Kamis, 11 Desember 2014

Review Film “The Act of Killing”



       



Afifatuz Zuraidah (14/366083/SA/17540)
 

         Dari dulu kita belajar mengenai sejarah dari buku pelajaran sekolah yang sudah mengalami cetekan berulang kali dan tetap menceritakan hal yang sama. Ketika ada bukti bahwa cerita sejarah zaman dulu itu ditulis dalam buku, seolah-olah kita menganggap bahwa sejarah tersebut adalah benar adanya, apalagi ketika kita dibekali ilmu tersebut sejak pendidikan dasar. Dari film The Act of Killing yang sudah saya tonton ini, benar-benar bisa membuka mata dan membuat hati saya miris melihat bagaimana bangsa ini dijajah oleh warganya sendiri. Kali pertama saya menonton film ini adalah ketika kelas XII SMA  yang dibawa oleh guru sosiologi saya. Pada awalnya saya tidak terlalu paham dengan film yang biasa disebut oleh orang indonesia film Jagal, karena saya bingung dengan para penari-penari yang menari di air terjun dan dari dalam rumah ikan, yang menurut saya tidak ada hubunganya dengan isi film tersebut atau mungkin saya tidak mengerti seni dalam perfilman, sehingga hal tersebut membuat saya merasa bosan ketika kali pertama menontonya. Pemutaran film ini kali pertama ditayangkan didalam kelas dan hanya guru sosiologi saya yang mempunyai film ini, sehingga ketika film belum selesai ditonton saya merasa digantung oleh isi ceritanya. Karena pada waktu itu memang kita dilarang untuk menyebar luaskan film ini dikalangan teman-teman, karena takutnya mereka salah persepsi.
            Saya benar-benar kaget ketika mengetahui bahwa yang membuat film ini adalah bukan orang Indonesia melainkan seorang Antropolog dari luar negeri yang bernama Joshua Oppenheimer. Sejarah kelam yang terungkap kembali di masa orde baru ini dan berhasil di bongkar oleh bangsa lain, entah hal tersebut merupakan penemuan yang luar biasa atau bahkan memalukan. Mungkin menjadi luar biasa bagi mereka yang berhasil mengungkap sisi lain di balik kekejaman PKI dan mungkin juga memalukan bagi yang mempunyai sejarah tersebut. Tapi bagaimanapun juga, dari film Jagal ini memberikan angin segar khususnya bagi para keluarga korban. Dalam film yang berdurasi 140 menit ini menceritakan tentang seorang yang bernama Anwar Congo ‘algojo’ 65 sebagai pemeran utamanya dengan kawanya dengan bangga menceritakan bagaimana mereka mengeksekusi orang-orang yang dianggap sebagai PKI. Dalam film tersebut juga diceritakan bagaimana Anwar dan kawanya menginterogasi sampai membunuh dengan menggunakan metode-metode yang dianggap mereka efisien seperti menggunakan kawat yang diikat pada leher korban dan menaruh leher korban pada kaki meja kemudian mejanya diduduki oleh kawan-kawan Anwar yang berbadan besar sampai korbanya meninggal. Cara terebut dilakukan karena agar si korban tidak meninggalkan jejak berupa darah, dan cara tersebut dia dapat dari film-film gangster yang mereka tonton dari bioskop karena pada saat itu pekerjaan utama mereka adalah sebagai penjaga karcis bioskop. Selain Anwar Congo yang memberikan kesaksian ada juga pihak lain yang terlibat dalam pembantaian 65 tersebut seperti Syamsul Arifin yang menjadi Gubernur Sumatera Utara dan Ibrahim Sinik pemilik harian koran Medan Pos. Dia menceritakan bahwa kantornya juga digunakan sebagai tempat menginterogasi dan membunuh korban, selain itu dia juga ikut andil dalam keperluan berita, dimana dia memberitakan hal-hal yang memancing kebencian masyarakat terhadap PKI.
            Dalam film Jagal ini juga diceritakan tentang gerakan Pemuda Pancasila yang begitu kuat dalam pergerakan Indonesia bahkan mendapat peran penting dalam pembantaian 65 di Sumatera Utara pada saat itu, saya bisa mengatakan hal tersebut karena dapat dilihat dari siapa yang memimpinya, salah satunya adalah Jusuf Kalla. Dalam orasinya dia menjelaskan tentang apa itu preman yang berasal dari kata Free Man yang berarti orang bebas, dari pengertian tersebut dia juga menambahkan bahwa bangsa ini sangat membutuhkan preman. Kekuatan Pemuda Pancasila memang banyak ditakuti khususnya oleh para pedagang Tionghoa di pasar, karena mereka selalu dimintai uang dan jika mereka tidak mau memberikan atau hanya memberi dalam jumlah yang sedikit para pemuda pancasila bisa menggunakan cara pemaksaan sampai kekerasan untuk memeras para pedagang Tionghoa. Dalam film tersebut juga menampilkan adegan penyerbuan Pemuda Pancasila pada sebuah perkampungan yang begitu sadis. Saya tidak membayangkan bagaimana setelah adegan itu selesai, karena dari adegan tersebut saya dapat melihat jelas bagaimana bangsa ini dijajah oleh warganya sendiri. Ada pembakaran, pembacokan, penyeretan, membentak, berteriak kasar dan itu bagi saya sangat mengerikan, karena dalam adegan tersebut juga dimainkan oleh ibu-ibu dan anak kecil. Yang menjadi pertanyaan saya adalah, apakah setelah memainkan adegan tersebut mereka mengalami trauma atau tidak? Karena dalam adegan tersebut mereka bertindak sebagai korban kekejaman para Pemuda Pancasila. Yang menarik lagi dalam film tersebut adalah ketika Anwar dan cucunya memberikan makan kepada itik, dan dia menyuruh cucunya untuk meminta maaf kepada itik karena telah memukulnya. Sungguh ironi, dengan hewan saja dia bisa merasa kasihan tetapi dengan sesama manusia dia begitu kejam hingga membunuh ratusan orang yang tidak bersalah dengan biadab. Tapi dia sendiri juga sempat menangis ketika melihat tayangan ulang dia menyiksa dan membunuh korban, dan bagi saya itu bukanlah hal yang romantis karena sesungguhnya orang semacam itu juga harus mendapatkan hukuman mati, tapi apa daya ketika hukum menjadi alat penegak kekuasaan bagi mereka yang gila kedudukan.
            Bagaimanapun juga film The Act of Killing ini mendapat penghargaan yang luar biasa dari berbagai pihak, bahkan pemutaran pertama film ini bukanlah di Indonesia melainkan  di Toronto International Film Festival pada bulan September 2012 sedangkan di Indonesia tayang perdana di Jakarta pada 1 November 2012. Hal ini dilakukan karena untuk mendapatkan respon dari masyarakat dunia dan ternyata benar mendapatkan respon yang luar biasa dari masyrakat dunia. Film The Act of Killing ini dianggap film dokumenter yang frontal namun mendidik sehingga mendapatkan begitu banyak penghargaan dan masuk dalam beberapa nominasi. Dalam memproduksi film ini membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu dari tahun 2005 sampai 2011 yang sebagian besar latar tempatnya diambil di Medan Sumatera Utara, Indonesia. Untuk mendapatkan kebenaran, Joshua Oppenheimer juga mewawancarai kerabat terdekat Anwar congo dan beberapa tetangganya, sehingga dia bisa mencocokkan data antara apa yang dikatakan oleh Anwar congo dan apa yang terjadi sebenarnya. Selama proses pembuatan yang menghasilkan film penuh sensasional ini ada juga film sejenis Jagal yang diliris dua tahun setelah Jagal yaitu yang berjudul Senyap yang kini sudah mulai di putar di beberapa tempat. Yang menarik dari film ini bagi saya adalah karena pengambilan sudut pandang dari pelaku pembunuhan bukan dari korban/keluarga korban seperti pada umumnya. Ketika para pelaku kejahatan bisa bebas berkeliaran dimana-mana, keluarga korban bingung mencari penegakan hukum keadilan. Bahkan sampai sekarang pun sepertinya tidak ada tindakan lanjutan untuk menanggapi kejahatan Anwar Congo dan teman-temannya. Saya harap dari film ini kita sebagai warga Indonesia khususnya para penguasa di negeri ini bisa belajar dari pengalaman yang cukup kelam untuk menjadikan Indonesia lebih berkualitas dimata dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar