Kamis, 11 Desember 2014

Review Pemikiran Orang Jawa Ketika Membaca Tanda-Tanda Jaman (P.M. Laksono)



Afifatuz Zuraidah
            Ketika membaca artikel ini saya merasa seperti membaca dan memahami lebih dalam tentang diri dan perwatakan saya. Hal ini sungguh sangat menyenangkan karena dari bacaan ini saya lebih merasa uwes jowo (sudah jawa), karena melihat pada kenyataanya saya dari keturunan jawa asli namun ketika sudah berada dalam lingkungan luar, saya merasa kehilangan karakter orang jawa. Jika berbicara tentang orang jawa, maka akan lebih menarik jika kita menyinggung tentang dimensi-dimensi simbolik dan mistis kehidupan, meskipun dikatakan dalam artikel ini bahwa orang jawa gemar berpikir post event,  artinya setelah ada kejadian baru berani menyatakan hasil amatan masing-masing. Namun menurut pengalaman saya, yang notabennya saya lahir dan besar di desa didalam keluarga yang masih mempelajari tentang kebatinan sampai sekarang, orang jawa semakin senang membicarakn tentang hal-hal magis, sampai dengan wawasan religius yang kejawen dengan siapapun yang menaruh minat atau bahkan orang asing.  Bagi kebanyakan dari mereka, kebatinan atau dimensi pusat kehidupan adalah sisi yang paling menarik: acap kali mereka melihatnya sebagai inti sari kebudayaan mereka, (Mulder 2001:viii). Segala sesuatu yang dibicarakan memang tidak semuanya dapat dibuktikan dalam wujud yang nyata, namun bagi orang jawa hal tersebut memiliki pesona tersendiri hingga sering kali orang jawa akan keasyikan mendiskusikan seperti makna simbolik wayang yang didasarkan pada mitologi Mahabharata.
Kehidupan sosial dalam masyarakat Jawa tampaknya tidak menyisakan banyak ruang bagi ekspresi individual. Orang Jawa sangat terkenal dengan rasa toleransi yang tinggi dan gotong royong yang tanpa disadari sudah mendominasi dalam cara kehidupan masyarakat Jawa, Sepi ing pamrih (tidak mementingkan diri) rasanya sudah menjamur dalam diri masyarakat Jawa. Hal tersebut membuat kehidupan sosial masyarakat Jawa lebih aman dari kekacauan, meskipun pada dasarnya mereka juga mempunyai hierarki atau stratifikasi yang hidup berbaur sehingga lebih mudah untuk berintegrasi. Sikap orang jawa yang sebagian besar andhap asor (rendah hati), prasaja (bersahaja) dan narima (mensyukuri hidup seperti adanya) bisa dijadikan sebagai salah satu alasan kenapa kasta tidak bisa sejalan dengan kehidupan orang Jawa, meskipun jika melihat pada sejarahnya masyarakat Jawa juga mendapatkan doktrin dan praktik Hindu-Budha sebelum agama islam datang. Adanya stratifikasi ataupun struktur masyarakat yang itu sengaja atau tidak sengaja dibentuk, tidak menjadi penghalang bagi kebersamaan masyarakat jawa. Yang terpenting mereka perlu mengetahui etika dan kewajiban ditempat yang bersangkutan berada, seperti wajib mematuhi tata tertib, menghargai orang yang lebih tua dan lebih tinggi sekaligus menjaga hubungan sosial antar masyarakat agar tetap selaras, paling tidak disisi luarnya. Masyarakat Jawa memang sebisa mungkin selalu menghindari konflik terbuka, namun terlepas dari hal tersebut sering menimbulkan grundel (ngomong tentang kejelekan) orang lain dibelakang. Dari hal tersebut kita bisa mengamati betapa telatennya orang Jawa dalam mengelola batin mereka, agar tetap terlihat damai ketika berhadapan dengan orang lain. Ada benarnya juga tentang apa yang dikatakan oleh Mulder (2001: 84):
“batin yang kuat memungkinkan seseorang tidak terganggu oleh kejadian apapun di dunia fenomenal, dan membuat yang bersangkutan menjadi sabar. Ini membuat orang bisa menerima kehidupan seperti adanya dan menyesuaikan diri dengan kehidupan itu” Mulder menambahkan “inilah suatu latihan penajaman indera dan perasaan, yang membuahkan pengetahuan tentang kapan tibanya waktu yang tepat untuk bertindak; membuahkan perasaan yang selaras dengan kejadian-kejadian kosmis; menghasilkan upaya agar menjadi satu gerak dengan Prinsip Ketuhanan, atau Hidup, dan akhirnya berujung pada pencarian penyatuan diri dengan dengan asal dan tujuan, itulah menyadari kebenaran.”
            Berbicara tentang wayang, tanah jawa memang mempunyai ratusan warisan kebudayaan yang selalu bersangkut paut dengan kehidupan masyarakat. Salah satu contoh cerita pewayangan yang terkenal adalah Mahabharata dengan Bhagawat Gita. Dari lakon-lakon wayang disetiap cerita yang dibawakan oleh dalang, masyarakat jawa bisa menganalogikan mana yang baik dan benar, perasaan kasar dan alus, bahkan bisa menjadi pengalaman emosional subyektif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar