Afifatuz Zuraidah
Ketika membaca
artikel ini saya merasa seperti membaca dan memahami lebih dalam tentang diri
dan perwatakan saya. Hal ini sungguh sangat menyenangkan karena dari bacaan ini
saya lebih merasa uwes jowo (sudah jawa), karena melihat pada
kenyataanya saya dari keturunan jawa asli namun ketika sudah berada dalam
lingkungan luar, saya merasa kehilangan karakter orang jawa. Jika berbicara
tentang orang jawa, maka akan lebih menarik jika kita menyinggung tentang
dimensi-dimensi simbolik dan mistis kehidupan, meskipun dikatakan dalam artikel
ini bahwa orang jawa gemar berpikir post event, artinya setelah ada kejadian baru berani
menyatakan hasil amatan masing-masing. Namun menurut pengalaman saya, yang
notabennya saya lahir dan besar di desa didalam keluarga yang masih mempelajari
tentang kebatinan sampai sekarang, orang jawa semakin senang membicarakn
tentang hal-hal magis, sampai dengan wawasan religius yang kejawen
dengan siapapun yang menaruh minat atau bahkan orang asing. Bagi kebanyakan dari mereka, kebatinan atau
dimensi pusat kehidupan adalah sisi yang paling menarik: acap kali mereka
melihatnya sebagai inti sari kebudayaan mereka, (Mulder 2001:viii). Segala
sesuatu yang dibicarakan memang tidak semuanya dapat dibuktikan dalam wujud
yang nyata, namun bagi orang jawa hal tersebut memiliki pesona tersendiri
hingga sering kali orang jawa akan keasyikan mendiskusikan seperti makna
simbolik wayang yang didasarkan pada mitologi Mahabharata.
Kehidupan sosial dalam masyarakat Jawa tampaknya tidak menyisakan
banyak ruang bagi ekspresi individual. Orang Jawa sangat terkenal dengan rasa
toleransi yang tinggi dan gotong royong yang tanpa disadari sudah mendominasi
dalam cara kehidupan masyarakat Jawa, Sepi ing pamrih (tidak
mementingkan diri) rasanya sudah menjamur dalam diri masyarakat Jawa. Hal
tersebut membuat kehidupan sosial masyarakat Jawa lebih aman dari kekacauan,
meskipun pada dasarnya mereka juga mempunyai hierarki atau stratifikasi yang
hidup berbaur sehingga lebih mudah untuk berintegrasi. Sikap orang jawa yang
sebagian besar andhap asor (rendah hati), prasaja (bersahaja) dan
narima (mensyukuri hidup seperti adanya) bisa dijadikan sebagai salah
satu alasan kenapa kasta tidak bisa sejalan dengan kehidupan orang Jawa,
meskipun jika melihat pada sejarahnya masyarakat Jawa juga mendapatkan doktrin
dan praktik Hindu-Budha sebelum agama islam datang. Adanya stratifikasi ataupun
struktur masyarakat yang itu sengaja atau tidak sengaja dibentuk, tidak menjadi
penghalang bagi kebersamaan masyarakat jawa. Yang terpenting mereka perlu
mengetahui etika dan kewajiban ditempat yang bersangkutan berada, seperti wajib
mematuhi tata tertib, menghargai orang yang lebih tua dan lebih tinggi
sekaligus menjaga hubungan sosial antar masyarakat agar tetap selaras, paling
tidak disisi luarnya. Masyarakat Jawa memang sebisa mungkin selalu menghindari
konflik terbuka, namun terlepas dari hal tersebut sering menimbulkan grundel
(ngomong tentang kejelekan) orang lain dibelakang. Dari hal tersebut kita
bisa mengamati betapa telatennya orang Jawa dalam mengelola batin mereka, agar
tetap terlihat damai ketika berhadapan dengan orang lain. Ada benarnya juga
tentang apa yang dikatakan oleh Mulder (2001: 84):
“batin yang kuat memungkinkan seseorang tidak terganggu oleh
kejadian apapun di dunia fenomenal, dan membuat yang bersangkutan menjadi
sabar. Ini membuat orang bisa menerima kehidupan seperti adanya dan menyesuaikan
diri dengan kehidupan itu” Mulder menambahkan “inilah suatu latihan penajaman
indera dan perasaan, yang membuahkan pengetahuan tentang kapan tibanya waktu
yang tepat untuk bertindak; membuahkan perasaan yang selaras dengan
kejadian-kejadian kosmis; menghasilkan upaya agar menjadi satu gerak dengan
Prinsip Ketuhanan, atau Hidup, dan akhirnya berujung pada pencarian penyatuan
diri dengan dengan asal dan tujuan, itulah menyadari kebenaran.”
Berbicara tentang
wayang, tanah jawa memang mempunyai ratusan warisan kebudayaan yang selalu
bersangkut paut dengan kehidupan masyarakat. Salah satu contoh cerita
pewayangan yang terkenal adalah Mahabharata dengan Bhagawat Gita.
Dari lakon-lakon wayang disetiap cerita yang dibawakan oleh dalang, masyarakat
jawa bisa menganalogikan mana yang baik dan benar, perasaan kasar dan alus,
bahkan bisa menjadi pengalaman emosional subyektif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar