahatan Anwar Congo dan
teman-temannya. Saya harap dari film ini kita sebagai warga Indonesia khususnya
para penguasa di negeri ini bisa belajar dari pengalaman yang cukup kelam untuk
menjadikan Indonesia lebih berkualitas dimata dunia.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar